
" Iya ayo, kebetulan aku juga sudah lapar." ucap Tania.
" Hai, kenalin aku Rasya." ucapnya dengan memberikan tangannya untuk berjabat tangan.
" Hai juga Rasya, kenalin aku Tania. dan ini sahabat aku Naura." ucap Tania dan Naura pun melambaikan tangannya.
" Oh jadi kalian Tania dan Naura, senang deh bisa kenal sama kalian. Oh iya tadi aku dengar kalian mau ke kantin ya, aku boleh ikut nggak?" ucap Rasya dengan selembut mungkin.
" Tentu aja boleh dong, ya kan Ra." ucapannya dengan menyenggol bahu Naura.
" Eh iya boleh kok." jawab Naura.
" Ara kamu masih kepikiran?" tanya Tania dan jiwa penasaran Rasya pun semakin menggebu-gebuk.
" Nggak kok Ta, aku nggak apa-apa." jawabnya dengan lesu.
" Ara, jangan bohong sama aku." ucap Tania.
" Iya deh aku jujur, aku memang sedang memikirkan sesuatu. tapi bukan hal tentang itu, ada hal lain yang sedang ku pikirkan." ucap Naura.
" Apa itu Ra?" tanya Tania yang penasaran.
" Maaf Ta, untuk saat ini aku belum bisa cerita." ucap Naura.
" Ya udah nggak apa-apa, kalau gitu sekarang kita ke kantin yuk. Pasti kau sudah sangat lapar." ucap Tania kemudian menarik Rasya dan juga Naura menuju kantin.
" Sih Naura ini mikirin apa sih, buat aku jadi penasaran aja." batin Rasya.
Mereka pun akhirnya tiba di kantin, dan mereka langsung mencari tempat duduk kosong. Tidak lama setelah itu ibu kantin pun datang untuk menawarkan menu.
" Halo non Ara dan nom Tata." ucap ibu kantin.
" Halo juga Bu."jawab keduanya serentak.
" Non berdua pasti mesan makanan biasa." tebak ibu kantin.
" Iya bener bu, tapi tolong cepat ya. kami udah sangat lapar." ucap Tania dengan ekspresi sedih.
" Oke, aman itu. Tapi ini siapa ya non?" tanya ibu kantin dengan menunjuk Rasya.
" Oh ini namanya Rasya Bu, dia anak baru di kelas kami." jawab Tania.
" Oh anak baru, kalau begitu mau pesan apa?" tanya ibu kantin.
" Saya nggak tahu Bu mau pesan apa, samain sama mereka aja deh." ucap Rasya.
" Oke kalau begitu, ditunggu ya makanannya." ucap ibu kantin kemudian langsung pergi.
Tiba-tiba saja ada dua orang pemuda yang menghampiri mereka, Naura yang tampaknya sedang memikirkan sesuatu tidak memperhatikan Siapa yang hadir. Tania merasa heran dengan kedua orang pemuda yang menghampirinya, ia pun mulai menanyakan niat pemuda tersebut.
" Maaf, Kalau boleh tahu ada apa ya kalian ke sini?" tanya Tania yang penasaran.
" Aku temennya Ara." ucapan muda itu dan Ara pun langsung menoleh.
" Eh Natan, kamu kenapa bisa di sini?" tanya Naura yang heran.
" Beberapa hari yang lalu aku pindah ke sini." jawab Natan.
" Loh iya nya, tapi kita kok nggak pernah ketemu." ucap Naura.
" Aku pun juga kaget, ternyata kau sekolah di sini. Kalau aku tahu kau sekolah di sini, dari awal aku akan mencarimu." ucap Natan.
" Udahlah, yang penting sekarang kita udah ketemu." ucap Naura.
" Ara dia siapa?" tanya Tania.
" Oh ini namanya Natan, dia ini teman aku di sekolah sebelumnya." jelas Naura.
" Ya begitulah, apalagi dia sama sepertiku. Sangat menyukai kue buatan bunda." ucap Naura.
" Wah, kalau begitu pantas saja. Ternyata Natan dekat dengan bunda mu." ucap Tania.
" Atau jangan-jangan kalian pacaran ya?" tanya Rasya.
" Dasar cewek ganjen." batin Rasya.
" Nggak ah, aku dan Ara nggak pacaran." ucap Natan.
" Bohong, diantara pertemanan cewek dan cowok nggak ada rasa." ucap Rasya.
" Tapi beneran, aku dan Ara nggak ada hubungan. Lagian aku yakin Ara pasti bisa mendapatkan cowok yang lebih dari ku." ucap Natan.
" Maksud kamu gimana?" tanya Rasya yang tambah penasaran.
" Ara ini cewek baik, cantik, dan pintar. Aku yakin banyak orang yang suka sama dia, dan aku yang biasa aja ini apa daya." jelas Natan.
" Apaan sih kau Natan, aku nggak seperti itu. Dan siapa bilang kau biasa aja, aku tiba-tiba teringat waktu kita masih sekolah bareng deh. Banyak banget cewek yang nitip surat buat mu padaku, dan jujur hal itu membuat aku pusing." jelas Naura, dan semuanya tertawa kecuali Rasya.
" Apaan sih mereka, cewek ganjen kayak gini kok disukai." batin Rasya.
" Guys aku izin ke toilet dulu ya." ucap Rasya, dan semuanya pun mengangguk.
" Aku rasa sih Rasya ini lagi cari sensasi deh." ucap Tania dan di angguki oleh Natan dan juga Arya.
" Kenapa, kau tidak merasakannya?" tanya Natan, dan Naura hanya menggelengkan kepalanya saja.
" Kau ini ya, dari dulu memang nggak pekaan." ucap Natan dengan menggelengkan kepalanya.
" Ya maaf, habis pikiranku lagi nggak ke sana." jawab Naura.
" Memang kau kenapa, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya tanya yang penasaran.
" Ada beberapa hal yang sedang aku pikirkan, yang pertama yaitu tentang kondisi kakek Lukman. Yang kedua tentang kelanjutan hubunganku dengan Arga, nah yang ketiga aku juga sudah memikirkan tingkah anak baru yang aneh. Dan seperti yang kau bilang tadi aku jadi tambah curiga deh, kalau sebenarnya kepindahannya ke sekolah ini ada tujuan yang ingin Ia capai." jelas Naura dan semuanya pun mulai memikirkan hal itu.
" Siapa itu kakek Lukman?" tanya Tania yang memang tidak mengetahuinya.
" Kakek Lukman itu kakekku." jawab Natan.
" Memang kakekmu kenapa?" tanya Arya yang juga kini penasaran.
" Penyakit jantung kakiku kumat." ucap Natan.
" Maaf Tan, aku nggak tahu. kapan kumatnya?" tanya aja dengan ekspresi panik.
" Kebetulan semalam kumatnya, tapi syukur alhamdulillah nya udah ditangani sama dokter profesional." ucap Natan dengan tersenyum.
" Wah main pakai dokter profesional aja, tapi kalau boleh tahu nama dokter itu siapa ya?" tanya Arya yang sangat penasaran.
" Namanya dokter Veri." jawab Natan.
" Apa, aku nggak salah dengar. Kan harus buat janji dulu jauh-jauh hari sebelum kita bisa ditangani sama dokter Veri, sepertinya keluargamu orang hebat." ucap Arya yang kaget.
" Nggak ah, kebetulan semalam nggak sengaja ketemu sama anaknya dokter Veri. dan ternyata anaknya dokter Veri itu sahabatnya Naura, begitu Naura mendengar kalau kakekku penyakit jantungnya kambuh. Ia langsung ngomong aja sama temennya, dan alhasil kakekku ditangani sama dokter Veri." jelas Natan dan kini semuanya memandang karena orang.
" Ara bener yang dibilang?" tanya Tania yang penasaran.
" Iya benar yang dibilang sama Natan, anak dokter Veri itu sahabat aku." jawab Naura.
" Kalau boleh tahu siapa anak dokter Veri?" tanya-tanya yang masih penasaran.
" Kan semalam kau sudah bertemu dengan anaknya dokter Veri." ucap Naura dan Tania pun bingung dengan siapa yang dimaksud.