
Kini Arga dan juga Naura sedang duduk di ruang tamu, mereka memilih tempat yang terlihat dari seluruh penjuru. Jujur saja Arga merasa tidak nyaman, karena sejak tadi para pembantu di rumahnya memperhatikan mereka. Tetapi demi kenyamanan Naura, Ia pun mencoba membiasakan diri. Walaupun sebenarnya ia merasa tidak nyaman, dan pastinya ia akan menjadi training topik oleh para pelayannya kembali.
Naura yang sedang haus, ia pun memutuskan untuk pergi ke dapur. Walaupun Arga sudah melarangnya, dan mengatakan untuk menyuruh pelayan saja membawakannya. Tetapi Naura tetap ngeyel, dan akhirnya ia mengambil minuman itu sendiri. Sontak saja ia merasa kaget, karena ternyata para pelayan sedang membicarakan ia dan juga Arga.
Bahkan ada yang menduga, kalau dalam waktu dekat keduanya akan menikah. Walaupun kini keduanya masih duduk di bangku SMA, dan jujur saja pendapat dari pelayan itu. Membuat Naura menjadi tidak nyaman, dan akhirnya ia memutuskan kembali ke ruang utama tanpa membawa air minum sedikit pun.
" Katanya mau ngambil air minum?" tanya Arga pada Naura yang baru saja tiba.
" Nggak jadi, tiba-tiba rasa haus ku hilang." ucapnya dengan ekspresi murung.
" Pasti para pelayan lagi bergosip kan, dan tema gosip mereka adalah kita berdua." tebak Arga dan tiba-tiba saja Naura langsung mengganggu.
" Kan sudah gue bilang jangan ke dapur, tapi nggak percaya sih. Jadi gimana enak diobrolin para pelayan." ucap Arga yang kini mengelus kepala Naura yang telah duduk di sampingnya.
" Ya kan aku nggak tahu, kalau ternyata kita akan jadi bahan gosip mereka." ucapnya yang memang tidak tahu-menahu.
" Ya udah sekarang kan udah tahu, Jadi kalau main ke sini jangan ke dapur ya. Nanti jadinya kamu nangis, dan alhasil gue lagi yang kenal sama mama." ucap Arga dengan jujur.
" Eh bisa gitu?" tanyanya yang penasaran.
" Ya bisa lah, kan sekarang mama lebih sayang sama lo daripada sama gue." ucap Arga dengan ekspresi cemberut.
" Maaf ya, gara-gara aku kasih sayang mama jadi terbagi. Padahal kan kakak anak tunggal." ucapnya dengan rasa tidak enak.
" Apaan sih lo, justru gue seneng tahu. Karena Mama udah sayang sama kamu, dan itu tandanya kita sudah dapat lampu hijau. Dan tinggal menunggu tanggal jadinya aja." ucap Arga dan membuat buat Naura tersipu malu.
" Apaan sih." ucap Naura yang kini masih menunduk karena menyembunyikan wajahnya yang sedang merah merona.
" Aku ngomong beneran loh, Dan aku harap tanggal itu tidak jauh lagi." ucapnya yang kini masih mengelus kepala Naura.
" Nggak majikan nggak pembantu, sama aja yang dibahas. Kita itu masih sekolah tahu." ucap Naura yang kesal.
" Ya tunggu kita pada tamat lah Naura, ya masa kita masih sekolah udah disuruh nikah." jelasnya dengan tersenyum karena merasa tingkah Naura sangat lucu.
Tiba-tiba saja handphone Naura berdering, dan ternyata Tirta lah yang menelponnya. Dengan sigap dan cekatan Naura langsung mengangkat telepon tersebut, karena ia tidak ingin kakak iparnya itu marah padanya. Dan hal itu akan membuat ia merasa tidak nyaman, karena ia akan dicuekin berhari-hari oleh Kakak dan juga kakak iparnya.
" Halo Ara, kau sedang di mana dek?" tanya Tirta dari seberang telepon.
" Ara lagi di rumah Kak Arga Kak, Kalau boleh tahu ada apa ya Kak?" tanya Naura dengan gugup.
" Oh lagi di tempat Arga, Ya udah tapi pulangnya jangan sore-sore ya. Dan satu lagi, si Tata di mana?" tanya Tirta.
" Oh si Tata lagi sama kamu, tapi bilang dong suruh angkat telepon. Bilang juga dek sama dia, Kakak cemas nyariin dia." ucapnya dengan nada tinggi.
" Maaf ya Kak, Ya udah Ara sampaikan." ucapnya dengan gugup karena mendengar suara Tirta yang sangat tinggi.
" Ya udah kalian hati-hati, dan ingat bilang sama Tata kalau suruh hidupkan handphonenya. Kakak cemas tahu dari tadi, Oh ya bilang juga sama dia kalau hari ini Mami sama papi kakak bakal balik." ucap Tirta dan sontak saja Naura kaget.
" Apanya yang gimana Ara?" tanya Tirta yang juga bingung dengan pertanyaan adik iparnya itu.
" Kan orang tua kakak mau datang, Ara takut nanti dimarahin sama orang tua kakak." yang memang takut dan membayangkan seperti apa orang tua Tirta.
" Nggak usah takut Ara, lagian dari awal kau tinggal di rumah Kakak. Kakak juga udah cerita ke orang tua kakak, jadi tenang aja mereka nggak akan apa-apain kamu." jelasnya dan membuat Naura menjadi tenang.
" Syukurlah kalau begitu, Ara sampai takut loh kak." ucapnya dengan nada sendu.
" Udahlah nggak usah takut, orang tua kakak nggak makan orang kok. Dan tolong sampaikan ke Tata ya." ucap Tirta kemudian langsung mematikan sambungan telepon.
Setelah sambungan telepon mati, Ara langsung berlari ke kebun belakang rumah. Ia sudah yakin, kalau sahabatnya Tata dan juga kedua sahabat Arga. Pasti kini sedang berada di taman belakang, Karena itu adalah tempat biasa mereka menunggu Naura dan juga Arga.
" Tata..." panggil Naura yang sudah melihat Tania dari kejauhan, dan Tania pun menoleh.
" Kau ini gimana sih Tata?" ucapnya dengan menatap Tania sinis.
" Gimana apanya Ra, Gue kan nggak ada buat salah." ucapnya dengan tampang tidak berdosa.
" Ih ngomongnya tanpa rasa bersalah, handphone mu mana sekarang?" ucapan Naura.
" Di dalam tas, memang kenapa?" tanyanya yang seperti tidak mengetahui apa-apa.
" Coba sekarang kau buka handphone mu!" seru Naura, dan kini Tania langsung mengecek handphonenya.
" Oh tidak, banyak banget Kak Tirta nelpon gue tapi nggak gue angkat." ucapnya dengan ekspresi cemas dan membuat semuanya kaget.
" Nah itu yang mau aku bilang dari tadi, Kak Tirta sambil telepon aku tahu." ucap Naura kesal.
" Terus Kak Tirta ngomong apa?" tanyanya yang penasaran.
" Yang jelas kak Tirta emosi, karena kau tidak ada di sekolah. Terus ditelepon nggak diangkat-angkat." jelasnya.
" Terus ada yang lain lagi nggak, gue nggak berani telepon Kak Tirta." ucapnya ya memang ketakutan.
" Kak Tirta nggak banyak ngomong sih, Kak Tirta cuma mau bilang…kalau…" ucapnya yang tiba-tiba saja dipotong oleh Dion.
" Ngomong apa sih, kami jadi penasaran tahu." ucap Dion yang memang sudah tidak sabar.
" Ya sabar kali, main ngegas aja." jawab Naura dengan tersenyum.
" Tolong dong Ara, jangan buat gue jantungan. Gue jadi takut tahu, apa sih yang disampaikan oleh kak Tirta?" tanyanya dengan ekspresi takut dan gemetaran.
" Kak Tirta bilang, nanti malam orang tuamu balik." ucap Naura dan membuat Tania kegirangan sampai-sampai ia meloncat-loncat.