Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 20



" Angkat saja Ga, papi juga sangat merindukan Naura. Apalagi setelah papi tau kalau bunda Naura sudah meninggal. Papi juga berniat membawanya ke rumah kita. Namun, dari yang papi dengar, ia saat ini tinggal bersama ayah dan ibu tirinya." Jelas sang Papi dan membuat Rangga tersenyum karena sang Papi masih peduli dengan Naura.


Rangga pun langsung mengangkat telepon dari Naura, saat suara pertama Naura terdengar sang papi tersenyum dengan sangat lebar.


" Papi, rindu ya sama Naura?" tanya Rangga yang mendapatkan anggukan dari papinya.


Naura yang mendengar perkataan Rangga sangat kaget, karena ia memang sudah lama tidak bertemu dengan pak Jarot. Terakhir saat makan bersama dengan keluarga dan di hari itu juga, ia bertemu dengan Rangga dan Reza yang kini menjadi kakak yang sangat menyayanginya.


" Kak di situ ada Papi kakak ya?" tanya Naura.


" Iya dek, Adek mau lihat wajah papi kakak nggak?" tanya Rangga kepada Naura, dan Pak Jarot sangat berharap kalau Naura mau bertemu dengannya.


" Boleh kak, kebetulan adek juga kangen sama om Jarot." ucapnya dengan rasa bahagia.


Akhirnya mereka pun VC, dan wajah mereka tersenyum dengan bahagia.


" Halo om Jarot, om apa kabar?" tanya Naura yang sangat bahagia dengan melihat wajah Jarot.


" Halo sayang, apa kabar?" tanya pak Jarot, dengan menitihkan air mata.


" Om kenapa?" tanya Naura yang merasa khawatir.


" Nggak, om gpp sayang. Om cuma sangat bahagia bisa melihat mu." ucapnya dengan menitihkan air mata dan tersenyum lebar.


" Naura juga om." ia pun tersenyum.


Akhirnya mereka ngobrol dengan sangat gembira, hingga mereka tidak menyadari waktu sudah larut malam dan Naura juga harus tidur karena esok hari ia masuk sekolah.


Sambungan telepon pun terputus, Naura pun langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dan ia pun langsung terlelap.


Keesokan paginya Naura terbangun dengan rasa yang sangat bahagia, karena ia bisa melihat wajah om Jarot setelah sekian lama.


Naura setelah melakukan rutinitasnya seperti biasa, ia langsung turun dan menyiapkan sarapan untuk semuanya. Dan ia kemudian langsung bersiap untuk berangkat ke sekolah.


Sangking bahagianya ia, ia sampai tidak sadar kalau dompetnya tertinggi di rumah. Seperti biasa ia berangkat di antar oleh sang kakak Leo.


Sesampainya di sekolah, saat di depan gerbang ia bertemu dengan Arga. Sang kakak Leo langsung mengajak Arga berbicara.


" Kak Leo." panggil Arga yang melihat mobil Leo di depan gerbang sekolah.


" Eh Arga, baru sampai ya?" tanya Leo ketika motor Arga berhenti di depannya.


" Iya kak, hehehe." jawabnya sambil tertawa. dan Leo hanya menggelengkan kepalanya.


" Yauda, kakak titip Naura ya. Kakak mau langsung ke kampus." perintah Leo dan kemudian ia langsung melakukan kendaraannya.


Saat ia melajukan kendaraannya, tanpa sengaja ia melihat wajah yang sangat mirip dengan Tata dan ia langsung menghentikan kendaraannya dan mencari Tata. Namun, ia tidak menemukan siapa pun, dan kemudian ia langsung melakukannya kendaraannya walaupun sebenarnya ia masih penasaran.


Disisi lain Tania yang merupakan sahabat Naura sedang bersembunyi di belakang pohon untuk menghindari seseorang yang tidak ingin ia lihat.


Ia pun bertemu dengan Naura dengan Arga di parkiran. Naura memanggil Tania, namun Tania tidak memperhatikan dan langsung menuju ke dalam.


Naura yang merasakan keanehan pada sahabatnya itu, ia langsung menyusul Tania ke dalam. Dan meninggalkan Arga yang masih merasa kalau tingkah kedua sahabat itu aneh.


Arga langsung menuju ke kelasnya dan tidak memperdulikan kedua sahabat itu, yang kemungkinan sedang dalam masalah. Walaupun Arga tidak ingin ikut campur, pikirannya terus dipenuhi dengan Naura dan Tania yang sedang bertengkar.


Naura pun tiba di kelas, ia melihat Tania yang sedang melamun di meja mereka. Ia tak tau harus berbuat apa. Tania memang sahabat, tapi Tania sering menyembunyikan banyak hal darinya. Dan itu yang membuat ia takut kalau Tania akan tersinggung dengan perkataannya.


Naura mencoba menghilangkan rasa khawatirnya, dan ia langsung mendekati Tania. Ia mencoba menanyakan ke adaan Tania.


" Tan, kamu sedang ada masalah ya?" tanya Naura dengan rasa takut, dan ia tidak mau kehilangan sahabatnya itu.


" Nggak, nggak ada Nau." jawab Tania, namun terlihat kalau dia sedang tidak baik-baik saja.


" Kamu yakin Tan?" tanyanya lagi.


Tania tidak menjawab, ia langsung menangis dan bersembunyi di bahu Naura. Naura yang panik ia tidak tau harus berbuat apa-apa. Ia pun mencoba menenangkan dirinya terlebih dahulu. Setelah ia sudah tenang, ia mencoba berbicara dengan sahabatnya itu.


" Tan, cerita aja. Aku akan berusaha untuk membantu mu, kau kan sahabat ku. Jadi pasti akan ku bantu." jelas Naura meyakinkan Tania yang sedang menangis.


" Se-sebenarnya tadi aku bertemu dengan mantan ku." jelas Tania dengan gugup.


" Lalu dia ngelakuin apa?" tanya Naura yang penasaran, dan ia juga heran mengapa sahabatnya menangis.


" Nggak ada, aku cuma takut kalau dia melihat aku." ucapnya lagi dan membuat Naura geleng-geleng kepala.


" Dia memang pernah ngelakuin apa si, sampai kamu setakut itu sama dia Tan?" tanya Naura yang penasaran, seperti apa hubungan sahabatnya itu dengan sang mantan.


" Se-sebenarnya..." belum siap Tania bercerita, tiba-tiba saja guru sudah masuk ke dalam ruangan kelas mereka. Dan percakapan mereka harus terhenti.


Mereka semua pun memulai pembelajaran dengan sangat aktif dan membuat guru itu sangat bahagia melihat perkembangan siswa dan siswinya. Tiba-tiba saja guru itu teringat kalau Naura akan mewakili sekolah itu olimpiade.


" Naura, bagaimana persiapan mu untuk olimpiade Minggu depan?" tanya guru itu.


Mereka yang sangat penasaran pun menatap ke arah Naura. Bukannya senang Naura justru merasa takut karena ia di tatap oleh seisi ruangan itu.


" Su-sudah lumayan Bu, hanya perlu berlatih mengerjakan soal lagi." jelas Naura dengan kikut karena merasa tidak nyaman.


Ibu guru yang mendengar suara Naura, ia tertawa dengan sangat kuat. Dan hal itu mengejutkan seisi ruangan. Guru yang terkenal cuek dan galak itu ternyata dapat tertawa, bahkan dengan sangat kuat.


Tatapan semua semua yang sebelumnya pada Naura kini berpindah pada guru itu. Setelah puas tertawa ia pun menatap semua dengan tatapan acuh tak acuh kembali.


" Nau, Nau pasti kamu takut ya karena semua menatap mu. Tapi terimakasih ibu sudah lama tidak tertawa seperti tadi." ucap guru itu dan Naura mulai merasa tenang.


Naura tersenyum, dan seisi ruangan tertawa melihat tingkah Naura.


" Ternyata Naura sangat lucu." batin Zaky, ketua kelas di kelas itu.