
" Yang kau katakan adalah kebenaran, jika aku bahagia maka mereka berdua juga akan bahagia. Tetapi aku tidak ingin mengorbankan perasaan, aku udah nonton memang sudah cukup lama kenal. Tetapi kami tidak memiliki perasaan yang berbalas, dan jika diteruskan maka kami akan saling menyakiti." jelasnya.
" Natan, apakah kau menyukai Naura?" tanya Zia yang langsung, dan kini semuanya menjadi panik.
Natan kebingungan untuk menjawab, sebenarnya ia memang sudah menyukai Naura. Tetapi ia takut kalau Naura tidak menyukainya, dan hal itu akan sangat menyakitinya.
" Kalau memang kamu menyukai Naura, lebih baik kau katakan sekarang. Sebelum nantinya Naura akan direbut oleh orang lain, dan pastinya kau akan sangat menyesal." ucap Zia.
" Yang dikatakan oleh Zia adalah benar, sebelum kau menyesal nantinya. Lebih baik kau mengutarakannya secepatnya, saat ini Naura memang sedang sendirian. Tetapi aku tidak tahu beberapa hari ke depan, jangan pernah memikirkan Kalau engkau akan ditolak. Ataupun pengutaraanmu akan merusak hubungan pertemanan kalian, karena bila ia sudah bersama dengan yang lain maka engkau sendirilah yang akan menyesal." jelas Tania untuk meyakinkan Natan.
" Yang dikatakan oleh mereka berdua ada benarnya, aku memang tidak mengetahui kalau kamu menyukainya atau tidak. Tetapi dari penglihatanku sepertinya kau menyukai Naura, hal itu dapat terlihat dari kau yang sangat memperhatikannya." jelas Arya yang tiba-tiba saja angkat suara.
" Saat ini suasana hatiku sedang kacau, tolong jangan bahas yang aneh-aneh dulu. Aku mohon kepada kalian, berikanlah aku solusi yang benar. Jangan membuat aku menggantung di awan, dan tidak menemukan jalan penghujung." ucap Naura yang memang sedang kebingungan.
" Justru saat ini kami sedang memikirkan jalan akhirnya, kami tidak ingin engkau mendapat hukuman. Karena itu kami memberi usul hal ini, ya walaupun hal ini tergantung pada kalian." jelas Tania.
" Aku tidak ingin menjadikan Nathan sebagai alat agar aku tidak mendapat hukuman, untuk saat ini aku sedang tidak memikirkan hal lain. Aku sedang fokus untuk menuju ujian akhir sekolah, dan kita juga sebentar lagi akan segera naik kelas. Ya memang ujian akhir sekolah masih terbilang lama, tetapi kita harus segera mempersiapkannya agar kita tidak keluar dari kelas kita." jelas Naura.
" Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, kau sudah dengan susah payah untuk masuk ke kelas unggulan. Dan karena itu kau tidak ingin keluar dari kelas itu, tetapi untuk hari ini saja jangan pikirkan tentang belajar. Aku tahu kamu memikirkan hal itu karena itulah hal yang bisa membuatmu tenang, karena saat ini pikiranmu sedang bercabang antara Arga dan juga kedua Kakak mu." jelas Tania yang memang bisa menebak dari wajah Naura.
" Kau memang adalah sahabatku Tania, dan kau sudah mengenal diriku sejak awal aku pindah ke sini. Bahkan terkadang kau juga bisa menebak jalan pikiranku, yang kau katakan memang ada benarnya. Tetapi aku tidak ingin menyakiti siapapun, dan aku yakin Natan tidak mungkin menyukai diriku. Jadi jangan rusak kebahagiaan ia, biarkan ia menjalin hubungan dengan orang yang benar-benar ia sukai. Aku tidak ingin menjadi penghalang antara ia dengan orang yang ia sukai, lebih baik aku menerima amarah dari Kak Rangga dan juga Kak Tirta. Daripada aku harus menyakiti Natan, karena hubungannya dan orang yang ia sukai akan renggang.
" Kau jangan pernah mengambil kesimpulan sendiri, kau masih belum mengetahui apa yang dirasakan oleh Natan. Kalau dari penglihatan kami dia benar-benar menyukai dirimu, jangan patahkan harapannya Naura." ucap Arya.
" Tidak usah menipu diriku, aku tahu kalian selalu ingin melihatku tersenyum. Tetapi jangan korbankan kebahagiaan kalian demi diriku, aku tidak ingin menyakiti siapapun. Dan bagiku kebahagiaan kalian adalah kebahagiaanku, jadi jangan pernah korbankan kebahagiaan kalian hanya demi aku." ucap Naura.
" Lalu bagaimana kalau aku memang benar-benar menyukai dirimu." ucap Natan yang tiba-tiba saja angkat suara.
" Sebenarnya aku ingin jujur kepadamu Ra, sejak awal di hatiku tidak ada Aminah. Saat itu aku terpaksa berpacaran dengan Aminah, karena Aminah selalu saja dikejar-kejar oleh Miko." jelasnya.
" Miko kakak tingkat kita yang berandalan itu?" tanya Naura untuk memastikan kembali.
" Yang kau katakan adalah benar, iya adalah Miko yang itu. Karena itu aku terpaksa pacaran dengan Aminah, karena aku ingin melindungi Aminah. aku, kau, dan Aminah. Kita sudah bersahabat sejak lama, oleh karena itu aku tidak ingin Aminah terjerumus." jelasnya.
" Lalu mengapa kalian tidak menceritakannya kepadaku, mengapa kalian hanya menyimpan rahasia ini berdua saja. Mungkin kalau kita tidak bertemu di sini, aku tidak akan pernah mengetahui kisah antara kau dan juga Aminah. Sebenarnya kau anggap aku ini apa, kita ini sudah bersahabat sejak masih kecil. Tetapi entah mengapa aku merasa asing dengan kau, aku merasa kau sudah banyak berubah Natan." ucap Naura yang tanpa sadar berderai air mata.
" Maafkan aku Naura, aku hanya tidak ingin kamu terjerumus dalam hal ini juga. Aku tidak ingin kamu tersakiti, karena Miko pastinya akan terus membawa urusan ini." jelasnya yang mengkhawatirkan Naura.
" Oke kalau itu adalah keputusanmu, aku juga tidak bisa mengatur dirimu. Lalu bagaimana dengan Aminah saat ini, kau sekarang sudah pindah ke sini Natan. Lalu siapakah yang menjaga Aminah?" tanyanya yang khawatir.
" Kau tidak usah mengkhawatirkan Aminah, Aminah sudah memiliki orang yang bisa menjaganya. Dan bahkan aku juga sempat bertemu dengannya, namanya adalah Afrizal. Aku rasa Afrizal adalah orang yang baik, dan karena itu aku bisa tenang melepaskan Aminah bersama dengannya." jelasnya dan membuat Naura menjadi sedikit tenang.
" Syukur alhamdulillah kalau seperti itu, tetapi kini aku menjadi penasaran dengan sosok Afrizal. Kebetulan aku juga sudah lama tidak bertemu dengan Aminah, bisakah kau mempertemukan aku dengan mereka berdua!" ucapnya dengan ekspresi memohon.
# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.
1. Rela Walau Sesak
2. Derai Yang Tak Terbendung
3. Sepahit Sembilu
4. Azilla Aksabil Husna