
Mereka terus menyusuri sudut jalan, hingga akhirnya mereka memutuskan berhenti di pasar malam. Tampak dari wajah Naura yang sangat gembira, karena melihat keramaian yang ada. Ia dan Arga pun menyuruh pasar malam, dan tanpa sengaja Naura menabrak seseorang. Dan ternyata itu adalah Sandra yang kini sedang bersama dengan pacarnya.
" Sandra." panggilnya dan membuat Sandra mengerahkan pandangannya ke arah Naura.
" Eh rupanya Lo, kirain tadi siapa." ucapnya dengan nada ketus.
" Eh kalau ngomong yang sopan ya, walau gimana pun Naura ini kakak mu." ucap Arga yang kesal dengan tingkah Sandra.
" Uda kak gpp, aku uda biasa." ucapnya dengan menahan Arga dan menatap ke arah kepergian Sandra.
" Tapi nggak bisa gitu Ra, dia uda keterlaluan." ucapnya yang masih kesal.
" Udalah kak, lagian kita kan rencananya mau main-main. Eh ini kok malah marah-marah." ucapnya dengan tersenyum.
" Ya habis si Sandra itu buat marah aja." ucapnya yang kesal.
" Uda nggak usa pedulikan mereka." ucap Naura dengan menatap Arga, dan dalam seketika jantung Arga berdetak dengan sangat cepat.
" Hadu ada apa dengan jantungku." batin Arga.
" Kak, kak, Kak Arga." panggil Naura yang tidak di jawab-jawab oleh Arga.
" Eh iya ada apa." jawabnya yang baru tersadar.
" Nggak nggak jadi, Kakak nggak enak. kakak yang ngajak eh kakak juga yang repot sendiri." jawab Naura dengan memanyunkan bibirnya, kemudian berjalan meninggalkan Arta.
Arga yang merasakan Naura sedang marah, Ia pun mengejar Naura hingga keluar dari pasar malam. Ia pun berusaha untuk membawa Naura kembali ke pasar malam, tetapi Naura enggan untuk kembali. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dari pasar malam, dan jalan-jalan menyusuri jalanan.
Tiba-tiba saja terdengar suara perut Arga, dan sontak saja keduanya tertawa dengan hebat. Arga yang melihat ada makanan pinggir jalan, ia pun menghentikan motornya dan mengajak Naura untuk makan. Awalnya ia hanya bercanda, tetapi Naura justru turun dan pergi lebih dahulu menemui pedagang tersebut. Sontak saja Arga merasa heran, ia tidak pernah menemui wanita seperti Naura. Wanita yang biasanya ia kenal, selalu saja tidak mau untuk makan di pinggir jalan. Tetapi sangat berbeda dengan Naura, yang bahkan ia sudah pergi terlebih dahulu ke tempat pedagang tersebut.
Arga masih dalam lamunannya, ia terus menatap ke arah Naura. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ia alami, ia merasa kalau hal itu adalah mimpi. Tetapi tiba-tiba Naura memanggilnya dan akhirnya ia pun tersadar, kalau yang ia lihat adalah kenyataan.
Sebenarnya ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat, tetapi ia berusaha tetap tenang. Apalagi kini ia sedang melihat Naura yang sedang menyantap bakso pinggir jalan itu, ia semangkin menyadari perbedaan Naura dengan wanita lain. Dan pun bersyukur karena sudah di pertemukan dengan Naura, sosok wanita yang membuat ia tertarik bukan karena kecantikannya saja.
Naura terus menyantap makanan itu dengan lahap, tetapi ia menyadari kalau Arga sejak tadi tidak memakan bakso itu. Akhirnya ia pun menegur Arga, dan juga merasa tidak enak. Karena seakan-akan ia yang mengajak makan disana, dan ia menyadari kalau yang dikatakan oleh Arga adalah basa-basi karena tidak mungkin Arga mau makan di pinggir jalan. Apalagi setelah melihat lingkungan sekitar dan mengingat pola hidup Arga selama ini.
" Nggak enak ya kak, maaf ya." ucapnya dengan lembut.
" Cantiknya." ucapnya yang tanpa sadar dan membuat Naura tersipu malu.
" Nggak kok kak, uda cepat habisi."ucap Naura, ya masih menunduk karena tersipu malu.
Keduanya pun segera menghabiskan makanan itu, kemudian keduanya langsung pergi dari sana. Mereka pun kembali keliling-keliling tidak jelas, karena mereka tidak mengetahui arah dan tujuan. Mereka terus menyusuri jalanan, hingga telpon Naura berdering karena Tirta sangat khawatir dengan Naura.
" Halo kak." ucap Naura untuk mengawali pembicaraan di telepon.
" Ara dimana?" tanyanya tanpa berbasa-basi.
" Ara lagi jalan-jalan kak." ucapnya dengan santai.
" Oh, tapi uda malam Ara. Pulang ya kakak khawatir, perasaan kakak nggak enak." ucapnya karena memang perasaannya sedang tidak enak.
" ok kak, Ara pulang." jawabnya kemudian mematikan sambungan telepon.
Setelah telpon mati, Naura dan Arga pun segera pergi menuju ke rumah Naura. Tetapi di tengah perjalanan, mereka di hadapan oleh anak geng motor. Keduanya pun tersentak dan kebingungan, mereka tidak tau harus apa. Mereka pun berusaha pergi dengan baik-baik, tetapi mereka tidak mengizinkan Naura dan Arga pergi.
Arga yang mendapat kekerasan dari mereka, awalnya ia diam. Hingga ia mendengar Naura meringis kesakitan, amarahnya pun memuncak. Ia langsung menghajar mereka, sontak saja Naura menjadi kaget. Sikap Arga saat ini membuat Naura kaget, karena ia tidak pernah mengetahui kalau ternyata Arga jago beladiri.
Setelah pertandingan selesai, Arga pun langsung menemui Naura yang saat ini sedang diam mematung. Arga pun menyadarkannya, Arga juga tau kalau Naura pastinya kaget. Karena ia tidak pernah menunjukkan kepada siapapun kalau ia bisa beladiri.
Arga pun memeluk Naura, kemudian menepuk pundaknya. Itu semua ia lakukan, karena ia ingin melindungi Naura. Baginya tidak masalah kalau ia yang terluka, tapi jika Naura yang terluka. Ia tidak akan memberikan ampunan pada orang itu.
" Uda ya, uda aman. Lagian ada aku yang akan selalu menjaga mu." ucapnya dan begitu meneduhkan bagi Naura, dan tanpa sadar ia pun menangis.
" Ta-tapi aku takut." ucapnya.
" Kan ada aku, jadi tenang ya." jelasnya, kemudian mereka langsung melakukan kembali motornya ke rumah Naura.
Sesampainya di rumah, Tirta sangat terkejut melihat penampilan Naura yang bermata semban seperti habis menangis. Dan Arga yang memar di beberapa bagian tubuhnya, ia pun langsung membawa keduanya untuk masuk. Dan memberikan keduanya minum terlebih dahulu, kemudian setelah mereka tenang. Tirta pun mulai mempertanyakan apa yang terjadi dengan mereka.
" Ara apa yang terjadi?" tanyanya pada adiknya.
Naura pun menjelaskan apa yang terjadi, sontak saja Tirta pun terkejut. Ia tidak menyangka adiknya mengalami hal ini, untungnya Arga bisa beladiri. Jadi ia melindungi Naura, kalau tidak ia tidak tau apa yang akan terjadi kepada adiknya itu.
" Yauda kalian masuk dulu, Ara kau langsung ambil es untuk kompres ya." ucap Tirta yang masih dengan tatapan sinis, Arga pun takut melihat wajahnya. Tetapi ia merasa tenang mendengar ucapan Tirta.
" Baik kak." jawab Naura dengan membawa Arga untuk masuk ke dalam, kemudian ia mendudukkan Arga di sofa ruang tamu. Dan kemudian langsung pergi ke dapur untuk mengambil es.