Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 109



" Aku menemukan luka di bagian kepalanya, dan kemungkinan besar dia pernah mengalami cidera otak." jelas dokter tersebut dan membuat bu Winda kaget.


" Yang benar, memang sih tadi dia sempat memegang kepalanya. Sepertinya kita harus segera konfirmasi ke keluarganya." jelas bu Winda.


" Iya kau harus segera konfirmasi ke orang tuanya, agar kita bisa membantu untuk pencegahan. Takutnya bila terjadi apa-apa dengannya, pastinya kita pihak sekolah yang akan kena masalah." jelas dokter tersebut dan Bu Winda pun mengangguk.


" Kalau begitu aku pergi untuk menelepon kedua orang tuanya terlebih dahulu, kau jaga dia di sini ya. Sampai orang tuanya datang untuk menjemput." jelas bu Winda dan dokter itu pun mengangguk.


Saat Bu Winda ingin keluar dari ruangan tersebut, tiba-tiba saja Rasya tersadar. Keduanya pun langsung menghampiri Rasya, mereka menanyakan keadaan Rasya.


" Bagaimana keadaanmu Rasya?" tanya Bu Winda yang kini di hadapan Rasya.


" Saya baik-baik saja Bu, tapi ini saya di mana ya Bu?" tanya Rasya dengan memegang kepalanya yang pusing.


" Kau ada di UKS Rasya, kebetulan tadi kamu pingsan ya jam pelajaran saya." jawab Bu Winda.


" Maaf ya bu jadi ngerepotin." ucapnya yang merasa bersalah.


" Tidak apa-apa Rasya." ucap Bu Winda dengan tersenyum.


" Rasya, Ibu boleh tanya-tanya sedikit tidak?" tanya dokter tersebut.


" Mau tanya apa ya Bu?" tanyanya yang penasaran.


" Apakah kamu pernah mengalami kecelakaan?" tanya dokter itu.


" Iya Bu, saya memang pernah mengalami kecelakaan. Dan dari kecelakaan tersebut, saya dinyatakan mengalami amnesia. Dan jujur saja, sampai saat ini saya masih tidak yakin kalau saya adalah Rasya." jelasnya dan membuat kedua orang itu bingung.


" Kecelakaan mau sangat parah berarti ya, tapi saya masih sangat heran. Mengapa kamu bilang kamu tidak yakin kalau kamu adalah Rasya?" tanya dokter itu yang jujur merasa kebingungan.


" Ya karena saya merasa kalau saya bukan Rasya, dan apalagi beberapa hari ini saya selalu melihat bayangan. Tetapi bayangan itu tidak ada menyebut nama Rasya, hanya satu nama yang selalu keluar dari bayangan itu." jelasnya dan membuat keduanya menjadi penasaran.


" Memangnya nama siapa yang keluar dari bayangan itu?" tanya dokter itu.


" Namanya Alana dok, dan jujur saja saya merasa tidak asing dengan nama itu. Tetapi saya tidak mengetahui siapa itu Alana, dan pa hubungan Alana dengan Rasya. Tetapi nama itu selalu terdiam di dalam kepala saya, dan ketika saya mengingat nama itu kepala saya selalu saja pusing." jelasnya dan dokter itu pun mengangguk.


" Saya bisa membantu kamu, tapi saya tidak bisa memastikan Siapa itu Alana. Saya hanya akan memberikan dua klu, yang pertama Alana itu adalah orang yang paling berharga untuk dirimu. Dan yang kedua Alana adalah dirimu sendiri, hanya itu yang bisa saya berikan. Hanya kau yang bisa mengetahui siapa Alana, dan tidak satupun dari orang-orang di sekitar ini yang mengetahui itu selain dirimu. Kau pastinya sangat mengenal nama itu, tetapi kau telah mengunci nama itu dibawa alam bawah sadarmu." jelas dokter tersebut.


" Jadi saya harus berusaha sendiri ya dok, tetapi bila saya tidak menemukannya bagaimana?" tanya Rasya.


" Iya kau harus menemukannya, karena kunci dari semuanya tersimpan di bawah alam bawah sadarmu." jelas dokter tersebut.


" Yang dikatakan oleh dokter ini benar, kalau kamu memerlukan bantuan psikolog. Ibu bisa menemanimu untuk bertemu dengan psikolog, karena yang biasanya berhubungan untuk menimbulkan dan menutup suatu hal dan menyimpannya di alam bawah sadar itu adalah psikolog." jelas bu Winda.


" Saya akan memikirkannya terlebih dahulu, bila saya memang tidak menemukan jalan keluarnya. Maka saya akan merepotkan Bu Winda, untuk menemani saya bertemu dengan psikolog tersebut." jelas Rasya.


" Terima kasih Bu, kalau begitu bolehkah saya kembali ke kelas?" tanya Rasya kepada keduanya.


" Kalau begitu silakan, kami tidak akan menghalangi." jawab Bu Winda dengan tersenyum.


Rasya pun segera kembali ke kelasnya, kini semua teman-temannya memandang ke arahnya. Mereka sangat khawatir dengan Rasya, mereka tadinya sangat terkejut karena Rasya pingsan. Perlahan satu persatu dari mereka mulai mengerubungi Rasya, karena mereka sangat khawatir.


" Bagaimana keadaanmu?" tanya Tania.


" Aku baik-baik saja, aku hanya kecapean saja." jawabnya dan membuat Naura dan Tania saling menatap.


" Alhamdulillah kalau kamu baik-baik saja, Kalau begitu kamu harus banyak istirahat." ucap Naura dengan tersenyum.


" Benar itu yang dikatakan oleh Naura, kau harus banyak istirahat. Kami sangat khawatir denganmu, ya walaupun kami bahagia. Karena kau sempat menghentikan jam pembelajaran, dan membuat Bu Winda keluar dari kelas." ucap salah satu siswi.


" Kau ini kebiasaan ya, seneng banget kalau nggak belajar." ucap Tania dengan menggelengkan kepalanya.


" Tentu aja senang dong, tapi untuk kali ini aku tidak senang. Karena pembelajaran berhenti sebab salah satu teman kita pingsan, sungguh itu membuat jantung berdebar-debar." jelasnya yang memang khawatir.


" Syukur deh kau masih punya hati, kirain tadi hatimu udah tertutup." ucapannya dan hal itu hampir memancing pertengkaran antara mereka.


" Apa kau bilang tadi, kau mau ribut denganku." ucap siswi tersebut yang sudah naik emosinya.


" Aku kan hanya mengatakan fakta saja." ucapannya dan siswi itu semakin naik emosinya.


" Sudah-sudah, Rasya baru kembali loh. Masa kalian langsung bertengkar, biarkan dia untuk tenang." jelas Naura.


" Iya deh maaf." ucap Tania.


" Minta maafnya kok ke aku, ya kalian maaf-maafan lah." ucap Naura dengan menatap keduanya secara bergantian.


Keduanya pun akhirnya berjabat tangan, kemudian mereka saling meminta maaf. Setelah suasana yang hampir itu tadi berhenti, bel istirahat pun berbunyi. Kini banyak dari mereka yang terjun ke kantin, tetapi ada juga yang masih tetap mengerjakan tugas.


Naura dan Tania kini menghampiri Rasya, Iya pun ingin menanyakan tentang apa yang terjadi tadi. Tetapi mereka masih enggan untuk bertanya, dan akhirnya mereka duduk saling menatap.


" Kalian kenapa?" tanya Rasya yang merasa kalau keduanya aneh.


" Kami nggak apa-apa kok." jawab Tania.


" Kalian berdua yakin?" tanya Rasya untuk memastikan.


" Iya kami yakin, jadi kau tenang saja ya." ucap Naura dengan tersenyum.


Kini Rasya dan Naura kembali kemeja mereka, karena mereka sudah sangat bingung harus berkata apa. Akhirnya mereka memilih diam, dan kemudian mereka pun mengerjakan tugas yang diberikan oleh Bu Winda. Keduanya mengerjakan tugas sambil tertawa, siswa yang lain juga ikut tertawa mendengar lelucon keduanya. Begitu juga dengan Rasya, ia pun mulai merasakan kedekatan dengan mereka.