Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 119



" Aku tidak sedang salah dengar kan?" tanyanya yang masih tidak percaya.


" Tidak, kakak memang sudah bertemu dengan pacarmu." ucap Rangga.


" Lalu bagaimana kak, kakak merestui kan hubungan kami?" tanya Zia dengan guguk.


" Menurut kakak dia adalah orang yang baik, sekarang tinggal minta restu dari ayah saja." ucap Rangga dan dia pun menjadi sangat gembira.


" Hore." ucapnya dengan meloncat kegirangan.


" Kau ini seperti anak-anak saja, umurmu sudah bukan anak kecil lagi. Bahkan kau juga sudah memiliki kekasih, dan kakak dengar juga rencananya setelah lulus kalian ingin menikah." ucap Rangga.


" Aku tahu kakak khawatir padaku, kakak tenang aja ya. Aku nggak akan menikah setelah lulus kok, aku ingin melanjutkan pendidikanku ke tingkat perkuliahan terlebih dahulu. Setelah aku menjadi sarjana, aku baru akan melanjutkan hubunganku ke jenjang pernikahan." jelasnya dan Rangga pun tersenyum.


" Kakak sangat senang mendengar keputusanmu, tetapi kakak masih penasaran. Mengapa kamu bisa mengubah keputusanmu, padahal awalnya kau yang paling kekeh. Itulah yang kakak dapatkan dari pacarmu, walaupun dia harus tersipu malu terus-menerus ketika menjawab pertanyaan dari kakak." jelas serangga dan kini Zia menjadi tersipu malu.


" Aku mengubah keputusanku, itu semua karena seseorang yang menurutku sangat baik. Ia membuka pemikiranku, ia mengatakan kalau pendidikan sangatlah penting. Dan oleh karena itu, aku harus menyelesaikan pendidikanku terlebih dahulu. Agar aku tidak tergantung kepada laki-laki, dan aku bisa hidup dengan senyuman ku. Karena aku bisa memenuhi kebutuhanku sendiri, jadi ketika dia melakukan hal yang salah aku bisa pergi meninggalkannya." jelasnya dan Rangga pun menatap ke arah Naura.


" Pendapat tersebut memang sangat benar, dan kakak sangat mendukung pendapat itu. Kakak bersyukur pikiranmu terbuka, dan kakak harap kamu bisa memegang perkataanmu yang saat ini. Bukannya kakak ingin menyepelekan dirimu, tetapi kau sering ingkar dengan omonganmu sendiri." ucap Rangga dan Zia pun tersenyum kecut.


" Iya aku tahu aku salah, aku akan berusaha untuk tidak mengingkari omonganku sendiri. Dan aku akan berusaha untuk menjadi apa yang dikatakannya, menjadi wanita mandiri yang bisa membeli apapun dengan uangnya sendiri." ucapnya dengan tersenyum.


" Semoga saja kau bisa menepati omonganmu tersebut, kalau begitu kakak pergi dulu ya. Kebetulan kakak ipar kalian sudah menunggu, kakak tidak enak meninggalkannya terlalu lama." jelasnya kemudian lagi langkah pergi dari kamar Naura.


" Iyalah tuh yang manten baru." ucap Zia menggoda Rangga.


" Awas aja kalian berdua." ucapnya tetapi tetap melangkah pergi.


" Hahaha." tawa keduanya serentak.


" Sudahlah perutku sakit, lebih baik sekarang kita packing. Karena besok kita sudah harus kembali ke Indonesia, kalau kita packing nya esok hari takutnya tidak sempat." jelas Naura.


" Yang kau katakan benar juga, kalau begitu aku akan membantumu packing. Tapi setelah itu kau juga harus membantuku packing." ucapnya dengan tersenyum.


" Oh tentu, kalau begitu ayo kita cepat packing." ucap Naura dengan semangat.


Mereka pun segera merapikan barang-barang yang ada, satu persatu mulai dimasukkan ke dalam koper. Dan tanpa terasa akhirnya mereka telah selesai, kini giliran Zia yang harus packing. Mereka pun segera pergi menuju kamar Zia, karena mereka tidak ingin membuang-buang waktu.


" Akhirnya selesai juga." ucap keduanya dengan meregangkan ototnya.


Keretek


Keretek


Keretek


" Hahaha." tawa keduanya.


" Tampaknya kita sangat kelelahan." ucap Zia.


" Tentu saja, kita kan belum istirahat dari semalam. Satu harian acara adat, kemudian hari ini dilangsungkan acara akad pernikahan. Sungguh hari yang melelahkan, aku jadi tak terbayang gimana rasanya jadi kak Rangga dan juga kak Karin." jelas Naura dan Zia pun mengangguk.


" Pastinya mereka lebih lelah dari kita, kau lihat saja kemarin aja acara adatnya sampai tengah malam loh. Aku nggak tahu deh rasa capeknya mereka gimana, mungkin kalau bisa patah tulangnya patah itu." kejadian yang mengingat kejadian semalam.


" Ya nggak sampai patah juga kali, lagian semalam kan juga ada istirahatnya." ucap Naura.


" Ya kan ini cuma perumpamaan aja, aku pun nggak rela kalau sampai tua mereka patah." ucap Zia yang memang tidak rela.


" Ya udah deh, daripada kita membahas hal tentang itu. Lebih baik sekarang kita pergi ke kamarmu untuk packing, nanti lama-lama jadi males loh." ucap Naura dan mereka pun segera pergi menuju kamar Zia.


Mereka pun kini telah sampai di kamar dia, tanpa kamar yang luas dengan dekorasi berwarna putih cerah. Yang dipadukan dengan sprei berwarna hijau, ruangan Itu tampak seperti danau yang damai.


" Kamarmu bagus juga ya." puji Naura dengan melihat sekitar.


" Aku justru merasa kamarmu lebih indah, perpaduan putih dan juga pink. Sedangkan kamar ini perpaduan putih dan juga warna hijau." jelas Zia.


" Kamar yang aku tempati tersebut merupakan kamar Maura, oleh karena itu kamar itu didekorasi dengan warna putih dan juga pink. Tetapi aku lebih menyukai warna selo seperti ini, warnanya cukup indah dan membawa ketenangan." jelas Naura dengan tersenyum.


" Jadi kamu kurang menyukai kamar yang kamu tempati?" tanya Zia.


" Ya begitulah, apalagi kamar itu di dekorasi dengan banyak boneka Barbie. Jujur saja aku takut melihat boneka Barbie tersebut, entah kenapa aku sering merasa kalau boneka Barbie itu bisa bergerak." jelasnya yang memang merasa takut.


" Ya ampun Naura, boneka Barbie itu nggak bisa bergerak kali. Jadi kau tenang saja, untuk apa juga kau merasa takut dengan boneka Barbie." ucapnya dengan menggelengkan kepala.


" Yang kau katakan memang benar, tapi tetap saja aku merasa takut. Apalagi boneka tersebut menyerupai manusia, aku jadi sering membayangkan hal-hal buruk tentang boneka Barbie." jelasnya yang tiba-tiba saja menghayal kalau boneka Barbie bisa bergerak.


" Ya ampun Naura, kau ini ada-ada saja." ucapnya yang memang pencipta Barbie.


" Aku beneran loh, bahkan ketika membayangkannya saja aku bisa merinding." ucapnya dengan menunjukkan tangannya yang bulu-bulunya sudah berdiri.


" Ya ampun, kenapa sampai bisa kayak gini?" ucapnya yang kaget.


" Kan aku sudah bilang tadi, ketika membayangkannya saja aku sudah merinding." jelasnya kembali.


" Lalu kau tidak menyukai boneka sama sekali, secara biasanya anak cewek sangat menyukai boneka." ucap Zia yang penasaran.


" Aku pribadi lebih menyukai boneka teddy bear, aku rasa bulunya sangat lembut dan nyaman untuk dipeluk." ucap Naura dengan tersenyum.


" Oh jadi dirimu lebih menyukai boneka beruang teddy, boneka beruang teddy memang memiliki banyak bulu oleh karena itu sangat nyaman untuk dipeluk. Tetapi boneka yang bisa diajak main bersama dengan teman-teman, adalah boneka Barbie." jelasnya.