
" Habisnya seru kak, dan wajah kak Rangga pada saat cemas itu sangat lucu. Hehehe, coba aja kalau kakak nggak percaya." ucap Naura.
Takh
" Adu sakit kak, kakak ini dari tadi jitakin kepala aku aja." ucapnya dengan memajukan bibirnya.
" Habis kau buat kakak kesal, dari tadi banyak tingkah. Tapi jujur aku jadi penasaran sih, tapi juga takut kalau sampai Rangga marah." ucap Karin.
" Ya kakak, nggak seru kali. Yauda deh, kalau gitu kita izin aja dulu. Ya mudah-mudahan dikasih izin, kalau nggak ya sudahlah." ucap Naura dengan menggelengkan kepalanya.
" Sudahlah kenapa?" tanya Karin yang penasaran.
" Ya ampun kak Karin…kakak ini bodoh atau lemot atau apa sih, baut aku kesal aja." ucap Naura yang sudah kesal dengan Karin, dan Karin hanya tertawa.
" Hehehe, maaf. Tapi tiba-tiba aku nggak ngerti." jawabnya dan Naura hanya menggelengkan kepalanya saja.
" Yauda, terserah deh. Aku uda nggak mau bahas, lebih baik sekarang kita cepat izin ke kak Rangga." ucapnya dengan menarik tangan Karin.
...----------------...
" Kira-kira Ara betah nggak ya tinggal di sana, jujur di sini tiba-tiba aja berubah menjadi sepi." ucap Desi yang merindukan adiknya.
" Sayang, kau kenapa?" tanya Tirta.
" Tiba-tiba aja aku jadi rindu sama Ara mas." jawabnya.
" Oh begitu, sayang kau harus ingat juga. Ara bukan hanya milik kita, walau bagaimanapun Rangga juga berhak atas Ara. Walaupun ia hanya kakak angkat Ara, tetapi hubungan mereka juga sudah terjalin sejak Tante Tiara masih ada. Jadi kau harus bisa terima sayang, karena hal seperti ini akan terus terjadi. Dan kau juga harus mengerti, suatu saat nanti Ara pasti juga akan pergi untuk tinggal dengan suaminya." jelas Tirta dan Desi pun mengangguk.
...----------------...
" Kenapa sih Rasya bisa ada di dekat Naura sih, jujur saja itu membuat aku tidak tenang. Tapi kalau aku bertidak dan mendekati Naura, itu akan tambah berbahaya untuk keselamatan Naura. Aaa…apa yang harus ku lakukan." ucap Arga dengan mengacak-acak rambutnya.
Tiba-tiba saja pintu di ketuk.
Tok
Tok
Tok
" Iya, masuk aja. Nggak dikunci pintunya." ucap Arga, dan akhirnya seorang pria pun masuk.
" Putra, kau kapan datang?" tanya Arga.
" Baru aja aku tiba, tapi sepertinya kau sedang banyak pikiran ya?" tanya Putra.
" Nggak juga kok Put, silakan duduk." ucap Arga.
" Iya." jawabnya kemudian duduk di samping Arga.
" Tumben kau ke sini, ada perlu apa?" tanya Arga yang penasaran.
" Aku sedang mencari pacar ku, katanya dia ada di sini. Tapi sebenarnya aku nggak yakin." ucap Putra.
" Loh kalau nggak yakin, kenapa kau bisa sampai di sini?" tanya Arga yang penasaran.
" Karena aku mendapatkan kiriman foto ini." ucap Putra, kemudian ia menyerahkan handphonenya kepada Arga.
" Cewek ini…" ucap Arga dengan kaget.
" Kau pernah melihatnya?" tanya Putra.
" Sebenarnya aku pernah melihatnya." jujur Arga, dan membuat Putra semakin penasaran di mana letak kekasihnya itu.
" Dia siswi baru di sekolahku." jawab Arga dan Putra pun tersenyum sangat lebar.
" Aku nggak salah dengar kan?" tanyanya untuk memastikan kembali.
" Iya, aku nggak bohong." ucapnya dengan tersenyum.
" Alana, akhirnya aku menemukanmu sayang." ucap Putra dengan tersenyum.
" Eh tunggu, tadi dia bilang Alana. Bukannya namanya Rasya ya, haduh jadi sebenarnya itu benar pacarnya bukan sih." batin Arga yang sedang kebingungan.
" Makasih ya Arga, Oh iya karena kau bilang dia satu sekolah denganmu. Jadi mulai besok aku akan masuk ke sekolahmu, karena aku sudah sangat merindukannya." ucap Putra kemudian pergi meninggalkan kamar Arga.
" Waduh gawat, kalau misalnya Rasya tau itu bukan pacar dia. Bisa habis aku dibuat sama dia, aku harus bagaimana ya sekarang." ucap Arga yang kini sedang kebingungan.
...----------------...
" Sayang, kira-kira kapan ya kita umumkan hubungan kita?" tanya Riko kepada Zia.
" Gimana kalau kita umumkan sekarang." jawab Zia dan Riko sangat bahagia.
Keduanya pun segera berfoto, kemudian ia segera mengupload foto itu di akun sosial media. Kini dunia maya sedang dihebohkan dengan kabar keduanya, apalagi keduanya adalah anak dari pemilik perusahaan besar. Banyak yang mengira itu hanyalah settingan semata, apalagi mereka mengetahui sifat asli Zia.
" Wow, beb coba lihat ini." ucap Zia dengan menyerahkan handphonenya.
" Memang ada apa Beb?" tanya Riko yang penasaran.
" Mending kau lihat sendiri deh beb, aku bingung buat menceritakannya." ucap Zia yang memang sedang kebingungan.
" Ya udah, sini aku lihat." ucap Riko dan ia pun segera meraih handphone, dalam sekejap ia pun menjadi kesal. Lantara komen-komen itu menghujat Zia, padahal ia berjuang mati-matian untuk mendapatkan Zia.
" Kau kenapa kesal beb?" tanya Zia yang heran melihat ekspresi di wajah Riko.
" Aku sangat sedih dan juga kesel banget, masa mereka bilang kau berusaha menggaitku. Padahal yang sebenarnya aku mati-matian mengejarmu, bahkan kau berulang kali menolakku." ucap Riko dan membuat Zia pun teringat dengan masa-masa itu.
" Beb bisa nggak masa itu nggak usah diingat, tiba-tiba aku menjadi sakit hati." ucap Zia.
" Nggak bisa beb, kalau mereka dibiarin terus. Bisa-bisa kabar ini dikira fakta, dan kau akan terus dihujat. Dan aku tidak mau itu terjadi, karena bisa-bisa karena hal itu kau pergi meninggalkanku." ucap Riko kemudian langsung memeluk Zia.
Riko pun mengarahkan semua pasukannya, kemudian mengirim semua foto-foto perjuangannya. Dan kini dunia maya semakin heboh dibuat oleh Riko dan juga Zia, sampai-sampai kabar itu meledak hingga ke luar negeri. Papi Zia yang kini berada di luar negeri pun sampai mengetahuinya, dan ia pun akhirnya segera menelpon Putri bungsunya itu.
" Halo Zia sayang." ucap papi Jarot untuk mengawali pembicaraan.
" Halo papi, papi apa kabar?" tanya Zia yang sangat gembira karena papinya menelpon.
" Papi baik sayang, kau bagaimana?" tanya Jarot.
" Aku baik pi, oh iya pi. Ada yang mau Zia kenalkan ke papi, kita VC ya pi." ucap Zia, kemudian panggilan langsung beralih ke panggilan Vidio.
" Halo sayang papi, itu lagi dimana?" tanya Jarot yang penasaran.
" Zia lagi di rumah teman pi." jawabnya yang bingung.
" Di rumah teman, atau di rumah pacar?" tanya Jarot dengan tersenyum melihat putrinya.
" Ih papi ini loh, kan Zia jadi malu." ucapnya yang kemudian tersipu.
" Halo om, perkenalkan nama saya Riko." ucap Riko dengan tersenyum dan melambaikan tangannya.
" Wah kau sangat tampan, pantas saja Zia bisa suka. Kalau begitu om jadi tenang, om tidak perlu menyaksikan perebutan kekasih." jelas Jarot dan Riko pun hanya mengangguk saja, karena ia tau siapa yang dimaksud oleh Jarot.