
" Bagaimana kalau kita selidiki." usul Natan.
" Usul yang sangat bagus, tapi aku tidak yakin akan berhasil." ucap Arya.
" Kenapa kau bilang begitu?" tanya yang penasaran.
" Karena sebenarnya kami sudah pernah menyelidikinya, tetapi kami tidak juga menemukan kebenarannya. Dan malah ada beberapa dari kami yang hampir di pecat dari sekolah." jawab Arya dan membuat Natan kaget.
" Memangnya mereka melakukan apa, sampai-sampai hampir di pecat?" tanya Natan yang penasaran.
" Mereka mengikuti wali kelas sampai ke kamar mandi." jelas Arya.
" Ya ampun, nggak sampai begitu juga kali." jawab Natan dengan menggunakan kepalanya.
" Habisnya kami sangat penasaran sih." ucap Arya.
" Ya nggak sampai kayak gitu juga, nanti deh aku pikirin dulu rencananya. Nanti kalau uda dapat baru aku kasih tau." ucap Natan dan Arya pun mengangguk.
Tak terasa bel pun berbunyi, dan menandakan tiba waktunya istirahat. Mereka semua pun segera mengganti pakaian mereka, kemudian pergi ke kantin. Arya dan Natan tidak makan, mereka hanya menemui Tania dan juga Naura saja.
" Tampaknya kau sangat lapar." ucap Naura.
" Iya Ra, kebetulan tadi pagi aku nggak sarapan." jawab Tania.
" Memangnya kak Desi nggak masak?" tanya Naura yang penasaran.
" Kak Desi nggak mau masak, ia tiba-tiba mual katanya." ucap Tania.
" Oh gitu, yauda deh. Lagian hal seperti biasa, kak Desi kan memang sedang hamil." jelas Naura.
" Ya begitulah, tapi aku yang tersiksa karena nggak sarapan, hiks…hiks." ucapnya dengan menangis.
" Yang sabar, nanti kalau uda lahir kau juga bisa merasakan masakan kak Dedi lagi. ucap Naura dengan tersenyum.
" Ya mudah-mudahan, aku juga merindukan masakan kak Desi." ucapnya.
" Kasihan banget, untungnya aku sarapan, hehehe." ucap Arya dengan tertawa.
" Kau ya Arya, kita baru kenal beberapa hari. Tapi kau sudah buat aku emosi." ucap Tania dengan tatapan sinis.
" Uda jangan bertengkar, nanti jodoh loh." ucap Natan.
" Tidakkk…" teriak ketiganya dan membuat Natan kaget.
" Ara kenapa kau juga ikut berteriak?" tanya Natan.
" Ya aku cuma nggak mau, calon kakak ipar ku menghilang." ucapnya dan membuat keduanya kaget.
" Eh, maksudmu apa?" tanya Natan yang masih tidak mengerti.
" Kalau Tata sama Arya, berati dia ninggalin kakak aku dong." jawabnya.
" Eh tunggu, Tania pacaran sama kak Reza ya?" tanya Natan yang memang hanya mengenal Rangga dan Reza saja.
" Enak aja, aku bukan pacarnya pak Reza tau." jawab Tania yang kesal.
" Lalu Tania pacaran sama siapa?" tanya Natan yang penasaran.
" Tania itu pacaran sama kakak sambung aku." jawab Naura.
" Iya benar, Tata pacaran dengan anak tiri ayahku." jelas Naura dan Tania pun hanya mengangguk saja.
" Jadi ternyata cowok itu kakak sambung mu, pantas saja kau tampak dekat dengannya. Aku kira awalnya kalau dekat dengannya karena Tania, eh ternyata aku salah." jelas Natan dan terlihat raut kesedihan di wajah Arya.
" Kau itu ya, selalu saja suka mengambil asumsi sendiri. Mending kalau tebakanmu itu benar, tetapi seringan tebakanmu itu salah. Dan memancing emosi seseorang, padahal emosi itu bisa saja tidak meledak. Kalau kamu menanyakan kepada orang tersebut, bukan hanya mengambil asumsi sendiri." jelas Naura dengan menggelengkan kepalanya.
" Ya maaf, habisnya aku masih canggung kalau harus bertanya." jelasnya dengan ekspresi sedih.
" Nggak usah beralasan deh, lagian sikapmu ini sudah lama. Kalau sikapmu hanya baru kali ini, aku pasti bisa memahaminya. Karena engkau adalah anak baru di sini, tetapi sikapmu ini sudah sejak lama." jelaskan Naura yang tidak menerima penolakan dari Natan.
" Berarti ini anak tukang beralasan ya Ra, kalau begitu dia sulit untuk dipercayai." ucapannya dengan menatap Natan dengan sinis.
" Eh nggak gitu ya, kau kan udah kenal aku lama Ra. Kau lebih mengenal diriku seperti apa, jangan kau sebarkan berita hoax tentang diriku." ucap Nathan yang kesal.
" Apakah aku menyebarkan berita hoax, perasaan aku nggak ada nyebarin berita apa-apa deh." jelas Naura dengan tersenyum.
" Yang barusan kau bilang itu kan hoax, aku memang seorang pemberani. Tetapi bila bertemu dengan orang yang tidak pernah bertegur sapa denganku, maka aku pun tidak akan pernah berani untuk mendekatinya. Sama seperti saat ini, ku akui aku memang dekat denganmu. Tetapi aku masih belum dekat dengan Tania, dan karena itu aku masih tidak mau ikut campur dalam urusan pribadinya." jelasnya dan mereka pun hanya mengangguk saja.
" Oh gitu ya, tapi aku kok masih nggak yakin ya. Atau jangan-jangan, diam-diam kau dan juga Arya merencanakan sesuatu." ucap Tania yang tidak percaya dan menatap mereka dengan tatapan sinis.
" Hahaha, kau tenang aja Ta. Mereka nggak akan melakukan itu." jelas Naura.
" Tampaknya kok sangat yakin Ra?" tanya Tania.
" Natan itu sangat jauh berbeda dengan yang aku bilang tadi, aku tadi hanya bercanda saja. Habisnya aku sudah lama tidak menggodanya, dan melihat ekspresinya seperti itu sungguh sangat menyenangkan." ucap Naura dengan tersenyum.
" Kau ini ya Ra, untung aja aku masih bisa tahan emosi. Kalau aku nggak bisa nahan tadi gimana?" ucapnya dengan menatap Naura.
" Nah kan baik, jadi nggak barna marah sama aku." ucapnya dengan tersenyum.
" Akhirnya dia tersenyum lagi, ya walaupun masalahnya belum selesai." batin Tania.
Mereka pun terus berbincang, hingga tiba-tiba Rasya pun datang. Ia pun langsung bergabung dengan mereka.
" Tampaknya kalian sedang seru?" tanya Rasya yang baru saja tiba.
" Eh ada Rasya, sini gabung." ucap Naura, dan Rasya pun segera duduk.
Kedatangan Rasya membuat Arya dan juga Natan merasa tidak nyaman, akhirnya mereka pun diam tanpa suara. Tiba-tiba saja ada seorang pemuda yang menghampiri mereka, pemuda itu langsung memeluk Rasya.
" Alana." ucapan pemuda itu kemudian langsung memeluknya.
" Apa-apaan sih, aku tuh Rasya bukan Alana." jawabnya dengan ketus kemudian pergi meninggalkan kantin.
" Alana, tunggu." ucapan muda itu kemudian berusaha mengejar Rasya, tetapi tiba-tiba saja lengannya ditarik oleh Arya. Dan ia pun melihat ke arah lengannya.
" Kenapa kau halangi aku?" ucap pemuda tersebut.
" Aku hanya ingin memberitahu, nama perempuan itu Rasya bukan Alana." ucap Arya.
" Nggak mungkin, jelas-jelas itu Alana." ucapnya yang tidak percaya.
" Aku akan jelasin semuanya, tapi kau duduk dulu." ucap Arya dan pemuda itu pun langsung mengikutinya.
" Sekarang kau harus jelaskan semuanya, aku masih tidak mengerti dengan semua ini." ucapan muda itu dengan menggelengkan kepalanya.
" Oke, sebelumnya aku akan memperkenalkan diri. Perkenalkan namaku Arya, dan kebetulan aku adalah sahabatnya Alana." jelasnya dan membuat pemuda itu kaget.