Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 49



'' Gitu dong, kan mama jadi senang.'' ucap Mama lani dengan tersenyum lebar.


'' Mama memang the best.'' ucap Arga arga dalam hati sambil memberi kode kedipan kepada mamanya.


Tiba-tiba saja Mama lani memiliki ide, Iya meminta kepada Arga dan Naura untuk membeli buah ke pasar. Namun, ia menginginkan buah yang masih sangat segar.


'' Sayang Mama pengen buah nih.'' ucapnya dengan manja kepada sang suami.


'' Oke sayang mau buah apa?'' tanya sang ayah dengan lembut, dan jujur perkataan itu membuat Arga merinding.


'' Bebas, tapi maunya yang masih segar. dan harus Arga dan Naura yang beliin.'' ucapnya dengan mengedipkan mata.


'' Harus seger ya, Ayah tahu. Arga kamu sama naura pergi ke Bogor ya.'' ucap sang ayah dan membuat Arga kegirangan, namun tidak dengan Naura yang kini memasang ekspresi bingung.


'' Maaf nih Om, mau buah segar apa hubungannya sama ke Bogor?'' tanyanya Ya memang masih tidak mengetahui apa-apa.


'' Gini Naura sayang, di Bogor itu om punya perkebunan buah. Jadi om mau minta kamu sama Arga untuk ambilin, Bisa kan sayang?'' ucapnya dengan ekspresi memohon.


Sebenarnya Naura tidak ingin pergi ke Bogor, apalagi hanya berdua dengan Arga. Ia tidak ingin sesuatu terjadi nantinya, bukannya ia ingin mencurigai Arga hanya saja bisa saja semuanya terjadi.


Naura pun tampak berpikir sangat keras, Iya tidak tahu harus menjawab apa. Kini pikirannya telah melalang buana, tiba-tiba saja ia memikirkan perkataan yang pas.


'' Maaf nih Om, bukannya Naura mau nolak. cuman Naura belum izin sama ayah dan mama, Naura takut dimarahin dan nggak boleh masuk rumah.'' ucapnya dengan nada seduh. dan ia berharap orang tua Arga mau mengerti perkataannya.


'' Kalau soal izin kamu tenang aja, nanti kamu nggak ngapa-ngapain kok Nau. Cuma temani Arga aja.'' ucapnya dan membuat Naura tidak bisa berkata-kata apa lagi.


Naura pun tidak bisa berkata-kata apapun, akhirnya ia menyetujui permintaan Ayah dan mama Arga. Mereka pun segera keluar dari ruangan itu dan pergi menuju parkiran.


Mobil Mereka pun melaju ke arah Bogor, dan hal yang membuat mereka kesal saat ini adalah terjebak di lampu merah. Arga tampak santai dan tidak peduli dengan keadaan lampu merah, tetapi tidak dengan Naura yang sudah mulai kesal. Ia tidak ingin berlama-lama berdua-duaan dengan Arga dalam keadaan yang sangat canggung.


Demi menghilangkan kecanggungan yang ada di antara mereka, Naura pun membuka percakapan.


'' Kak, sebenarnya kita ke Bogor mau ngapain si?'' tanya Naura.


'' Ya ngambil buah la Nau.'' jawabnya.


'' Kalau ngambil buah kan bisa beli aja, ngapain sampai ke Bogor?'' tanyanya yang penasaran.


'' Mama gue tu maunya buah yang segar...'' ucap Arga yang tiba-tiba dipotong.


'' Jadi?'' tanyanya.


'' Naura dengerin gue dulu, gue belum selesai ngomong.'' ucap Arga dan mendapatkan anggukan dari Naura.


'' Kita itu ke Bogor untuk ambil buah di perkebunan milik keluarga gue.'' ucapnya.


'' Oh.'' jawab Naura yang tidak terlalu mendengarkan.


'' Naura, Lo dengar gue ngomong apa nggak?'' tanya Arga.


'' Iya dengar kok.'' jawabnya.


'' Eh tunggu, tadi kakak bilang perkebunan milik keluarga kakak. Aku nggak salah denger?'' tanyanya yang baru menyadari.


Naura tidak menjawab, ia hanya tertawa saja melihat tingkah Arga.


'' Ya maaf, habis aku sudah bosan.'' ucapnya dengan ekspresi memohon.


'' Kenapa nggak bilang dari tadi kalau bosan?'' tanya Arga.


'' Aku nggak enak kalau ganggu kak Arga.'' ucapnya dengan memberanikan diri.


Arga tertawa dengan sangat keras, dan membuat Naura tambah kebingungan. Ia kini tidak tau harus berbuat apa, ia berpikir tentang kata-katanya tadi. Dan ia pun merasa tidak ada yang salah, tetapi ia masih bingung kenapa Arga bisa tertawa.


'' Kenapa, Lo bingung ya?'' tanya Arga dan di jawab dengan anggukan.


'' Sini gue jelasin ya, gue nggak akan terganggu kalau Lo ngajak gue ngomong. Justru gue merasa bahagia dan rasa canggung dan sunyi ini akan hilang, gimana ngerti?'' ucap Arga dan mereka berdua pun tertawa dengan lebar.


Sepanjang perjalanan mereka berdua terus mengobrol, hingga tanpa mereka sadari waktu berlalu dengan begitu cepat. Dan mereka sudah tiba di perkebunan milik keluarga Arga.


Naura yang melihat hamparan buah-buahan ia langsung berlari ke kebun, ia sangat menyukai pemandangan yang ia lihat. Jujur saja sejak kepindahan ke Jakarta, ia sudah lama tidak melihat momen langka seperti ini.


'' Naura yang seperti tampak sangat cantik.'' batin Arga.


Naura yang sedang menikmati pemandangan, ia langsung melihat ke arah Arga. Ia melihat wajah Arga yang di penuhi dengan senyuman merasa heran.


'' Kak, kak, kak, kak Arga.'' panggilnya dengan kuat.


'' Eh iya, ada apa sayang.'' ucapnya yang baru tersadar.


Naura yang mendengar kata ''sayang'' ia pun tersipu malu, kemudian memalingkan wajahnya dari Arga. Arga yang menyadari tingkah aneh dari Naura, ia langsung menghampiri Naura dan memeluknya dari belakang.


Keduanya kini sedang hanyut dalam lautan asmara, tiba-tiba saja terdengar suara yang memanggil nama Arga.


'' Eh den Arga, sudah sampai den. Mari saya bantu memetik buahnya.'' ucap pemuda itu.


'' Oh baik pak, oh iya kenalin ini pacar saya Naura namanya.'' ucapnya dengan bangga.


Naura tidak bersuara, ia yang kesal pun mencubit lengan Arga. Arga pun menggerang kesakitan.


'' Oh non Naura, kenalin saya Asep. Saya mandor di perkebunan ini.'' ucapnya dengan mengulurkan tangannya.


Naura pun menjangkau tangan mandor tersebut, ketika mereka berjabat tangan. Asep merasakan suasana mencekamkan dan membuat bulu kuduknya merinding. Asep pun menatap ke arah Arga, dan ia melihat wajah Arga yang mengerikan.


'' Pantas saja aku merasakan hawa tidak menyenangkan, eh ternyata tuan muda yang sedang marah.'' batinnya.


'' Mari non, den. Ayo ikut saya, saya akan menemani den Arga dan non Naura untuk memetik buah, tadi tuan juga sudah memberi tau saya.''


Arga dan Naura pun mengikuti pak Asep ke kebun buah, setelah sampai dan melihat buah yang sudah bisa di panen. Mereka langsung memetik buah-buahan itu, mereka memetik dengan sangat bersemangat. Sampai mereka tidak menyadari kalau waktu sudah menunjukkan sore hari.


Pak Asep pun menghampiri keduanya, ia berniat untuk mengajak tuan muda dan calon nyonya itu untuk istirahat. Dan akan menempatkan keduanya di rumah perkebunan yang memang biasanya di tempati oleh juragannya itu, atau lebih tepatnya orang tua dari Arga.


'' Den Arga, non Naura. Mungkin sudah cukup buah yang kita petik, waktu juga sudah sore lebih baik kita kembali ke rumah perkebunan terlebih dahulu.'' ucap pak Asep.