
'' Kamu ya Ra, muji Mulu. Tapi nggak apa-apa deh, aku selalu suka dengan mulut manismu. Nanti aku omongin sama Kak Dimas ya, biar secepatnya kita bertemu.
'' Iya aku juga menantikannya.'' balas Naura.
'' Ra aku matiin dulu ya, aku dipanggil sama Mami aku.'' ucapnya.
'' Oke.'' jawab Naura, kemudian sambungan telepon pun mati.
'' Guys katanya bisa, dan secepatnya Dia akan kabari.'' ucap Naura dengan bersorak.
'' Wow bagusnya, teman kamu sangat baik.'' puji Tania.
...----------------...
'' Kiki sini kamu!" panggil ibunya.
Kinan pun segera pergi menemui ibunya, ibunya sangat menyayangi Kinan. Tetapi ia menentang, kalau Kinan bertemu dengan Ara. Ibunya sangat tidak suka dengan Ara, karena arah berasal dari golongan kecil. Dan menurutnya, Ara tidak pantas berteman dengan anaknya.
" Tadi ibu dengar kamu bertemu dengan Ara ya?" tanya sang ibu dengan nada yang marah.
" Iya Bu, tadi aku bertemu dengan Ara." jawabnya.
" Kan udah Ibu bilang, Jangan pernah bertemu dengan Ara lagi." bentak sang ibu.
" Bu, Ara orang yang baik. lagian dia nggak pernah minta apa-apa sama Kiki.
" Kiki, kamu uda mulai membantah ya. Kita itu orang kaya, jadi nggak cocok dengan si Ara yang miskin itu." Bentak sang ibu.
" Ma, Ara orang baik. Kiki lebih suka berteman dengannya dari pada dengan yang hanya memandang status saja." ucapnya dengan meneteskan air mata.
" Diam kamu." ucapnya dengan menampar sang putri.
Kiki pun menangis, dan kemudian pergi meninggalkan ibunya. Tiba-tiba saja nenek dari Kinan pun muncul.
" Manda, kamu apain Kiki?" tanya nenek lani, yang merupakan ibu mertua dan nenek dari Kinan.
Manda tidak menjawab perkataan Nenek Lani, ia hanya terdiam membisu. Karena tindakannya tadi terlihat oleh sang mertua.
" Teganya kamu sampai menampar Kiki, lagian apa salahnya dia berteman dengan Ara." ucap nenek Lani, yang menatap ibu Manda dengan serius.
" Dia nggak sama dengan kita Bu, dia itu kaum rendahan." ucapnya dan membuat nenek Lani bertambah marah.
" Kamu tidak boleh begitu, kita semua itu sama. Sama-sama manusia, sama-sama makan nasi." jelas nenek Lani, kemudian pergi meninggalkan menantunya itu.
...----------------...
" Hany, Ara, gimana kalau kita jalan-jalan dulu. Kebetulan gue lagi bosan ni, dan kak Desi juga lagi nggak di rumah." ajak Tania.
" Maaf ya Ta, aku nggak bisa." ucap Naura.
" Kenapa nggak bisa?" tanya Tania.
" Kamu lupa ya, kan hari ini aku ada janji sama kak Rangga." ucapnya mengingatkan Tania.
" Oh iya, gue lupa." ucapnya, kemudian pandangan terus menatap ke arah pintu gerbang. Dan ternyata Rangga sudah datang untuk menjemput Naura.
" Ya kak Rangga uda datang, padahal kami mau jalan-jalan dulu." rengek Tania.
" Oh ya, maaf ya. Kalian lain kali aja jalan-jalannya, aku mau pergi dulu sama Ara." ucapnya dengan tersenyum dan membawa Naura pergi.
" Ya Kak Rangga nggak enak." ucapnya dengan berteriak dan melihat ke arah kepergian Naura dan Rangga.
...----------------...
" Arga, bagaimana si ceritanya. Kok lo seperti sedang cemburu dengan siapa tadi?" tanya Ryan.
" Dimas." ucap Dion.
" Iya Dimas, siapa dia?" tanya Ryan.
" Wah, kalau begitu bahaya. Bisa saja nantinya tiba-tiba dia mengambil Naura dari mu." ucap Dion menakuti.
" Dion jangan menakuti." ucap Ryan dengan menatap Dion dengan sinis.
" Tapi yang dikatakan oleh Dion ada benarnya." ucapnya dengan tampang cemas.
" Udalah Ga, nggak usa di pikirkan. Gue yakin Naura nggak akan seperti itu." ucap Ryan menenangkan Arga.
" Tapi kalau sampai kejadian gimana?" ucapnya dengan menatap Ryan dan Dion dengan serius.
" Bismillah aja, gue aja yakin sama Naura. Masa Lo yang cowoknya nggak percaya." ucapnya.
" Iya Ga, yang dikatakan Ryan ada benarnya juga." ucap Dion menguatkan perkataan Ryan.
Arga pun mengangguk, dan ia pun mencoba mempercayai perkataan kedua sahabatnya.
...----------------...
" Kak kita mau kemana?" tanya Naura.
" Mau kerumah kakak dek." ucapnya.
" Disana ada siapa aja kak?" tanyanya.
" Sebenarnya cuma ada kakak dan pembantu aja sih, tapi hari ini adalah tamu spesial yang akan datang." ucapnya dengan tersenyum.
" Siapa kak?" tanyanya yang penasaran.
" Ada deh, kau lihat aja nanti siapa." ucapnya dengan tersenyum.
Mereka pun akhirnya sampai di rumah, Rangga langsung membukakan pintu untuk Naura. Kemudian mereka langsung masuk ke dalam, alangkah terkejutnya ia. Ketika ia melihat papi dari Rangga, Naura langsung berlari untuk memeluk papi.
" Papi ada di sini." ucapnya dengan tersenyum.
" Iya, papi di sini." ucapnya.
" Gimana, kau senang nggak?" tanya sang papi.
" Senang banget Pi, Ara rindu banget sama papi." ucapnya dengan meneteskan air mata.
" Papi juga rindu sama Ara." balasnya dengan memeluk Naura semakin kuat.
" Tolong kenapa, jangan buat aku merasa tak dianggap." ucap Rangga dengan kesal dan memanyunkan bibirnya.
" Ya udah sini Kak, gabung aja sama kita." ucap Naura, dengan mengeluarkan tangannya. kemudian Rangga pun segera berlari, menuju ke arah pelukan sang papi dan juga Naura.
Mereka pun berpelukan, dan tanpa sadar mereka semua meneteskan air mata. Momen ini sangat langka bagi mereka, terutama bagi Jarot. Yang sama sekali tidak pernah bertemu dengan Naura, setelah hubungannya dan Tiara putus di tengah jalan.
" Tapi nggak nyangka kamu sudah sebesar ini." ucapnya dengan memutar tubuh Naura.
" Ya Ara udah besar lah papi, kan Ara sebaya sama Zia." ucapnya dengan tersenyum, sontak saja Jarot dan Rangga merasa kaget.
" Eh iya Ara sebaya sama Zia ya." udah berangkat dengan tertawa pahit.
" Kenapa muka Kakak nggak enak, Kakak kaget ya. Tiba-tiba Ara menyinggung tentang Zia, Oh iya Kakak juga nggak bilang kan sama Ara. Kalau ternyata Zia satu sekolah sama Ara." ucap Ara dan membuat Rangga tambah panik.
" Adek tahu tentang Zia?" tanya Rangga.
" Tentu dong Kak, masa Ara nggak tahu. Lagian kan Zia udah pernah nyakitin Ara, dan itu semua gara-gara cowok. Kakak tahu kan siapa cowoknya." jelas Naura.
" Siapa dek, jangan bilang si Arga?" tanya Rangga yang penasaran.
" Ya siapa lagi kalau bukan dia Kak." Ucap Naura dengan tersenyum.
" Sekarang Ara tenang aja ya, Zia nggak akan ganggu kalian. Papi uda bilang sama Zia, agar dia tidak mengejar-ngejar Arga lagi. Karena papi sudah dengar, kalau orang yang disukai Arga adalah kamu." ucap Pak Jarot dengan mengelus rambut Ara.
Naura pun tersenyum, dan ia pun kembali memeluk Pak Djarot. Rangga yang penasaran, akhirnya ia menanyakan kepada Naura. Apa status hubungan Naura, dan juga Arga saat ini.