
'' Paman ini, dari tadi buat sebel aja.'' ucap Naura dengan memanyunkan bibirnya kembali.
'' Terus aja manyun, nanti paman ikat tu bibir. Biar nggak bisa ngomong.'' ucap Sandy dengan mengambil karet gelang dari kantung celananya.
'' Ih paman, dari dulu nggak berubah. Selalu aja bawak itu, Ara kan jadi takut.'' ucapnya dengan bersembunyi di belakang Arga.
Arga tersenyum dengan sangat lebar melihat tingkah Naura, Naura yang tidak pernah bertingkah seperti anak-anak. Hari ini bertingkah seperti anak-anak di depan orang yang memang benar-benar ya sayang, dan sungguh adalah kebahagiaan terbesar bagi Arga. Karena ia bisa melihat tingkah Naura yang sangat langka itu, dan bahkan tidak semua orang bisa melihatnya terutama keluarganya sendiri.
'' Gitu ya udah punya ayang, sekarang berlindungnya di belakang ayang. Gak mau lagi berlindung sama paman.'' ucap Sandy dengan ekspresi sedih.
'' Uda nggak usah sedih, memang gitu kalau uda punya ayang kita dilupain.'' ucap Ayah dengan memeluk Sandy.
'' Apaan sih, Ayah sama paman sama aja. Lebai tau nggak.'' ucap Naura kemudian pergi meninggalkan mereka.
'' Eh mau ke mana?'' tanya ayah yang penasaran.
'' Udahlah Bagas, biarin aja, biasalah si Naura lagi ngambek.'' ucap sandi yang membuat semuanya terheran, terutama Arga, Leo dan kedua temannya yang baru saja sampai.
'' Apa Naura ngambek?'' teriak Leo beserta kedua temannya.
Mendengar teriakan ketiganya, sontak semua yang berada di ruangan itu kaget. Mereka tidak mengetahui kalau Leo dan juga kedua temannya sempat mendengar percakapan mereka, dan tingkah Naura justru membuat ketiganya berteriak.
'' Leo, Farel, Irfan. Kalian apa-apaan sih teriak-teriak.'' bentak ayah.
'' Maaf Ayah, nggak nyangka aja.'' ucap Leo dengan lembut.
'' Nggak nyangka apa?'' tanya ayah dengan nada tinggi.
'' Itu Ayah, itu lho ayah.'' ucapnya yang masih bingung.
'' Ngomong yang jelas leo, jangan buat orang penasaran.'' jawab sang ayah dan kini Leo masih memikirkan perkataan yang tepat.
'' Si Naura ayah, Kakak cuma nggak nyangka aja kalau ternyata dia bisa ngambek.'' kecap Leo memberanikan diri.
Mendengar perkataan dari Leo, Sandy pun tertawa dengan sangat kuat. Ia yang sudah terbiasa dengan singkat Naura yang manja dan ngambek Itu, menjadi penasaran seperti apa sikap keponakan kesayangannya itu di rumah Bagas. Sebenarnya ia sudah ingin membawa keponakannya sejak kepergian sang ayah, tetapi pada saat kepergian sang ayah ia tidak bisa kembali. Bukan karena apa tetapi ia tidak bisa kembali dikarenakan situasi, apalagi pada saat itu masih marak-maraknya masa pandemi.
Setelah mengurus berkas-berkas yang cukup sulit dan rumit, akhirnya ia bisa pulang ke tanah air Indonesia. Dan ia berniat untuk membawa keponakan kesayangannya itu, untuk tinggal bersamanya Dan juga keluarganya di Mila. Tetapi ia masih tidak ingin memaksakan keponakannya, apalagi Kini sang keponakan telah memiliki kekasih. Pastinya akan sulit untuk membawanya pergi, dan itu juga yang kini sedang ada dalam pikirannya.
'' Bagas, anak samamu ini lucu juga.'' ucap Sandy.
'' Lucu, lucu dari mananya dia itu lebih garang dari gue.'' ucap Bagas dengan nada tegas.
'' Oh ya, jadi penasaran deh aku. Kira-kira cara apa yang digunakan ni anak satu, untuk si kecil kesayangan aku.''ucap Sandy dengan nada sinis dan melirik ke arah Leo.
Dalam seketika Leo merasa ketakutan, Ia tidak pernah merasa setakut ini sebelumnya. Ini adalah momen pertama yang membuatnya merasa merinding, Ia tambah penasaran seperti apa sosok Sandy yang ada di hadapannya ini. Sosok yang terlihat tegas namun menyeramkan ini.
Kedua temannya yang mengetahui kalau Leo memiliki sikap yang tegas dan cuek, kini mereka merasa heran. Dengan melihat interaksi dari Leo saja, mereka berdua sudah ketakutan. Mereka jadi kepikiran, bagaimana nantinya kalau Paman dari Naura itu sampai menghukum Leo. Dan takutnya mereka berdua akan terkena sangkut paut, karena Mereka berdua adalah sahabat dari Leo.
'' Hahaha, mereka lucu sekali.'' ucap Sandy sambil tertawa.
'' Kamu San, mereka jadi ketakutan itu. Eh kamu justru tertawa.'' ucap ayah.
Ibu Febri yang dari sejak tadi sudah menjadi obat nyamuk, ia akhirnya geram juga. Dan kini ia memutuskan untuk pergi, karena sejak tadi memang dia tidak di ajak berbicara. Sang suami masih sibuk bersama teman yang merupakan saudara kembar dari mantan istrinya itu. Dan sang anak tiri justru bertingkah seperti anak kecil, sangat jauh berbeda dengan hari biasanya.
'' Mau kemana Mi?'' tanya ayah.
'' Mau ke kamar.'' ucap Bu Febri kemudian langsung meninggalkan ruang tamu.
'' Tidak sopan sekali dia, sangat jauh berbeda dengan Tiara. Tapi ya sudahlah, lagian aku pun nggak ada niatan buat kenal dia. Aku kesini juga karena mau jemput keponakan ku Si Ara, kalau bukan karena Ara aku juga malas.'' batin pak Sandy.
'' Mami ini, ada tamu pun padahal. Ya walaupun nggak suka, jangan gitu juga. Mau bagaimanapun om ini itu omnya Naura, jadi kalau dia datang ya wajar.'' batin Leo.
'' Bagas, kalau nggak salah tadi Ara pergi ke arah taman ya?'' tanya Sandi.
'' Iya benar, kenapa mau nyusul ya?'' tanya Bagas.
'' Iya, aku mau bicarain yang ku bilang di telpon dengan mu itu.'' ucap Sandy.
'' Memang harus sekarang ya, nggak bisa nanti aja?'' tanya pak Bagas dengan ekspresi takut, ia takut kalau Naura akan meninggalkannya.
'' Mangkin cepat, mangkin baik. Jadi kita bisa ambil keputusan.'' ucap pak Sandy yang sudah malas untuk bertemu dengan istri dari pak Bagas.
'' Yauda, silakan kalau begitu.'' ucapnya mempersilahkan.
Pak Sandy pun langsung pergi ke arah taman, Leo, Arga, Farel, dan Irfan langsung mendekati pak Bagas. Mereka ingin mencari tau, apa tujuan pak Sandy datang. Dan sepertinya ingin membicarakan hal serius, semua itu tampak terlihat di wajah pak Bagas.
'' Ayah, sebenarnya kenapa om Sandy datang?'' tanya Leo.
'' Sebenarnya ia ingin membawa Naura untuk tinggal bersamanya.'' ucapnya dengan lemah seperti ingin menangis.
Mendengar ucapan Pak Bagas, sontak semuanya kaget. Terutama Arga, Ia merasa takut kehilangan Naura. Ia yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta, kini merasa tersakiti. Jujur saja ia tidak sanggup bila hidup tanpa keberadaan Naura, dan perkataan Pak Bagas terus menyiang-ngiang di dalam ingatannya.
Sontak ada yang panik, Iya langsung berlari ke arah taman. Ia melihat Naura yang pengamen air mata, ia sebenarnya ingin menemui Naura. Tetapi ia tidak berani, karena kemunculannya pasti akan mengganggu percakapan antara Naura dan pamannya.
'' Paman, boleh tidak Naura tetap tinggal di Indonesia?'' tanyanya dengan ekspresi sedih.
Kira-kira Naura boleh tidak ya tinggal di Indonesia, ikuti Terus kelanjutannya untuk tau ceritanya. Pasti penasaran kan, jangan lupa like, share, comment, dan subscribe.