Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 24



Akhirnya Tania berhasil menenangkan Naura, tidak lama setelah itu bu Indri pun masuk ke kelas.


Bu Indri yang tidak mengetahui kejadian di kantin, Ia pun bertanya-tanya melihat kondisi Naura yang seperti habis menangis.


" Naura kamu kenapa?" tanya Bu inti dengan sangat penasaran.


Semua siswa tanpa hening, tidak ada yang bersuara satupun. Karena mereka tidak ingin terlibat dalam kasus Naura dan Zia yang terjadi di kantin sebelumnya.


Naura tampak bingung ingin menjawab apa kepada sang guru, tiba-tiba saja Zaky berinisiatif untuk menjawabnya.


" Tadi saya debat dengan Naura Bu." jelasnya dan membuat seisi ruangan itu sangat kaget.


" Debat tentang apa Zaky?" tanya Bu Indri yang merasa penasaran.


" Saya meminta Naura untuk mencalonkan diri juga di OSIS Bu, eh Nauranya nggak mau. Tapi tadi saya narik-narik tangan dia Bu, dan hasilnya dia malah menangis Bu." jelasnya dengan menatap Naura dan dengan ekspresi yang meyakinkan agar Bu Indri tidak curiga.


" Ya ampun Zaky, jadi tangan Naura terluka atau tidak?" Bu Indri bertanya kembali karena ia melihat mata merah Naura, dan ia sangat khawatir dengan Naura.


" Tidak Bu, hanya sedikit merah soalnya saya dan Zaky tadi tarik-tarikan Bu." jelas Tania membuat pembelaan.


" loh ngapain kalian tarik-tarikan?" tanya guru itu lagi dengan ekspresi yang sangat mengerikan.


Semua siswa dalam ruangan itu merasa sangat takut melihat tatapan dari guru itu, tidak ada yang menjawab mereka semua menundukkan kepalanya.


" Ya saya nggak mau Bu, kalau Naura masuk OSIS. terus nanti saya sama siapa Bu." jelas Tania dengan wajah murung.


" Ya ampun Tania, memang kalau Naura masuk OSIS dia nggak bakal masuk kelas ini lagi. Dan nggak akan ketemu sama kamu gitu, ibu jamin hal itu nggak akan terjadi Tania." jelas bu Indri, dan kini gantian tanya yang merasa takut dan menundukkan kepalanya.


" tadi juga uda saya bilang kayak gitu Bu, tapi si Tania nggak percaya Bu." jelas jadi yang mencoba menghentikan tatapan inti yang mengarah kepada Naura dan Tania.


" Ya uda, ya uda. Jadi sekarang ibu mau tanya sama Naura, Naura mau nggak mencalonkan diri di OSIS?" tanya Bu Indri untuk menghentikan perdebatan Tania dan juga Zaky yang sebenarnya adalah keterpuraan, karena mereka ingin menyembunyikan kejadian yang terjadi antara Naura dan juga Zia di kantin pada saat istirahat tadi.


" Nggak Bu." jawab Naura singkat.


" Kenapa kau tidak mau Naura, bukankah kau akan lebih banyak kegiatan dan juga mengenal lebih banyak siswa di sekolah ini. Dan hal itu juga bisa menambah nilai mu di kelas loh." jelas bu Indri untuk meyakinkan Naura agar Naura mau masuk ke dalam organisasi OSIS.


" Saya mengetahui keuntungan dari menjadi organisasi OSIS. Namun, saya memiliki kegiatan lain di luar sekolah Bu, dan saya tidak ingin menunda kegiatan itu. Bukan karena apa Bu, tetapi kegiatan itu adalah kegiatan yang sudah saya jalankan sejak lama bersama dengan bunda dan juga kakek saya sebelum keduanya meninggal." jelas Naura dan membuat seisi ruangan tercengang dan penasaran dengan kegiatan apa yang dilakukan olehnya.


" Apakah ibu boleh mengetahui kegiatan apa itu Naura?" tanya Bu Indri yang sangat penasaran.


Bu Indri yang mendengar jawaban dari Naura, iya pun memutuskan untuk tidak membahas jenis kegiatan apa yang dilakukan oleh Naura tersebut. Dan ia memilih untuk melanjutkan proses pembelajaran di kelas itu.


Bu Indri menuliskan pembelajaran yang akan dipelajari di papan tulis. seisi ruangan memperhatikan Bu Indri. Namun, tidak dengan Tania yang mulai penasaran dengan kegiatan apa yang dilakukan oleh Naura. Dan siapa sang kakak yang dimaksud oleh Naura.


"Nau, sebenarnya kegiatan apa sih kalau aku kan di luar?" tanya Tania dengan berbisik.


" Kan uda aku bilang tadi Tan, aku tidak bisa menginformasikan apa nama kegiatan itu saat ini. Karena aku harus memberitahukan kepada kakakku terlebih dahulu." jelas Naura kembali dengan nada yang sama seperti Tania.


" Ini kakak yang kau maksud, kakakmu yang mana?" tanya Tania lagi yang tak anti berusaha agar Naura menjawabnya.


" Oh tentu saja kak Rangga dan juga Kak Reza." jawab Naura dengan tersenyum.


Zaki yang curi-curi pandang, ketika ia melihat wajah Naura yang tengah tersenyum. Ia juga ikut bahagia melihatnya, dan ia berharap senyuman itu tak pernah luntur dari wajah Naura.


" Apa, Pak Rangga dan juga adiknya Pak Reza." Tania berteriak dan seisi ruangan menatap ke arahnya.


Tania yang panik karena ia ditatap oleh seisi kelas, Ia pun tertawa untuk mengalihkan perhatian. Namun, Bu Indri berbalik dan memarahinya. Dan kini ia diminta untuk keluar kelas oleh Bu Indri, karena telah mengganggu proses pembelajaran di kelas itu.


Karena tidak ingin Bu Indri marah lebih besar lagi, Tania pun segera keluar dari ruangan itu. Kini ia berdiri di depan ruangan kelas, dan ia diperhatikan oleh anak kelas XII yang sedang jam pelajaran olahraga.


Naura yang berada di dalam ruangan, iya terus menatap ke arah pintu keluar. Ia merasa kasihan kepada Tania, yang harus dikeluarkan dari kelas karena pembicaraan mereka berdua sebelumnya.


Zaky yang menyadari tingkah Naura, Ia pun memanggil Naura dengan berbisik. Dan meminta Naura untuk memperhatikan proses pembelajaran, karena kalau ia tidak memperhatikannya. Ia juga akan dikeluarkan dari ruangan kelas.


Cukup lama juga ia memanggil Naura, dan akhirnya Naura pun merespon. Dan ia pun kembali memperhatikan pembelajaran, karena ia tahu jika ia dikeluarkan dari kelas Tania pasti akan marah besar kepadanya.


Sedangkan di luar, Tania menjadi perhatian. Banyak anak kelas XII yang memperhatikannya, dan bertanya-tanya siapa kah Tania. Akhirnya salah satu yang mengenal Tania pun bersuara.


" Woi kalian merhatiin apa?"tanya gadis itu kepada gerombolan pemuda yang menatap ke arah Tania.


" Nggak, nggak merhatikan apa-apa." jawab mereka dengan terbatas kemudian membubarkan diri.


Namun, tiba-tiba gadis itu menarik tangan salah satu pemuda. Dan ia menariknya untuk menatap Tania.


" Nggak usah ke mana-mana kali, kalian mau tau nggak siapa gadis itu?" tanya gadis itu kepada gerombolan pemuda itu.