Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 94



" Siapa anak dokter Veri?" tanya Tania yang masih kebingungan.


" Orang yang kita ajak akting semalam." jawab Naura.


" Oh pemuda tampan itu dan juga adik perempuannya." ucap Tania yang baru saja teringat.


" Iya bener, itu mereka." ucap Naura.


" Aku nggak nyangka, ternyata mereka berdua anak dokter hebat." ucap Tania yang masih tidak percaya.


" Ya begitulah, dan asal kau tau ya Ta. Kak Dimas, juga ngambil kedokteran loh di universitas itu." ucap Naura dan membuat Tania kaget.


" Wau, uda ganteng. Calon dokter pula. Kau nggak mau sama dia?" tanya Tania, dan Natan pun kini menunduk.


" Kau suka ya sama Naura?" tanya Arya dengan berbisik.


" Nggak mungkinlah, aku itu uda kenal sama kak Dimas dari kecil. Dan aku juga sudah anggap kak Dimas itu kakak aku, jadi hal itu nggak mungkin terjadi." jawab Naura dan kini Natan pun tersenyum.


" Natan, andai kau tau kalau Naura uda punya pacar. Aku nggak tau akan sesakit apa hatimu." batin Arya.


Akhirnya Rasya pun kembali, kini Arga melintasi kantin. Ia melihat Naura sedang bersama dengan dua orang pemuda asing, dan sebelumnya ia merasa kesal. Namun, ia tidak berani menentang perintah dari Rangga. Karena bila dia menentang, makan hal itu akan membahayakan nyawa Naura.


Arga hanya melihat, kemudian pandangannya jatuh pada seorang cewek. Dan ia yakin kalau pandangannya tidak salah, dan sepertinya bahaya akan sangking dekat dengan Naura.


" Aku harus menjauh dari Naura, kalau tidak nyawa Naura akan menjadi taruhannya. Kenapa juga cewek itu bisa ada di sini, sungguh sangat merepotkan. Dan juga membahayakan Naura." batin Arga.


" Arga kau sedang kenapa?" tanya Dion.


" Nggak kok, aku nggak apa-apa." jawabnya, kemudian langsung segera pergi.


Arga pun pergi meninggalkan kantin, ia pun segera pergi ke atas sekolah. Ia segera menelpon Rangga, dan ingin memberitahukan sesuatu.


" Halo kak." ucapnya untuk mengawali telepon.


" Halo juga, ada apa Arga?" jawab Rangga.


" Kak, aku hanya ingin memberitahu. Kalau Hana sudah dalam bahaya." ucapnya.


" Maksudmu apa?" tanya Rangga.


" Aku tadi melihat Rasya kak." ucap Arga.


" Rasya, anak pengusaha sukses di dunia gelap itu?" tanya Rangga untuk memastikan.


" Iya bener kak, karena itu aku ketakutan. Tapi aku tidak mendekati mereka, aku yakin bila aku mendekat. Maka itu akan tambah membahayakan Naura." jelas Wildan.


" Iya yang kau katakan benar, lebih baik kau memantau dari kejauhan saja!" ucap Rangga.


" Terimakasih infonya, aku harap kau juga bisa menjadi janjimu padaku." ucap Rangga, kemudian mematikan sambungan telepon.


...----------------...


" Leo, tolong maafkan aku." ucap Yuna.


Leo tidak menjawab perkataan Yuna, dan kini Yuna menjadi perhatian setiap mahasiswa dan mahasiswi yang lewat. Dan Hana pun merasa sangat malu, karena Leo masih saja tidak memperdulikannya.


" Kasihan banget Yuna." ucap salah satu mahasiswa.


" Nggak usa di kasihani, lagian dia memang pantas mendapatkannya." ucap mahasiswi yang satunya.


" Ih, kau kok ngomong gitu. Kau apa nggak kasihan sama dia?" tanya mahasiswi itu.


" Nggak, lagian buat apa kasihan. Kau nggak denger gosip tentang dia, dan satu lagi. Kau pasti belum melihat berita semalam kan, coba lihat deh." ucap mahasiswi itu dengan menyerahkan handphonenya.


" Wau, aku tidak menyangka. Kalau begitu ceritanya, jika aku jadi Leo aku juga akan membencinya." ucap mahasiswi itu yang menjadi kesal setelah melihat vidio itu.


" Mereka ngomongin apa sih, kenapa ada kata vidio." batin Yuna yang bingung, dan ia pun segera membuka forum kampus. Alangkah terkejutnya ia, ketika melihat vidio kejadian semalam.


" Apa, siapa yang merekam ini." ucapnya yang kesal dengan berteriak, dan ia pun menjadi pusat perhatian.


...----------------...


" Tentu dong, tapi aku masih heran. Bagiamana vidio itu bisa di siarkan di forum kampus kak Leo?" tanya Naura yang penasaran.


" Ada deh, siapa dulu. Tania gitu loh." ucapnya dengan membanggakan dirinya sendiri.


" Iya lah tuh, tapi apa nggak bisa kau bocorkan sedikit?" tanya Naura.


" Nggak bisa, nanti bisa tersebar ke Leo." ucapnya dengan tersenyum.


" Ih kau ini, memangnya perna sampai kayak gitu?" tanyanya yang kesal dengan memanjakan bibirnya.


" Ya nggak sih, tapi aku masih nggan untuk memberi tahukan pada mu. Nanti aja ya Ara." ucapnya dengan tersenyum.


" Yauda deh, tapi janji ya. Suatu hari nanti, kau akan menceritakannya padaku ku." ucapnya dengan mengulurkan jari kelingkingnya.


" Iya Ara." jawabnya, kemudian langsung mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Naura.


" Aku nggak akan biarkan kau bahagia Naura." batin Rasya.


" Tampaknya Ara sangat bahagia, sebenarnya aku ingin berada di sampingnya. Tetapi aku takut, bisa saja nanti Rasya menyakiti mu." batin Arga yang kini mengintip di depan.


" Ternyata kau disitu, aku akan membuat hidup kekasih mu menderita." batin Rasya setelah menyadari kehadiran Arga.


" Eh, sepertinya itu ada kak Rangga." ucap Naura dan kemudian ia pun segera pergi menuju pintu.


Arga yang mendengar itu, ia pun segera pergi dari sana. Dan ketika Naura tiba, sudah tidak ada siapa-siapa.


" Eh, tapi ada kak Arga, tapi sekarang kok nggak ada ya?" tanya Naura.


" Mungkin kak Arga, sudah pergi." ucap Tania.


" Ya mungkin, tapi kak Arga, agak aneh." ucap Naura.


" Udalah Ra, aku juga nggak tau. Tapi kita jangan berbuat sangka aja, siapa tau kak Rangga tadi nggak melihat kita." ucap Tania.


" Yang mungkin, yauda lah." ucapnya kemudian langsung masuk ke dalam.


" Ara, maaf kan aku. Aku nggak bisa menemui mu, aku takut Rasya akan menyakitimu." ucap Arga yang bersembunyi di dekat pintu.


" Arga, kau disini. Kenapa nggak masuk?" tanya Ryan.


" Nggak ah, aku nggak sempat. Aku cuma mau lihat aja, tapi sekarang aku mau pergi." ucap Rangga, kemudian Arga segera pergi meninggalkan tempat itu.


" Ada apa dengan Arga?" tanya Ryan.


...----------------...


" Bagaimana kondisi Ara ya?" tanya Rangga yang panik.


" Ilal…" panggil Rangga.


" Tolong kau awasi Ara." perintah Rangga.


" Baik tuan, saya akan menjaga nona." ucapnya.


...----------------...


" Bagaimana keadaan Ara dan Tata ya, untuk Ara aku sudah bisa tenang. Karena Rangga sudah melindungi Ara, tapi kalau Tata. Aku harus ekstra hati-hati." ucap Tirta.


" Mas, mas kenapa?" tanya Desi yang baru saja masuk.


" Mas nggak apa-apa, sayang kenapa kau kesini?" tanya Desi.


" Mas, yakin?" tanyanya yang penasaran.


" Iya sayang." ucapnya.


" Sebenarnya ada, tapi aku takut itu akan mempengaruhi kehamilanmu sayang." batin Tirta sambil mengelus kepala istrinya.


" Yasudah kalau nggak ada, kalau gitu aku keluar dulu." ucap Desi dengan tersenyum pada suaminya, dan dalam sesaat, permasalahan itu pun serasa menghilang.