Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 116



" Kakak tenang aja, begitu kita balik ke Indonesia. Aku akan segera memperkenalkannya kepada kakak, sebenarnya aku juga sudah memperkenalkannya kepada ayah sih." jawab Zia yang membuat Reza kaget.


" Kau sudah melangkahi aturan keluarga dek, seharusnya aku kemudian sekarang nggak yang mengetahuinya terlebih dahulu. Setelah kami berdua mengatakan oke baru setelah itu kau membawanya ke hadapan ayah, ini mengapa kau membawanya terlebih dahulu kehadapan ayah. Kalau sudah seperti ini, jawaban hanya tergantung kepada ayah saja." ucap Reza yang sudah terlanjur emosi.


" Lalu bagaimana dong kak?" tanyanya yang tiba-tiba bingung.


" Kami tidak mengetahuinya, bila ayah tidak menyetujuinya kami juga tidak bisa membujuknya. Karena kami belum mengenal dirinya, dan kau justru sudah memperkenalkannya kepada ayah." ucap Reza kemudian pergi meninggalkan keduanya.


" Kak Reza." panggilnya yang tidak direspon.


" Sudahlah, untuk saat ini biarkan Kak Reza tenang dulu. Untuk hubunganmu dengan pacarmu, waktu kamu memperkenalkannya bagaimana respon ayahmu?" tanya Naura.


" Awalnya ayah cukup kaget sih, tapi ayah tambah kaget ketika mami dari pacarku ternyata mengenalnya." jelas Zia.


" Ternyata cukup rumit juga ya, tapi sudah dipastikan kemungkinan besar hubunganmu pasti direstui." ucap Naura dan membuat Zia tersenyum.


" Syukur alhamdulillah kalau seperti itu, tapi bagaimana kau bisa yakin?" tanya dia yang penasaran.


" Aku masih belum yakin sih, tapi seperti yang kau jelaskan tadi. Kalau mami dari pacarmu mengenal ayah, jadi bisa dipastikan kalau ayah memang mengenal dekat dengan mami dari pacarmu itu pastinya hubungan kalian akan direstui." jelas Naura dan Zia pun mengangguk.


" Yang kau katakan benar juga, mudah-mudahan saja hubunganku direstui. Dan aku berharap aku bisa secepatnya menyusul kak Rangga." ucapnya dengan tersenyum dan membuat Naura tersentak.


" Ya ampun Zia, kan sudah aku jelaskan. Kita ini masih terlalu muda untuk menikah, jangan pernah membayangkan ke sana dulu kenapa." ucap Naura yang sudah pusing dengan tinggal Zia kemudian ia pun pergi meninggalkan Zia.


" Naura tunggu, kau mau ke mana?" ucapnya dengan mengejar Naura.


" Aku pusing denganmu, aku mau nyobain kak Karin aja." ucapnya yang memang sudah malas dengan percakapannya dengan Zia.


" Aku ikut ya." ucapnya.


" Ya udah ayo, kebetulan kita juga bisa ngarahin kak Karin dan juga Kak Rangga." ucap Naura dengan tersenyum.


" Wah kalau itu aku setuju, aku juga pengen ngerjain." jawabnya dengan tersenyum.


" Kalau begitu ayo kita serbu, kita buat kehebohan di kamar keduanya. Kita gagalin rencana mereka, pasti akan menyenangkan." wajah Naura dengan tersenyum.


" Aku setuju dengan idemu, ayo kita serbu kamarnya." ucapnya yang tak kalah antusias.


Keduanya pun langsung pergi ke kamar Rangga dan juga Karin, tetapi di tengah perjalanan mereka berdua dicegat oleh Awan. Awan sudah mengetahui niat keduanya, karena itu ia juga tidak ingin membiarkan rencana keduanya berhasil. Ia sengaja berpura-pura kalau keduanya sedang dipanggil oleh pak Jarot, padahal itu semua hanya akal-akalan ia saja.


" Kalian berdua ingin ke mana?" tanya Awan yang menghadang keduanya.


" Kami ingin pergi ke sana." ucap Naura yang memang tidak ingin kalau Awan mengetahuinya.


" Ke sananya nanti aja ya, kalian dipanggil tuh sama om Jarot." ucap awan dan keduanya pun langsung berbalik.


" Untungnya aku berhasil, kalau nggak mereka akan gangguin adik kesayangan aku." batin Awan dengan tersenyum.


Kini keduanya langsung mencari keberadaan Jarot, dan akhirnya mereka pun menemukan Jarot sedang berbicara dengan Iksan.


" Ayah kenapa manggil kami?" tanya Zia yang membuat Jarot kebingungan.


" Ayah nggak…" ucapnya yang sedikit berhenti karena melihat tingkah Awan.


" Bukan Ayah kalian yang mencari kalian, tapi ayah yang sedang mencari kalian. Ayah hanya ingin tahu apakah kedua gadis manis yang ada di hadapan ayah ini sudah memiliki kekasih?" tanya Iksan dan membuat dia tersipu malu.


" Kenapa yang senyum-senyum hanya Zia saja, Naura apa nggak punya kekasih?" tanya Iksan yang merasa heran.


" Udah ke laut dia ayah." ucapnya yang malas membahas tentang itu.


" Oh begitu ya, ayah mengerti kok." ucap Iksan dengan mengelus kepala Naura.


" Ayah tidak tahu kalau kau sedang bertengkar dengan Arga." ucap Jarot dan membuat Naura menjadi mengejutkan bibirnya.


" Nggak usah dibahas ayah, lagian dia kok yang mutusin." jawab Naura.


" Ya udah deh, kalau gitu nggak usah dipikir lagi tentang dia. Lagian ayah lihat kamu juga tidak hanya dekat dengan dia saja kan, ayah dengar kamu sedang dekat juga dengan seorang pemuda bernama Natan." upacara untuk menghilangkan kesedihan di wajah Naura.


" Natan itu teman aku dari Bandung ayah." jawabnya jujur.


" Teman apa teman?" tanya Jarot yang sengaja menggoda Naura.


" Hanya teman aja ayah." jawabnya.


" Ya sudah kalau begitu, lalu hubunganmu dengan Riko bagaimana Zia?" tanya jawab yang tanpa sengaja menyebutkan nama pacar dari Zia.


" Wah ternyata namanya Riko, kira-kira orangnya ganteng nggak ya." ucap Naura dengan tersenyum kemudian menggoda Zia.


" Apaan sih kamu Ra, tentunya pacar aku ganteng dong." jawabnya yang membanggakan Riko.


" Iyalah tuh yang lagi bucin, semua juga kalah gantengnya kalau lagi bucin." ucap Naura.


" Apaan sih kamu Ra, hubungan Zia dengan Riko baik-baik aja kok ayah." ucapnya dengan tersenyum.


" Wah-wah ternyata kalian bisa juga saling meledek ya, ayah kira kalian cuma hanya bisa diem-diemin saja. Ternyata kalian bisa lebih dari itu, ayah jadi nggak sabar deh pengen lihat wajah pacar dari Zia. Sebenarnya juga pengen lihat pacar Naura sih, tapi tadi Naura bilang udah putus. Ya udah deh, yang penting salah satunya tampak di depan mata." ucap Iksan dengan tersenyum.


" Perlihatkan fotonya pada Iksan." perintah Jarot dan Zia pun segera mengeluarkan handphonenya.


" Ini om, foto pacar saya." udah Zia dengan menyerahkan handphonenya.


" Ganteng juga ya pacar kamu, pantes aja kamu sampai terpincut." ucap Iksan dan Zia pun semakin tersipu malu.


" Om bisa aja kalau ngomong, kan aku jadi malu." ucapnya dengan menunduk dan menyembunyikan wajahnya.


" Zia, Zia, om jadi teringat waktu pertama kali om menanyakan tentang Rangga kepada Karin. Tingkahnya ya tidak jauh berbeda denganmu ini, ya mudah-mudahan saja hubungan kalian bisa langgeng sampai seperti keduanya ya." ucap Iksan dengan tersenyum.


" Amin." ucap Zia dan membuat mereka tersentak.


" Zia, dengan gampangnya kau ngomong amin. Sepertinya kau sudah sangat bucin dengan dia ya." ucap Naura yang merasa heran.


" Sudahlah Ara, nanti begitu siap SMA langsung ayah nikahkan dia." ucap Jarot dan dia pun hanya tersenyum saja.


" Memang itu yang aku tunggu." batin Zia dan semuanya hanya geleng-geleng kepala.