Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 38



" Bantuin gimana?" tanya Tama yang sangat penasaran.


" Ya bantuin gue lah, buat selidiki sebenarnya siapa Tania. Jujur gue nggak percaya kalau Tania itu orang biasa, dari sikap dan tingkah lakunya bisa dipastikan kalau dia bukan sembarangan." jelas Lusi dan Tama hanya mengangguk memikirkan perkataan yang dikatakan oleh Lusi.


" Lo tenang aja Lusi, gue bakal bantuin lo buat selidiki Tania. Karena sepertinya banyak misteri di dalam kehidupan Tania, dan jujur gue juga penasaran." ucap Tama dengan antusias.


Mereka berdua kemudian berjabat tangan, mereka mulai menyusun rencana untuk mencari tahu siapa sebenarnya Tania. Mereka ingin tahu apa yang mereka tidak ketahui tentang Tania.


Sebelum itu mereka berniat untuk menceritakannya kepada Yuda. Namun, mereka masih bimbang karena mereka masih belum tahu siapa sebenarnya Tania. Mereka takut kalau asal usul keluarga Tania yang sebenarnya memang bukan orang biasa itu ternyata juga tidak disukai oleh orang tua Yuda.


Mereka terus saja memikirkan hal itu, hingga akhirnya mereka lelah dan memutuskan untuk mengatakannya kepada Yuda. Walaupun nantinya hubungan Yuda dan Tania berjalan atau tidak, yang terpenting mereka berusaha untuk menyatukan sahabatnya itu dengan Tania.


Mereka akhirnya menemui Yuda di dalam ruangan kelas, mereka langsung menarik Yuda ke tempat yang tidak ada siapapun. Mereka mulai menceritakan apa yang telah mereka lakukan, dan menceritakan tentang kejadian kemarin.


Yuda kaget dan tidak percaya, ia masih hanyut dalam kebingungan. Ia masih tidak menyangka kalau ternyata Tania bukan anak orang biasa, rasa di hatinya semakin mencuat dan ia tak tahu apa yang dirasakannya itu. Kini ia sangat gembira setelah mendengar kabar dari kedua temannya itu.


Yuda mulai menyusun rencana untuk mendekati Tania, ia tidak ingin kalau Tania menjauh darinya. Ia ingin perlahan-lahan untuk mendekati Tania, dan menjadikan Tania sebagai miliknya.


Tak terasa bel pun telah berbunyi, mereka semua pun kembali ke dalam ruangan kelasnya. Belum sampai mereka terduduk guru ternyata sudah datang, guru pun memberikan tugas kepada mereka bertiga karena mereka masih belum duduk di bangkunya. d6an Hal itu membuktikan kalau mereka baru saja datang, padahal bel sudah bunyi dari tadi.


Ibu guru memerintahkan mereka untuk membersihkan perpustakaan, mereka bertiga tidak bisa membantah perintah dari guru itu. Dan akhirnya mereka pergi ke perpustakaan, mereka mulai disibukkan dengan kegiatan berbersih-bersih.


Cukup lama juga mereka bertugas membersihkan perpustakaan yang sudah dipenuhi oleh banyak debu. Mereka yang sudah lelah akhirnya terduduk di meja tempat membaca yang berada di perpustakaan itu, tanpa sadar mereka pun terlelap.


Tania dan Naura yang merasa bosan akhirnya memutuskan untuk pergi ke perpustakaan, mereka mulai mencari buku yang ingin mereka baca. Setelah ketemu mereka pergi ke tempat duduk untuk membaca, dan alangkah kagetnya mereka ketika melihat yuda, Tama dan juga Lusi yang kini telah tertidur.


Mereka awalnya berniat untuk membangunkannya. Namun, ketika melihat ekspresi wajah ketiga Kakak tingkatnya itu, mereka berdua langsung mengurungkan niatnya. dengan melihat wajah Kakak tingkatnya itu mereka sudah mengetahui kalau kakak tingkatnya itu sedang kelelahan.


Naura sangat bahagia untuk sahabatnya itu, tetapi hingga kini ia masih belum mengetahui kalau ternyata pacar dari sahabatnya adalah kakak tirinya Leo. Sangking penasarannya ia mulai mengarang informasi tentang pacar Tania. Namun, Tania tidak ingin menceritakannya. Dan Naura akhirnya pun terdiam dan tidak ingin membahas apapun lagi.


Yuda yang mendengar suara Tania, Ia pun terbangun dari tidurnya. awalnya ia mengira kalau itu hanya bayangan saja, dan Ia tidak menyangka kalau Tania memang berada di hadapannya. Ia pun tersipu malu ketika melihat senyum Tania, sungguh senyuman itulah yang sangat ia rindukan.


Yuda terus menatap ke arah Tania, teman-teman Yuda yang baru terbangun dari tidurnya mulai memperhatikan Yuda. Mereka mulai mencari arah pandangan Yuda, Dan ketika mereka mengetahui siapa yang dipandang oleh Yuda. Mereka tidak mengatakan apapun mereka hanya menggelengkan kepalanya saja.


Dengan melihat interaksi Yuda kepada Tania, mereka semakin ingin menggali tentang Tania. dan mereka ingin mempersatukan Tania dengan sahabatnya Yuda, Lusi akhirnya memutuskan untuk pergi menghampiri Tania dan juga Naura.


Ia mulai sedikit perbincangan dengan kedua sahabat itu, iya yang sangat buta dengan buku-buku yang ada di perpustakaan terpaksa harus menjadi orang yang mengetahui. Ia tidak menyangka kedua wanita cantik di depannya ini ternyata adalah kutu buku.


Hal yang disukai oleh kedua wanita yang ada di hadapannya membuatnya menjadi resah, dan menjadi sulit sendiri. Kebohongan yang ia mulai dihadapan Tania dan Naura kini menyulitkan dirinya, dan mulai membuatnya pusing karena ia tidak mengetahui apa yang sedang dibahas oleh kedua sahabat itu.


Untungnya Lusi terselamatkan oleh bell masuk yang sudah berbunyi, Lusi menghembuskan nafasnya karena ia merasa lega. Tania dan Naura pergi menuju kelasnya, sedangkan Lusi dan juga kedua temannya kini menghadap kepada penjaga di perpustakaan. setelah penjaga melakukan pemeriksaan di tempat-tempat yang harus dibersihkan oleh ketiga orang itu, akhirnya penjaga menyuruh mereka untuk kembali ke kelas.


Ketiga orang itu kembali ke dalam kelas dengan terburu-buru, mereka tidak ingin dihukum lagi oleh guru yang berada di ruang kelasnya. Mereka yang tidak pernah menyentuh alat-alat pembersih terpaksa harus membersihkan ruangan perpustakaan yang dipenuhi oleh banyak debu.


Akhirnya mereka bertiga sampai di dalam ruangan kelas, mereka duduk di bangkunya masing-masing. Dan mereka mulai membuka buku mata pelajarannya akan mereka ajar. Tingkat ketiga orang itu membuat guru yang berada di dalam ruangan kelas merasa kaget.


Ringkah ketiga orang sahabat itu sangat berbeda dari tingkah mereka biasanya, guru yang berada di ruang kelas merasa kebingungan dan juga takut. Ia takut kalau ketiga siswanya itu telah diikuti oleh sesuatu, memang pemikirannya konyol. Namun, hal seperti itu sudah biasa terjadi di lingkungan sekolah itu.


Ketiga anak bandel ini, sudah sering mengusik lingkungan sekolah dan kemungkinan kalau mereka diikuti oleh makhluk yang tidak kasat itu bisa saja terjadi. Guru terus memperhatikan ketiga orang itu.


Karena melihat tingkah mereka yang adil namun tidak melakukan hal yang mengganggu proses pembelajaran, guru itu pun tampak kembali tenang. Dan ia telah membuang pikirannya jauh-jauh, dan mengira kalau ketiga anak itu telah berubah dan ingin belajar. Apalagi kini ketiganya sudah memasuki kelas XII dan akan menghadapi ujian akhir dan lulus dari sekolah itu.