Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 85



" Kita antar Vino ya." ucapnya dengan ekspresi memohon.


" Nganter Vino, dia mau naik dimana. Tapi gue nggak bisa nolak Naura." batinnya.


" Yauda ayo." ucap Arga.


Arga sedikit menyesali keputusannya, karena kini Vino berada di antara ia dan Naura. Tetapi ia tidak bisa menolak permintaan dari Naura, dan kini ia sedikit tersiksa. Tetapi dengan mendengar suara Vino dan juga Naura, ia menjadi sangat bahagia.


Vino dan Naura terus saja berbincang, hingga tak terasa akhirnya mereka sampai di depan rumah keluarga Abyasya. Vino pun segera turun, dan tiba-tiba saja pak Aby keluar dari rumah.


" Nau." panggil pak Aby, dengan mengulurkan tangannya.


" Ayah." ucap Naura, kemudian ia langsung berlari menuju pelukan sang ayah.


" Kau tinggal dimana sayang, apakah kau bahagia disana?" tanya pak Aby dengan mengelus kepala Naura.


" Nau sekarang tinggal di tempat Tania ayah, dan Nau sangat senang disana. Bahkan kakak Tania, yang merupakan kakak ipar aku baik banget." jelasnya dengan tersenyum.


" Syukurlah kalau gitu, tapi kau tinggal dimana. Biar kalau ayah kangen, ayah bisa langsung menemui mu sayang." ucap pak Aby.


" Ayah kalau kangen sama Nau, ayah tinggal minta anterin kak Leo aja ya." ucapnya.


" Jadi Leo tau kau tinggal dimana?" tanyanya.


" Iya ayah, kebetulan kak Leo dan sahabat aku Tania pacaran." ucapnya dan pak Aby hanya mengangguk saja.


" Ya sudah kalau begitu, tapi sekarang masuk dulu ya." ucap pak Aby.


" Maaf ayah, sudah sore. Nau janji nanti hari minggu, Nau main kesini." ucapnya.


" Yauda deh, tapi beneran ya hari minggu datang. Ayah tunggu." ucap pak Aby dengan ekspresi sedih.


" Siap ayah, kalau Nau nggak datang. Ayah boleh marahi kak Arga, hehehe." ucapnya sambil tertawa.


" Loh kenapa aku yang kenak." ucapnya yang sedikit tidak terima.


" Karena kak Arga pacar kak Nau, jadi kak Arga yang harus dimarahi sama ayah." ucap Vino kemudian langsung masuk ke rumah.


Arga tidak bisa berkata-kata, ia hanya menggelengkan kepalanya. Sedangkan pak Aby dan Naura tertawa, dan Arga pun tersenyum melihat tawa dari Naura. Pak Aby yang memperhatikan itu, ia juga ikut bahagia karena disamping putrinya ada pemuda yang baik dan bisa dipercaya.


" Yauda sana, Arga ayah titip Naura ya." ucap pak Aby dengan tersenyum.


" Ayah ini lho." ucap Naura.


" Tenang aja ayah, Arga akan antarkan Naura sampai di depan pintu rumah kak Tirta." ucapnya dengan tersenyum.


" Dah ayah." ucapnya dengan naik ke motor Arga, kemudian motor pun langsung melaju.


Di sepanjang perjalanan Naura hanya diam saja, ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Arga yang penasaran, akhirnya ia pun memulai percakapan.


" Ara, kau kenapa?" tanyanya.


" Aku lagi sebel sama kak Arga." ucapnya dan membuat Arga kebingungan.


" Memangnya aku salah apa?" tanyanya yang penasaran.


" Ya pokoknya kakak salah." ucapnya.


" Hadu, aku salah apa ya. Malah uda ngambek lagi dia." batin Arga.


" Ara kalau aku salah, tolong kasih tau dong. Perasaan aku nggak ada salah, jangan ngambek." ucapnya, dan tidak mendapatkan respon apapun dari Naura.


Tidak terasa, akhirnya mereka sudah sampai di depan rumah Tirta. Naura tidak berbicara, ia langsung turun dan pergi masuk ke rumah.


" Hadu, aku salah apa ya." ucapnya.


" Yauda la, mending sekarang aku pulang dulu. Dan sepertinya aku harus konsultasi dengan Mama." ucapnya kemudian langsung melajukan motornya.


Naura masuk kedalam rumah dengan ekspresi tidak enak, bunda yang melihat Naura bertingkah aneh. Akhirnya bunda pun menemui Naura di kamarnya.


" Masuk aja, nggak dikunci." ucap Naura, dan pintu pun langsung terbuka.


" Eh bunda, ada apa ya?" tanyanya setelah melihat bunda yang mengetuk pintunya.


" Boleh bunda masuk?" tanya bunda.


" Tentu aja boleh Bun." ucapnya, dan bunda pun langsung masuk dan kini duduk disamping Naura.


" Kau kenapa sayang?" tanya bunda.


" Nggak apa-apa Bun." ucapnya.


" Kamu nggak usah bohong, tadi bunda lihat kamu murung. Cerita aja sama Bunda, insya allah bunda bisa bantu." ucap Bunda dengan mengelus kepala Naura.


Naura langsung meneteskan air matanya, Bunda yang melihat itu merasa heran dan tambah kebingungan.


" Kamu Kenapa nangis sayang?" tanya bunda.


" Bunda, tadi Ara main ke rumah. Ara sedih melihat ayah, sepertinya Ayah sangat merindukan Ara." ucapnya.


" Yang namanya seorang ayah, pasti ia akan sedih ketika berpisah dengan putrinya. Apalagi kau dengan ayahmu juga belum lama bertemu, ayahmu pasti selalu memikirkan mu." jelas bunda.


" Yang bunda bilang memang benar, tapi jujur saja aku nggak sanggup tinggal di sana. Mungkin bunda juga sudah dengar dari kak Desi." ucapnya masih dengan mata yang berkaca-kaca.


" Iya bunda sudah dengar, dan di sini adalah pilihan yang terbaik." ucap bunda.


" Makasih bunda." ucapnya dengan tersenyum.


" Tidak perlu berterima kasih, bagi bunda kau dan Tata sama. Kalian berdua adalah anak bunda, jadi bila ada yang menyakiti dirimu sampaikan saja pada bunda." ucap bunda, dan Naura langsung memeluk bunda.


" Ara menjadi merasa, bunda Ara masih ada. Makasih ya bunda." ucapnya.


" Enak ya, sekarang sudah ada pencuri Bunda ya." ucap Tania yang kini berdiri di depan pintu kamar Naura.


" Bukan begitu Ta, aku cuma…" ucapnya yang tiba-tiba saja terhenti.


" Santai aja kali Ra, aku cuma bercanda kok." ucapnya yang kini juga mendekat ke arah Ara.


" Syukurlah, kirain tadi kau marah." ucapnya.


" Ngapain aku marah, kau itu bukan hanya sahabatku. Tapi kini kau sudah menjadi saudaraku, dan itu artinya keluargaku adalah keluargamu." ucap Tania.


" Makasih Tata." ucapnya kemudian langsung memeluk Tania, dan tanpa terasa air matanya pun menetes.


" Jangan nangis dong, nanti baju mahal aku kena ingus." ucapnya.


" Ih uda keluar itu." ucap bunda.


" Ara lepaskan aku, jangan sampai dia menetes ke baju aku." ucapnya, tetapi Ara tidak mau melepaskan pelukannya.


" Nggak mau, Biarin aja netes." ucapnya.


" Aaaa tidak." ucap Tania.


Bunda dan Naura yang melihat tingkah Tania, mereka berdua pun tertawa dengan hebat. Naura pun langsung melepaskan pelukannya, dan kini Tania langsung berlari ke arah kaca. Iya ingin melihat apakah bajunya benar-benar ketetesan atau tidak, dan ternyata bajunya tidak tertetes.


" Syukurlah bajuku masih aman." ucapnya dengan menatap ke arah Naura.


" Apa mau marah sama Ara." ucap Bunda dengan menatap ke arah Tania.


" Ih bunda ini, aku seperti bukan anak bunda." ucapnya.


" Bukan gitu sayang, cuma kalau karena baju saja kau marah sama Ara. Berarti kau sudah sangat kelewatan, dan bunda pasti akan membela yang menurut bunda harus di bela. Lagian baju bisa di beli lagi." jelas bunda.