
" Kakak sangat berdosa banget kak." ucap Naura.
" Ya habis tampangnya nggak menyakinkan, sangat jauh dengan Rangga kakaknya." ucap Desi yang asal bicara.
" Ya ampun kakak sepupu di Ara ini, kalau bukan karena cewek. Mungkin uda ku hajar habis-habisan." batin Reza.
" Kak Reza nggak boleh ngebatin, gini-gini kak Desi tetap kakak aku." ucapnya dengan tersenyum.
" Iya-iya maaf, tapi Lo ya dek. Selalu aja tau, kalau gue lagi emosi sama orang. Jangan-jangan Lo punya mata batin ya?" tanyanya yang penasaran.
" Iya, tapi boong." ucapnya kemudian pergi meninggalkan Reza dan juga Desi.
" Ara." ucapnya yang kesal dengan menatap kepergian Ara.
Desi pun menatap Reza, karena Reza berteriak di dalam rumahnya. Reza yang melihat sorot mata Desi, ia pun merasa takut. Dan akhirnya ia pun memutuskan untuk pulang.
" Kak, aku izin pulang ya." ucapnya dengan nggan.
Desi tidak menjawab, ia hanya mengangguk dan terus menatap Reza dengan sinis. Reza yang ketakutan pun akhirnya ia berlari meninggalkan rumah itu, Desi yang melihat tingkah Reza. Ia pun tertawa dengan kuat, sontak saja Naura dan Tania pun turun. Karena mereka penasaran dengan apa yang membuat Desi tertawa.
" Kak, kakak menertawakan apa?" tanya Tania.
" Itu, tadi si Reza. Dia lucu banget." jawab Desi, Naura hanya mengangguk. Tetapi tidak dengan Tania yang merasa kebingungan, karena ia tidak mengetahui siapa yang dimaksud.
" Siapa itu Reza, apa jangan-jangan pacar mu. Terus kak Arga mau kau kemanahi?" tanya Tania, dan akhirnya memberi Desi tau siapa pacar Naura.
" Oh jadi nama pacarnya Ara, itu Arga." ucap Desi dan membuat Naura tersipu malu, sedangkan Tania merasa heran. Karena sang kakak tidak mengetahui pacar Naura, dan ia pun masih di bingungkan dengan sosok Reza.
" Ih Tata, kenapa kau spil si namanya." ucapnya Naura yang kesal kemudian meninggalkan Tania dan juga Desi.
" Eh dia kok marah, dan kakak memang nggak tau ya nama pacar Ara?" tanyanya.
" Si Ara nggak mau spil nama pacarnya, katanya dia mau kenalin langsung." jelas Desi.
" Ai yang benar kak, kalau gitu jangan kasih tau kak Tirta ya plis." ucapnya dengan memohon.
" Iya tenang aja, tapi kau harus selalu memberikan info tentang mereka. Gimana setuju." ucap Desi.
" Ai, kalau begitu. Aku jadi mata-mata mereka dong kak." ucapnya sambil berpikir.
" Ya sekarang terserah sama Tata, kalau Tata nggak mau. Gampang aja, kakak tinggal bilang sama kakak mu." ancam Desi.
" Yauda deh iya." ucapnya yang pasrah, kemudian langsung pergi menuju ke kamarnya.
Desi hanya tertawa melihat tingkah adik iparnya itu, dan ia merasa sangat bahagia. Karena semenjak kedatangan adiknya yaitu Ara, hubungannya dan adik iparnya bertambah baik. Bahkan kini mereka seperti sahabat, dan mereka juga sering mengerjai sang suami. Dan itu membuat ia merasa bahagia, karena kehidupannya menjadi sangat berwarna.
Naura kini sedang berada di kamarnya, ia merasa kesal dengan Tania. Karena Tania telah membocorkan nama Arga, dan kini membuat ia berhasil menjadi bulan-bulanan sang kakak. Dan jujur itu membuat ia menjadi tidak nyaman, karena pada awalnya. Ia ingin merahasiakan siapa pacarnya, tapi kini semua nggak mungkin. Tiba-tiba saja telpon Naura berbunyi, dan ternyata Arga la yang menelpon.
" Halo Ara." ucapnya dari sebrang telepon.
" Halo juga kak." ucapnya dengan lesu dan tidak bersemangat.
" Nggak kok, aku cuma kesal aja." ucapnya dengan lembut.
" Kesal sama siapa?" tanyanya yang penasaran.
Naura pun akhirnya menceritakan kepada Arga, tentang Tania yang menyebutkan nama Arga di hadapan Desi. Dan kini Naura pun menjadi bahan bulan-bulanan sang kakak, Arga pun terus mendengarkan dengan antusias. Disaat Naura kesal, sangat berbeda dengan Arga yang sangat gembira. Karena kini kakak iparnya mengetahui siapa dia, ya walaupun belum pernah jumpa. Setidaknya itu adalah kunci agar ia bisa mendapatkan restu dari sang kakak, walaupun sudah mendapatkan restu dan Sandy yang merupakan paman Naura.
" Udahlah, dari pada kesal. Mau nggak jalan-jalan?" tanya Arga untuk mengubah topik.
" Boleh, kebetulan lagi bosan ni." ucapnya.
" Ok, kalau gitu aku OTW kesana ya." ucap Arga dari sebrang telepon, dan kemudian langsung mematikan telepon
Naura pun segera bersiap, karena ia sudah janjian dengan Arga. Dan ia yakin dalam waktu tidak lama lagi, Arga pasti akan tiba di sana. Karena itu ia sibuk memilih-milih pakaian yang akan ia pakai. Tiba-tiba saja, terdengar suara ketukan pintu.
Tok
Tok
Tok
" Siapa, masuk aja. Nggak di kunci." ucapnya.
Akhirnya muncullah orang yang mengetuk pintu tadi, dan ternyata itu adalah Tania. Ia pun memasang tampang yang tidak enak, nta kenapa bukannya Naura luluh. Ia justru bertambah kesal.
" Ngapain kau ke sini?" tanyanya dengan nada tinggi kepadatannya Tania.
" Aku mau minta maaf." ucapnya dengan rasa bersalah.
" Mending minta maaf nanti aja pas lebaran, sekarang keluar dari kamar ku." jawab dengan tidak melihat ke arah Tania, Tania pun merasa dengan tingkah Naura yang membongkar semua pakaiannya. Dan akhirnya ia pun memutuskan untuk bertanya, karena ia sudah sangat penasaran.
" Ara lo nggak akan pergi di rumah Ini kan?" tanyanya dengan tampang sedih. Naura yang mendengar penuturan dari Tania, Ia pun tertawa dengan terbahak.
" Ya nggak mungkin lah aku pergi dari rumah ini, kalau aku pergi mau tinggal di mana aku." ucapnya dan Tania hanya mengangguk.
" Eh iya juga ya, kalau nggak tinggal di sini. Lo tinggal di mana." ucapnya dengan memikirkan perkataan Ara baru saja.
" Terus Lo ngapain sampai bongkar-bongkar lemari, dan lempar-lempar baju Lo asal." ucapnya yang merasa kalau Naura sangat aneh.
" Kak Arga mau datang ke sini." ucapnya dengan masih memilih baju.
" Apa, gue nggak salah denger kan. Kak Arga mau datang, bukannya Lo ngelarang dia ya?" tanyanya yang merasa heran.
" Ya awalnya aku ngelarang, tapi tadi kak Arga telepon. Eh terus aku malah cerita kalau Desi uda tau namanya, dan itu semua Karena kau. Jadi Arga mau langsung OTW aja katanya, karena uda ketahuan." jelasnya dengan tampang panik.
" Ya ampun Ara, yauda la. Sini gue bantuin, tampaknya Lo lagi bingung banget." ucapnya dengan melihat Naura.
" Makasih Tata, kau tau aja. Kalau aku lagi bingung, kau memang yang terbaik." ucapnya dengan tersenyum.
Tania pun segera pergi ke kamarnya, ia langsung mengambil baju yang menurutnya cocok untuk di pakai Ara. Bajunya sopan dan juga tidak terlalu panjang, karena jika panjang akan susah untuk naik motor. Itulah yang ada di dalam pikiran Tania, setelah pertimbangannya selesai, ia pun langsung membawa baju itu ke kamar Naura.