
Sedikit pengenalan
Nama : Reza Talfika
Karakter : Periang, penyayang dan cuek.
Hobby : bermain golf
Makanan kesukaan : Bakso
Minuman kesukaan : Teh jahe
...----------------...
" Kalau bunda yang menidurkannya aku tidak heran, karena ia akan selalu cepat tidur jika dipeluk oleh Bunda." ucap Tirta.
" Nah kau sudah tahu dengan kebiasaan adikku, ayah titip dia ya." ucap ayah kembali kemudian segera menarik tangan Bunda dan pergi keluar rumah.
" Semoga saja ayah dan bunda kembali dengan selamat." batin Tirta dengan tanpa sadar meneteskan air mata.
...----------------...
Pagi yang sungguh sangat cerah, kini Tania segera bangun dan pergi menuju meja makan. Ia pun mencari ke setiap sudut karena tidak melihat ayah dan bundanya, dan akhirnya ia pun memutuskan untuk bertanya kepada Tirta kakaknya.
" Kak Tirta, ayah dan bunda ada di mana?" tanya Tania.
" Ayah dan bunda sudah berangkat dek." jawab Tirta dan membuat Tania kaget.
" Secepat itukah, memangnya ayah dan bunda naik pesawat jam berapa?" tanya Tania yang merasa heran.
" Sebenarnya ayah dan bunda berangkat sejak tadi malam." ucap Tirta.
" Kakak bercanda kan?" tanya tanya yang masih tidak percaya.
" Kakak tidak bercanda dek, bahkan tadi malam kakak mengantar ayah dan bunda sampai ke depan gerbang. Ayah dan bunda sudah dijemput, dan ayah dan bunda kembali menggunakan jet pribadi." jelas Tirta dan membuat semua yang mendengar merasa kaget.
" Mas kenapa nggak bilang sama aku, kalau begini kan jadinya susah. Padahal aku kepingin masakan bunda." ucap Desi.
" Kamu kepengen masakan bunda yang mana, biar mas yang masakin." ucap Tirta dan Desi pun kembali tersenyum.
" Aku kepingin ikan gule asam padeh." ucap Desi.
" Ya sudah nanti aku belanja dulu bahannya, tapi maaf nggak bisa sekarang nanti malam mungkin baru bisa." ucap Tirta dengan mengelus kepala istrinya.
" Nggak papa mas, mas mau masakin aja Desi udah senang." ucapnya dengan tersenyum.
" Tolong dong jangan jadiin kami obat nyamuk." ucap Tania dan membuat Tirta dan juga Desi tersentak.
" Aduh Tata, kau ini ganggu aja orang lagi romantis-romantisan." ucap Naura.
" Ya habis aku lagi kesel, udah tahu di rumah ada aku dan kamu. Eh ini malah romantis-romantisan dihadapan kita, kan aku jadi pengen." ucap Tania dan Naura aku tertawa.
" Oh jadi kamu pengen, kalau gitu panggil aja kak Leo." ucap Naura dan tiba-tiba saja mereka merasa sedang di Tata, dan ternyata benar gini Tirta sedang menatap keduanya dengan sangat sinis.
" Ara ayo kita kabur!" ucapannya dengan menarik tangan Naura.
" Kak Tirtaaa…" teriak mereka.
Mendengar teriakan dari kedua adiknya, Tirta pun segera keluar untuk menghampiri kedua adiknya itu. Dan kini ia juga kaget ketika melihat sebuah mobil terparkir di hadapan rumahnya, ia pun juga bingung dan celingak-celinguk ke arah kanan dan kiri.
" Mobil siapa itu dek?" tanya Tirta yang penasaran.
" Itu dia yang mau kami tanyakan ke kakak, makanya kami panggil kakak." ucap Tania..
" Waduh kalau gitu bisa gawat nih, Siapa lagi yang ngirim mobil pagi-pagi." ucap Tirta.
Pengemudi mobil itu pun segera turun, dan ia pun menemui Tirta dan juga kedua adiknya.
" Permisi tuan, nona. Perkenalkan nama saya Oka, saya diminta untuk menjemput non Ara oleh tuan Rangga." jelas Pak sopir yang bernama Oka tersebut.
" Oh jadi Rangga yang menyuruhmu." ucap Tirta.
" Tapi aku mau sekolah mang." jawab Naura.
" Maaf non, saya hanya menjalankan perintah dari tuan Rangga." ucap sopir itu.
Tiba-tiba saja telepon Naura berdiri, dan ternyata yang menelpon adalah Rangga. Ia pun segera menjelaskan kondisinya kepada Rangga, dan akhirnya mereka memutuskan untuk pergi sekolah.
" Dek kakak sudah perintahkan sopir untuk jemput kamu, sekarang kamu ke rumah kakak ya." ucap Rangga.
" Kak, kakak lupa ya kalau ini hari sekolah." jawab Naura.
" Eh iya kakak lupa, kalau gitu sdik ke sekolah aja dulu. Nanti pulang sekolah baru ke rumah kakak." ucap Rangga.
" Oke Kak, tapi sopir Kakak ini bagaimana?" tanya Naura yang kebingungan.
" Tolong serahkan teleponnya kepada sopir kakak, biar Kakak yang ngomong sama dia." ucap Rangga dan Tirta pun segera menyerahkan handphonenya kepada sopir tersebut.
" Ini pak, kak Rangga mau ngomong." ucap Naura dan sopir itu pun segera mengambil handphone Naura.
" Saya lupa kalau hari ini adalah hari sekolah, tolong kamu antarkan dia ke sekolah. Lalu kamu tanya dia pulangnya jam berapa, nanti kamu jemput dia sepulang sekolah langsung ke rumah saya." jelas Rangga dan sopir itu pun mengangguk.
" Baik Pak." jawab sopir itu dengan nada lantang, kemudian Ia pun menyerahkan handphone Naura kembali. dan sambungan telepon pun langsung mati.
" Apa yang dibilang sama kakak Pak?" tanya Naura.
" Untuk saat ini saya akan mengantar nona ke sekolah, dan nanti siang saya akan menjemput nona dan langsung ke rumah tuan Rangga." jelas Oka yang merupakan sopir itu.
" Menurut Kakak bagaimana?" tanya Naura kepada Tirta.
" Kenapa menurut kakak, keputusannya itu ada di tangan kamu Ara. Kalau menurut kakak apa yang dikatakan sama Rangga itu ada benarnya, dan sepertinya ada keperluan yang sangat mendesak yang ingin Ia bicarakan denganmu." ucap Tirta.
" Ya udah deh kalau kakak setuju, berarti hari ini Ara pulangnya agak telat ya Kak. Karena seperti yang kakak tahu, kalau Ara sudah di rumah Kak Rangga akan sangat sulit untuk pulang cepat." ucap Naura meminta izin.
" Kalau kamu pun tidak pulang, Kakak juga tidak masalah Ara. Karena kakak sudah tahu di mana posisimu, apalagi Kakak juga sangat mengenal Rangga. Jadi kakak tidak terlalu khawatir, dan Rangga juga sangat menyayangimu." jelas Tirta dengan mengelus kepala Naura.
" Ih kakak ini nggak enak banget, sama aku aja kalau aku di luar kakak cepet banget. Ini Naura di tempatnya kak Rangga kakak B aja." ucapkan Nia yang ngerasa iri dengan Naura.
" Kamu dan Ara itu berbeda, Kalau Ara bersama dengan Rangga itu sudah hal biasa. Karena Rangga adalah kakak angkatnya Ara, dan mereka juga sudah kenal jauh sebelum Ara kenal dengan kakak. Sedangkan kamu adalah adik kandung kakak, dan kamu adalah tanggung jawab kakak. Kemudian kamu tidak memiliki siapa-siapa di sini kecuali kakak, bila kamu tidak di rumah kakak tidak tahu harus bertanya dengan siapa." jelas Tirta dan Tania pun kini menunduk.
" Eh iya juga ya, aku kan memang nggak punya siapa-siapa di sini kecuali kakak. Sangat beda dengan Ara yang memiliki banyak keluarga di sini." ucapannya dengan tersenyum.