
'' Tidak....'' teriak mereka berdua dengan sangat kuat.
'' Ada apa?'' ucap Tirta yang baru saja muncul akibat teriakan kedua adiknya .
'' Nggak ada apa-apa kak.'' ucapkan ya, Tirta pun menarik nafas lega.
'' Syukurlah kalau tidak apa-apa, Kakak panik tahu dengan suara kalian tadi.'' ujungnya sambil meraih kedua adiknya ke dalam pelukannya.
'' Ih kalian nyebelin, kalian jahat. Masa kalian ambil suami aku.'' ucapnya dengan tampang sedih kemudian meninggalkan mereka.
'' Gawat Kak Desi ngambek.'' ucapnya kemudian melepaskan pelukan dari Tirta, kemudian mereka mengejar Desi.
Hany kini tambah kebingungan, karena ia tidak ingin ikut campur dengan urusan keluarga ini. Akhirnya Ia memutuskan untuk pulang, dan berpamitan kepada Tirta. Karena kini yang berada di depan adalah Tirta, sedangkan ketiga wanita tadi sedang pergi entah ke mana.
'' Kak aku pulang dulu ya.'' ucapnya dengan menyalim tangan Tirta.
'' Oh ya udah hati-hati ya.'' ucap Tirta kemudian pergi masuk ke dalam rumah..
Hany pun segera melajukan kendaraannya, Ia tidak ingin lagi terlibat dengan urusan keluarga itu. Apalagi setelah mengetahui siapa sebenarnya Ara, Iya tidak tahu harus berkata apa kepada kedua orang tuanya. Walaupun kedua orang tuanya sudah merestui mereka, tapi pastinya ada yang akan menentang mereka.
Tirta langsung mencari keberadaan istri dan juga adik-adiknya, ia mengelilingi seisi rumah. Dan akhirnya ia menemukan mereka, kini mereka berada di taman dan sedang berpelukan. Tirta merasa heran dengan tingkat istri dan juga kedua adiknya itu, ketiganya sangat akrab. Dan membuat Tirta bingung apakah mereka sedang melakukan drama atau kenyataan, karena apa mereka sulit untuk dimengerti.
'' Mereka ini, nggak tahu deh apa jalan pikirannya. tadi bertengkar, sekarang berpelukan. kira-kira nanti ngapain ya.'' ucapnya yang penasaran, kemudian pergi meninggalkan mereka.
'' Kak, tadi ada Kak Tirta loh.'' ucap Tania.
'' Di mana dia sekarang?'' tanya Desi.
'' Uda pergi kak.'' ucapnya dan membuat Desi kesal.
'' Udalah Kak kayak nggak tahu kak Tirta gimana aja, Kakak kan istrinya. ucap Naura
'' Iya aku tau.'' ucapnya yang masih kesal.
Kekesalan Desi masih berada hingga makan malam, kini Tirta merasa bingung dengan sikap istrinya. Istrinya yang biasanya manja, hari ini biasa saja. Dan Hal itu membuat ia bertanya-tanya, apakah ia membuat sebuah kesalahan. Tirta pun hanya dalam dirimu sendiri, Ia pun mencoba berfikir apa yang telah Ia perbuat.
Tirta terus saja berpikir, hingga tanpa ia sadari. Desi telah selesai makan, dan kini Desi pergi menuju ke kamarnya. Tirta yang melihat itu, ia pun mengajar sang istri. Tetapi pintunya dikunci oleh sang istri, dan ia semakin kebingungan.
Ia pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke meja makan, dan bertanya kepada kedua adiknya. Jujur saja iya tak mengerti, apa yang menyebabkan istrinya bisa berubah. Dan ia tidak menginginkan hubungannya dan sang istri menjadi renggang, karena sesuatu yang tidak ia ketahui.
Sesampainya Tirta di meja makan, Iya pun langsung mencari keberadaan Ara dan juga Tata. Tetapi ia tidak menemukan kedua adiknya itu, kemudian Ia memutuskan untuk menuju ke kamar kedua adiknya. Ia pun berdiri di sela kedua kamar itu, dan mengatur kedua pintu kamar adiknya dengan bersamaan.
Karena sudah cukup lelah berdiri, akhirnya Tirta memutuskan untuk tidur di kamar tamu. s
Sambil memikirkan apa penyebab istrinya marah, ia terus saja hanyut dalam lamunannya. Tanpa terasa rasa lelah pun melanda, dalam sekejap Ia pun terlelap, masuk ke alam mimpinya.
Kini hari sudah pagi, Naura dan Tania sudah berada di meja makan. Mereka sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, sang kakak yang sedang hobinya memasak. Ia pun membawakan Naura dan juga Tania bekal, dan tanpa rasa segan keduanya langsung memasukkan bekal itu ke dalam tas.
'' Dah Kakak, kami berangkat dulu.'' ucapnya sambil menyalim tangan Desi secara bergantian.
Mereka pun pergi diantar oleh sopir, Sesampainya di sekolah. Naura langsung pergi ke ruang kepala sekolah, ia benar hari ini adalah hari perlombaannya. Dan jujur saja, Naura sangat gugup.
'' Ara kamu udah belajar?'' tanya Arga yang penasaran.
'' Sudah kak, tapi aku masih gugup.'' ucapnya.
'' Nggak apa-apa, kita sama-sama berjuang.'' ucap Arga dengan tersenyum.
Melihat senyuman di wajah Arga, Naura pun ikut tersenyum. Kini Iya kembali bersemangat, dan berusaha untuk memenangkan kompetisi. Ia dan Arga dibawa oleh kepala sekolah menggunakan mobil kepala sekolah, mereka langsung dibawa ke tempat kompetisi. Di tempat kompetisi sudah banyak para perwakilan diri sekolah yang ada, Naura sempat gugup kembali. tetapi ia mengingat perkataan Arga, dan kini semangatnya membara lagi.
Kepala sekolah melakukan daftar ulang di podium, kemudian Arga dan Naura diarahkan ke ruangan yang berbeda. Sudah banyak para perwakilan yang ada di dalam ruangan tersebut, Naura sangat gugup. Tetapi ia tidak memikirkan menang atau kalah kembali, kini yang ia pikirkan hanyalah berusaha semaksimal mungkin. Agar sekolahnya dapat memenangkan kompetisi, walaupun dia anak baru di sekolah tersebut. Tetapi ia telah mendapat kepercayaan, jadi ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Naura langsung duduk di tempat yang telah disediakan, sesuai dengan nomor urut yang telah Ia ambil di depan tadi. Mereka diberikan waktu untuk berbicara selama 10 menit sambil menunggu para peserta yang belum hadir, Naura sangat gugup. Ia pun bertemu dengan seorang gadis cantik, dan mereka pun berkenalan.
'' Hai kenalin aku Kinan, Kalau boleh tahu nama kamu siapa?'' tanyanya yang tiba-tiba saja menyapa Naura.
'' Hai juga, aku Naura.'' jawabnya.
'' Kamu Naura dari SMA... bukan?'' tanyanya kembali.
'' Iya benar aku dari SMA itu, kalau boleh tahu ada apa ya?'' ucapnya yang sudah mulai penasaran.
'' Nggak ada apa-apa kok, aku cuma kaget aja. ternyata yang dibilang orang-orang itu benar.'' ucap Kinan yang menggantung.
'' Maksudnya gimana ya?'' tanya Naura yang memang tidak mengerti maksud dari Kinan.
'' Kabar yang beredar tentangmu, ternyata kabar itu tidak dilebih-lebihkan. Kau memang sangat cantik Naura, jujur aku jadi iri sama kamu.'' ucapnya dengan tersenyum.
'' Apaan sih kamu Kinan, sejatinya semua wanita itu cantik. Nggak ada wanita yang jelek, yang ada itu wanita pemalas.'' ucapnya dan membuat Kinan tersentak.
'' Yang kamu katakan itu benar, dan sepertinya aku juga pernah mendengar perkataan itu. Kalau boleh tahu kamu dapat perkataan itu dari mana?'' tanya Kinan yang penasaran.