Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 27



Lusi pun akhirnya pergi meninggalkan ruangan BK itu, Dan kini ia berjalan menuju kelasnya. Tama yang sudah pergi menghilang dari tadi, iya tidak dapat melihatnya kembali. Sebenarnya ia sangat ingin mengkonfirmasi tentang kabar kedekatannya dengan tama yang disebarkan oleh opname yang tidak bertanggung jawab.


Kabar itu kini telah menyebar ke seluruh penjuru sekolah, hal yang ditakuti bukan hanya para fansnya yang akan menghilang. Namun, juga saat ia diserang oleh para fans dari Tama.


Walaupun tamat termasuk anak yang bandel, tapi sebenarnya prestasi taman di bidang olahraga juga sangat melejit. Terutama prestasinya di bidang basket, sungguh sangat membanggakan bagi sekolah.


Oleh sebab itu Tama memiliki banyak fans, dan para fans itu terdiri dari para siswa dari berbagai kelas di sekolah ini. Para siswa itu akan dengan sukarela hadir di dalam turnamen ataupun latihan Tama. Walaupun kamu merasa risih dengan kehadiran mereka, Tama juga merasa senang karena ada yang mendukungnya.


Lusi pun akhirnya kembali ke dalam ruangan kelas, belum sampai iya dalam kelas. iya sudah dihentikan oleh Bayu dan juga teman-temannya.


" lo jadi kan kenalkan kita dengan Tania?" tanya bayu yang sudah tidak sabar.


" Jadi lo kalian tenang aja, kan nanti pulang sekolah. ini masih jam sekolah dan bentar lagi juga guru kelas kita kan masuk." jelasnya secara singkat kemudian langsung melenggangkan kakinya menuju mejanya.


Tidak lama setelah Lusi duduk, Bu Winda pun datang. hari ini adalah jam pelajaran Bu yaitu jam pelajaran matematika, pelajaran yang paling tidak disukai oleh Lusi.


Tama yang saat ini sedang memperhatikan Lusi, Ia pun akhirnya duduk di sebelah lusi. Dan berinisiatif untuk mengajari Lusi. Awalnya Lusi berasa heran. Namun, kini tidak ada waktu untuk dia merasa heran. Karena bila ia tidak selesai maka ia tidak akan bisa keluar dari kelas tersebut, itulah aturan yang diberikan oleh Bu Winda.


Tama dan Lusi menjadi perhatian seisi ruangan itu, sikap Tama yang cuek ini berubah 160 derajat menjadi sangat lembut kepada Lusi. semua yang berada di ruang itu bertanya-tanya apakah itu benar dan Tama atau kau bukan.


Tama yang berada di depan mereka saat ini, sungguh sangat berbeda dengan Tama yang biasa mereka kenal. Dengan sikap Tama saat ini, mereka semakin meyakini kabar yang beredar di forum sekolah adalah kebenaran.


Awalnya mereka semua mengira, kalau berita tentang hubungan Tama dan Lusi hanyalah tipu belakang. Karena mereka mengetahui hubungan keduanya yang tak pernah akur, kini mereka semua seperti tersambar petir. Dan merasa sangat bahagia melihat interaksi keduanya.


Mereka berdua mengerjakan dengan sangat serius, bahkan mereka tidak menyadari bahwa mereka berdua menjadi pusat perhatian seisi ruangan itu. Bu Winda juga sempat kaget melihat interaksi keduanya. Namun, ia justru merasa senang. Dan ia berharap hubungan keduanya akan tetap seperti itu hingga masa sekolah berakhir.


Akhirnya Lusi dan Tama berhasil menyelesaikan soal-soal yang diberikan Bu Winda. Mereka pun segera mengumpulkan buku mereka, mereka akhirnya duduk sambil bersantai di kelas dan menunggu teman-temannya selesai. Tidak terasa bell pun berbunyi.


Tama dan Lusi karena sudah selesai, mereka berdua akhirnya pergi duluan meninggalkan teman-temannya di kelas. Tama dan Lusi menunggu Bayu dan juga teman-temannya di parkiran sekolah.


Kurang lebih selama 15 menit, Bayu dan teman-temannya pun keluar dari kelas. tak tahu memang jodoh atau apa, tiba-tiba saja Tania dan juga Naura saat ini muncul di hadapan mereka.


Bayu menyenggol Lusi, ia memberi kode kedatangan Tania dan juga Naura. Lusi pun akhirnya menghampiri kedua wanita itu, Naura dan Tania merasa heran karena Lusi tiba-tiba saja menghampiri mereka.


" Hai Tania." sapanya dan membuat merasa heran.


" Hai Kak Lusi, ada apa ya Kak?" tanyanya yang merasa sangat penasaran.


Tania dan Naura pun saling memandang, mereka merasa heran dengan tingkah Kakak tingkatnya ini. Dan mereka juga menatap ke arah ketiga orang pemuda yang berada di belakang kakak tingkat ini. Mereka berdua semakin penasaran apa sebenarnya niat Lusi untuk menemuinya.


" Yakin Kak?" tanya Naura yang menatap ke arah Bayu.


" Sebenarnya gue ingin kenalin mereka bertiga dengan kalian sih, tapi itu sih kalau kalian yang mau." jawabnya dengan penuh pertimbangan.


" Itu kan, Kakak yang dihukum sama Pak Doni tadi." batin Tania dengan menatap 3 orang pemuda itu.


" Oh mau kenalan, kalau gitu sini aja Kak. kami pun nggak masalah kok Kak, lagian kamu juga senang bakal ada orang yang disebut dengan mirjain tugas. hehehe." jelas Tania dan mendapat senyuman dari Lusi.


Lusi pun akhirnya memberi kode kepada ketiga orang temannya, ketiganya langsung maju untuk menghampiri Lusi yang sedang bersama dengan Naura dan Tania.


" Tania, Naura, kenalin ini teman aku. Yang ini namanya Bayu, yang ini namanya Tama, dan yang ini namanya Yuda." jelas lu sih dan ditanggapi dengan anggukan oleh Tania dan juga Naura.


Mereka pun akhirnya bersalaman dengan Tania dan juga Naura, wajah mereka merah seperti tomat. Sangat tampak jelas kalau mereka sedang jatuh hati kepada dua orang sahabat ini. Namun, dari ketiganya Tama tampak cuek saja, iya tidak peduli dengan Naura dan juga Tania.


Naura dan Tania menatap ke arah Tama, Mereka melihat wajah Tama yang ditekuk ketika melihat mereka berdua. Mereka berdua menjadi sangat kesal kepada Tama, dan rasanya ingin segera pergi dari hadapan ketiga orang yang ada di depannya saat ini.


Bayu dan juga Yuda, yang menyadari tatapan Naura dan Dani yang mengarah kepada Tama. Mereka pun menyenggol Tama agar tamat tersenyum. Namun, Tama tak juga tersenyum dan mereka sudah merasa capek.


Lusi pun akhirnya merangkul Tama, kemudian ia berbisik di telinga tanah. " jangan ngambek dong, please ini yang pertama dan terakhir. Lo nggak kasihan apa sama Yuda dan juga Bayu." bisiknya.


Setelah mendengar bisikan dari Lusi, Tama akhirnya pun tersenyum.


" Yang pacaran tolong dong, di sini masih ada yang jomblo." Ucap Bayu yang menatap ke arah mata Tama dan juga Lusi.


" Siapa yang pacaran?" ucap Lusi yang kaget dan menatap ke arah Bayu.


Tama yang mendengar kalau dia di bilang sedang pacaran dengan Lusi, senyum pun terlukis di wajahnya. Namun, ia tidak tau harus bagaimana mengucapkannya kepada Lusi.


" Ya, kalian la. Memang siapa lagi." ucapnya dengan mengerdikkan bahu.


" Kami ng..." ucap Lusi tiba-tiba terhenti karena kaget, karena tiba-tiba saja tangan Tama memeluknya.