Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 55



'' Kasih dulu Paman alasan yang logis!'' perintah paman.


Naura tampak terdiam, ia tidak tau harus memberi alasan apa kepada pamannya. Arga yang melihat situasi itu, ia pun segera berlari ke hadapan pamannya. Tanpa basa-basi ia langsung mengutarakan isi hatinya, dan jujur sang Paman dan Naura kaget. Tetapi dibalik kagetnya Naura juga merasa bahagia, ternyata Arga juga menyukainya. Awalnya dia mengira Arga hanya main-main saja, tetapi kini anggapannya telah berubah.


Rasa bahagia menyertai dirinya, kini pamannya mengetahui. Apa yang sejak tadi ada dalam pikiran keponakannya itu, dan pamannya berusaha untuk mengerti.


'' Sekarang Paman tau, apa yang membuatmu enggan meninggalkan Indonesia.'' ucapan dengan menatap kedua orang itu. Keduanya tidak menjawab apapun, mereka berdua hanya saling pandang dan tersenyum.


'' Baik Paman akan izinkan kamu untuk tetap tinggal di Indonesia, tapi Paman tidak ingin kamu tinggal di sini.'' ucapan dan paman, dan membuat Naura bingung.


'' Kalau gitu Naura tinggal di mana paman, lagi Naura betah di sini kok.'' ucapnya meyakinkan pamannya.


'' Kamu nggak usah bohong Ara, ibu tirimu tidak menyukaimu. Paman sudah bisa menebaknya, dari sorot matanya saja tampak yang membencimu. Jadi Paman mohon, kamu pindah dari rumah ini ya.'' ucap simpanan dengan lembut, tanpa sadar Naura meneteskan air matanya.


'' Baiklah paman, tapi Ara mau tinggal di mana?'' tanyanya yang memang tidak tahu apa-apa.


'' Di rumah anak peman, kakak sepupu Desi.'' ucap sang Paman.


'' Tapi, itu kan rumah suaminya Kak Desi. Ara nggak enak paman, nanti Ara gangguin lagi dan malah jadi beban.''ucapnya yang memang tidak ingin merepotkan.


'' Kamu tenang aja, lagian di rumah kakak kamu itu juga ada adik iparnya. Dan Kalau tidak salah dia juga satu sekolah denganmu, namanya Tania.''ucapan dan membuat Naura teringat dengan Tania.


'' Eh tunggu paman, kakak ipar Tania itu anak paman. Aku kira anaknya tante Diana, hehehe.'' ucapnya dengan tertawa.


'' Yang anaknya tante kamu si Diana, itu Della. dan si Della, sekarang tinggal di los angeles.'' jelah sang paman.


'' Kalau gitu Ara salah dong, maaf deh paman.'' pacarnya dengan merasa bersalah.


'' Dasar kamu, Ya udah nggak apa-apa. kalau gitu sekarang kamu packing, kamu ke rumah Desi.'' perintah sang paman.


Arga yang mendengar kalau Naura tidak jadi ikut sang Paman pindah, Ia merasa sangat bahagia. Walaupun Naura tidak tinggal lagi di rumah ini, tetapi Naura masih tetap tinggal di Indonesia. Dan bahkan Naura akan memiliki tempat paling aman, akan tinggal bersama kakak sepupunya dan juga sahabatnya.


'' Oke Paman Ara packing dulu.'' ucapnya dengan tersenyum kemudian berlari menuju kamarnya.


'' Kamu semalam sekarang, keponakan saya tidak jadi ikut saya. Tapi dia tinggal bersama anak saya, dan mungkin kamu juga sudah tahu rumahnya.'' tanya sang paman.


'' Iya paman saya senang, bahkan mungkin orang akan merasa lebih aman. Dia tidak akan cemas ketika pulang terlambat, dan tidak akan cemas tidak diberi makan...'' ucapin Arga yang tiba-tiba terhenti dan menutup mulutnya karena ia keceplosan.


Arga tersenyum dengan sangat lebar, ia tidak menyangka orang yang tampaknya kejam ini. Ternyata memiliki hati yang sangat lembut, dan bahkan ia sangat menyayangi Naura. Ia adalah sosok orang tua yang sangat dibutuhkan, Arga menjadi iri paling Naura. Sosok pamannya ini adalah sosok Ayah yang sangat di inginkannya, walaupun sang ayah kini telah berubah.


Arga dan Sandy pun kembali ke ruang utama, mereka berdua bertemu dengan Bagas dan juga Leo. Bagas tampak cemas menatap ke arah Sandy dan juga Arga, harus bisa dengan putrinya adalah hal yang menyakitkan baginya. Walaupun dulunya Iya memang sudah terpisah dengan putrinya, beberapa waktu yang ia lalui bersama putrinya membuat ia tidak bisa hidup tanpa putrinya.


Bagas dan Leo menatap ke arah tangga, mereka melihat Naura yang tengah turun membawa tas besar. melihat hal itu Bagas langsung mendekati Sandy, ia ingin menanyakan tentang persetujuan Naura.


'' Tampaknya Naura setuju pergi denganmu?'' tanya Bagas kepada Sandy.


'' Ya begitulah, dia telah setuju. Dan aku akan hidup dengan tenang, karena putri kecilku berada di dekatku.'' ucap Sandy dengan tersenyum lebar.


'' Tampaknya Sandy sangat bahagia, begitu juga dengan Naura. Aku jadi tidak tega untuk menghalangi mereka, dari awal memang aku yang meninggalkannya. Aku tidak pernah menjadi ayah yang baik, dan gini aku tidak ingin dia membenciku.'' batin Bagas dengan menatap ke arah Naura.


'' Naura kamu sudah ingin pergi nak?'' tanya sang Ayah dengan lembut.


'' Iya ayah, Ara uda memutuskan akan pergi.'' ucap Naura.


'' Syukurlah kalau memang mau pergi, lumayan ngurangin beban.'' ucap ibu Febri yang baru saja datang.


Semua yang mendengar perkataan ini Febri menjadi kesal, ia begitu tegah pada Naura. Bukannya bersedih ia justru bahagia.


'' Tampaknya kabar itu benar, kalau begitu ayo Ara. Paman nggak mau kamu terluka lagi sayang.'' ucapnya dengan membantu Naura membawa barang bawaannya.


Naura sebenarnya sedih, tapi dia tidak bisa berkata-kata. Sang paman sudah melihat sikap ibu tirinya yang memang tidak peduli dengannya, dan sepertinya dia juga sudah tidak mungkin untuk kembali ke sini. Padahal niat awalnya ia akan mengikuti permintaan pamannya, dan kemudian membujuknya agar tetap bisa tinggal di rumah ayahnya.


Sekarang semua yang ia rencana tidak akan mungkin terjadi, dan semua hanya cuma rencana saja. Dan ia harus tinggal bersama dengan Desi, kakak sepupunya yang memang sangat baik dan menyayanginya. Tapi ia akan merasa segan dengan kakak iparnya, walaupun dia dan Tania adik dari kakak iparnya itu bersahabat.


Naura kini sedang berada di mobil bersama dengan sang paman, mereka sedang menuju ke rumah kakak iparnya. Arga awalnya ingin ikut, tetap di larang oleh sang paman, jadi Arga memutuskan untuk pulang. Tanpa terasa mereka telah sampai di rumah Desi, kakak sepupunya itu. Mereka di sambut oleh Desi dan Tania, Tania tampak sedang tersenyum. Ia sangat bahagia bisa tinggal bersama dengan Naura, Sahabatnya terbaiknya itu.


'' Ara.'' panggil Tania, sambil berlari untuk memeluk Naura.


'' Tata, Ara di bawak ke dalam dulu ya.'' ucap sang kakak.


'' Oke kak.'' jawabnya dengan tersenyum lebar.