
'' Apa dia di luar, kalau gitu suruh masuk deh.'' perintah harga dengan masih mempertahankan ekspresi datarnya.
Naura dengan cekatan memanggil pemuda itu, Iia kemudian membawanya masuk ke dalam ruangan Arga. Dalam seketika atmosfer di ruangan itu menjadi berubah, kini suasana menjadi sangat mencekamkan.
'' Hai Arga, gue bawain buah nih. katanya nyokap lu lagi sakit, eh ternyata sampai sini lo nya juga sakit. Maaf ya cuma bawa satu.'' ucapan muda itu dengan rasa tidak bersalah.
'' Ia nggak apa, lagian gue juga nggak butuh sama lo.'' ucapnya dengan mesin menggunakan nada ketus.
'' Kebetulan tadi Naura udah cerita, kalau lu lihat gue sama naura pelukan. Kayaknya lu lagi cemburu ya sama gue dan Naura.'' ucapnya dengan to the point.
'' Nggak, siapa juga yang cemburu.'' ucapnya dengan masih ada sebelumnya.
'' Nampak banget kali kalau lo lagi cemburu, lagian gue juga seneng kok. Kalau lo cemburu berarti Lo ada hati sama naura, dan gue bisa dengan tenang balik ke Amsterdam.'' pemuda itu tanpa basa-basi dan membuat harga kaget.
'' Amsterdam, sebenarnya lo ini siapa?'' tanya harga yang sudah mulai penasaran.
'' Makanya dengerin gue ngomong dulu jangan main ngambek.'' ucap Naura yang tiba-tiba saja menyala.
'' Dek jangan ganggu lu napa, kakak kan lagi ngomong sama calon imam Adek.'' ucapan muda itu dan membuat wajah Arga bersama merah.
'' Calon imam, calon imam apaan sekolah aja belum lulus.'' ucap Naura dengan ketus, dan jujur ini adalah hal pertama yang tidak pernah dilihat oleh Arga. Naura yang lembut ternyata juga bisa berbicara kasar.
'' Ye ni anak satu, kakak doain dia jadi calon imammu.'' ucapan muda itu dengan mengacak-acak rambut Naura.
'' Apaan sih Kak, Adek itu masih kelas 11. Kakak jangan macam-macam nanti Adek aduin sama Mami.'' Naura mulai mengancam pemuda itu.
Arga yang mendengar percakapan keduanya, iya mulai merasa bingung. Ia sangat penasaran ada hubungan apa sebenarnya di antara mereka berdua.
'' Tunggu dulu, dari tadi kalian bilang adik dan kakak mulu. Sebenarnya apa sih hubungan kalian?'' tanya harga yang sudah malas menerka-nerka.
'' Oh iya gue belum ngenalin diri sama lo, kenalin gue Damar Kakak sepupunya Naura.'' ucap pria itu dan membuat Arga kaget.
'' Lo Kakak sepupunya, nggak usah bohong deh. Leo nggak pernah cerita tuh.'' jelas harga yang masih cuek.
'' Ya Leo mana tahu, Leo kan Anak tiri bokapnya. Dan gue itu anak dari kakak nyokapnya Naura.'' jelas damar dan membuat Arga tersenyum lebar.
'' Apa gue nggak salah denger nih kan?'' Arga ingin memastikan apa yang ia dengar.
'' Lo ini ganteng, lo ini juga pintar. Tapi lo tulalit kalau soal perasaan, tapi nggak apa-apa gue seneng. Karena ternyata yang dibilang Tania itu benar, kalau lo memang punya hati buat Naura.'' jelas damar dan membuat Arga kebingungan.
'' Tunggu, Apa hubungannya dengan Naura?'' harga bertanya kembali.
'' Ya adalah, karena Tania juga adik gue. Ya walaupun dia bukan adik kandung gue.'' jelas pemuda itu dengan senyum aneh.
'' Mending lo tanya sama adik kecil gue si Ara, kalau gue yang jelasin nggak keburu waktunya. Gue harus kembali ke Amsterdam, kalau gitu dah Ara, dah Arga.'' ucapan muda itu kemudian meninggalkan keduanya.
'' Naura sebenarnya ada apa ini, dan tadi tuh cowok juga bilang kalau lo dan tanya itu saudara.'' tanya Arga yang menuntut penjelasan.
'' Sebenarnya agak belibet sih, tapi yang intinya. kakak sepupu aku lebih tepatnya kakaknya Kak damar, itu ternyata menikah sama kakak kandungnya Tania. Jadi aku dan Tania masih ada hubungan saudara walaupun tidak dekat.'' jelas Naura dan mendapat angkutan dari Arga.
'' Nggak disangka dunia sesempit itu ya, Kalau boleh tahu sejak kapan lu tahu hal itu?'' tanya harga yang sudah penasaran.
'' Baru aja sih, aku pun juga kaget waktu mengetahui itu. Tapi ya udahlah itu takdirnya.'' jelas Naura dengan mahalan nafas.
'' Oh iya, lo nggak nganter itu cowok siapa tadi namanya gue juga lupa. Yang intinya lo nggak nganter dia ke bandara?'' yang sudah penasaran.
'' Buat apa aku nganter dia, lagi nih punya kaki. dan di sini kan aku harus jaga kakak.'' ucap Naura masih dalam keadaan membelakangi Arga.
Mendengar perkataan dari Naura, Arga pun langsung berlari dan memeluk Naura dari belakang. Sontak saja hal itu membuat Naura kaget, dan ia menjatuhkan buah yang ada di tangannya.
'' Kak Arga ngagetin aja, sampai jatuh kan tuh buahnya.'' ucap Naura yang kini masih memandangi buah yang terjatuh.
Bahkan saking fokusnya iya, iya sampai tidak menyadari kalau tangan Arga telah meningkat di perutnya. Tiba-tiba saja Ayah Arga yang baru tiba dari luar negeri, iya langsung ingin ke ruangan anaknya. Setelah mendengar kabar dari pembantunya kalau anaknya jatuh pingsan, dan hal itu yang menyebabkannya adalah mendengar keadaan nyonya yang sedang dalam bahaya.
'' Arga.'' ucap sang ayah dari depan pintu, dan kini Arga menjadi panik. karena ayahnya margoginya sedang bersama dengan Naura, ia merasa takut kalau hubungannya dengan Naura akan ditentang oleh sang ayah.
'' Hai nak Ara.'' ucap Ayah dengan lembut dan mengelus kepala Naura.
Sontak saja hal itu membuat harga kaget, ini adalah hal pertama yang ia lihat. Ia tidak menyangka kalau ayahnya bisa selimut itu kepada Naura, Bukan karena apa harga menilai ayahnya yang aneh-aneh. Tetapi ayahnya tidak bisa akrab dengan orang sembarangan, dan apalagi kini ayahnya akrab dengan Naura seorang wanita yang dekat dengannya. Sungguh itu sangat mengejutkannya, karena selama ini ayahnya hanya mendukung kedekatannya dengan Zia.
'' Kenapa lihat-lihat?'' tanya ayah dengan nada ketus.
'' Ayah nggak marah, dia bukan Zia ayah.'' tanya Arga dan membuatnya mendapat pukulan dari sang ayah.
'' Memang kenapa, Ayah juga sudah kenal dengan kedua orang tua Naura. Kalau kamu bilang dari awal kalau kamu dekatnya sama Naura, Ayah nggak masalah kok. Lagian keluarga Zia juga pasti mengerti.'' jawab ayah dan membuat Arga kebingungan.
'' Apaan sih maksud ayah, aku kan nggak ngerti.'' tanyanya yang masih belum mengerti apa yang dimaksud sang ayah.
'' Kalau ayah yang jelasin kayaknya kurang seru deh, mending Naura aja yang jelas. Lagian kalau kamu memang sama Ara bunda kamu juga pasti bahagia.'' jelas Ayah dan membuat Arga tambah kebingungan.
'' Bisa nggak jelasinnya nggak belit-belit gue nggak ngerti tahu.'' ucap Arga memang tidak mengerti.
'' Uda mending kalian bicara berdua aja, ayah keluar dulu ya mau lihat bunda kamu.'' ucap pria paru baya itu kemudian meninggalkan Naura dan juga putranya.