
" Kau sudah tidak bersama Arga?" tanyanya yang kaget.
" Nggak usa pura-pura kaget, aku dengar dia sekarang sedang dekat dengan cewek sekolah ini. Pastinya kalian juga sudah mendengarnya bukan." ucap Naura dengan nada yang biasa saja dan hal itu justru membuat mereka bertambah kaget.
" Jadi kau sudah mengetahui hal itu." ucap Rasya yang berpura-pura kaget, padahal di hatinya ia sangat senang.
" Mampus kau Naura, tapi kenapa dia seperti santai saja ya." batin Rasya yang tiba-tiba kesal.
" Ya aku sudah mengetahuinya, hanya belum mengetahui siapa orangnya." jawabnya dengan tersenyum sinis.
" Uda deh jangan bahas hal itu, Naura pasti capek. Kan dia baru pulang dari Singapura." jelas Tania dan mereka yang tidak mengetahuinya pun jadi kaget.
" Kau ngapain ke Singapura?" tanya salah seorang siswi yang penasaran.
" Ih kepo." ucapnya dengan tersenyum.
Tiba-tiba saja seorang guru pun datang, ia pun segera memulai pembelajaran. Guru ini kini tampak sangat bahagia, dan hal tersebut membuat para siswa menjadi heran.
" Selamat pagi semuanya, hari ini kita ulangan." ucap guru itu dan semuanya pun tersentak mendengar hal itu.
" Bu nggak bisa pertemuan berikutnya aja." ucap salah seorang siswa.
" Iya bu." ucap semuanya serentak.
" Tidak." bentak guru itu.
" Sekarang simpang semua buku kalian, dan tinggalkan kertas selembar dan pulpen." tambahnya.
Kini tidak ada yang berkutik, semua pun segera melaksanakan perintah guru itu. Dan guru itu pun segera membagikan lembar soal ujian, kini suasana pun menjadi hening. Semuanya sibuk mengerjakan soal ulangan, dan guru itu pun berkeliling untuk mengawasi ulangan.
Semua tampak bingung, karena ulangan yang sangat dadakan hingga banyak dari mereka yang tidak mengerti. Naura dan Tania tampak biasa saja, guru itu pun tersenyum melihat keduanya. Kedua siswa yang menjadi kebanggaan semua guru itu, tampak sangat lancar mengerjakannya.
" Baik waktunya sudah selesai." ucap guru itu.
" Saya hitung sampai lima, hari sudah ada di meja saya. Satu…dwa…tiga…empat…li-lima." ucapnya.
Semuanya pun berlarian untuk mengumpulkannya, guru itu sangat senang karena telah membuat siswanya panik. Kini ia pun menutup semua lembar jawaban, dan ia langsung melanjutkan pembelajaran. Banyak sekali siswa yang mengeluhkan soal yang tidak bisa dijawab, padahal menurutnya semuanya sudah di pelajari.
" Kalian sudah sangat keterlaluan, masa soal muda kalian bilang nggak bisa ngerjain. Saya akan periksa satu-satu, dan bila mendapatkan ada yang nol atau paling rendah. Jangan salahkan saya, karena akan memberikan hukuman." ucap guru itu yang kesal.
Tiba-tiba saja bel pun berbunyi, kini ia pun segera merapikan semua barang bawaannya.
" Baik karena waktu sudah habis, kalian silakan istirahat. Dan saya tidak main-main dengan ucapan saya tadi." ucapnya kemudian langsung pergi meninggalkan ruangan kelas.
" Bagaimana Ra, sukses?" tanya Tania.
" Sukses dong." jawabnya dengan tersenyum.
" Kalau kau memang selalu bisa ya." ucapnya dengan tersenyum.
" Tentu dong, Ara gitu loh." ucapnya dengan sedikit sombong.
" Kupingnya naik." ucap Tania, dengan menggelengkan kepalanya.
" Kayak kau nggak aja, kalau aku yakinnya kau yang sedang naik kupingnya." jelas. Naura dan Tania pun hanya tertawa saja.
" Enak saja mereka bahagia, aku harus bisa menghancurkan kebahagiaan mereka. Aku nggak terima mereka bahagia." batin Rasya.
" Oh iya, aku melupakan sesuatu." ucap Naura dengan menepuk jidatnya.
" Apa yang kau lupakan?" tanya Tania yang penasaran.
" Aku ingin memberikan ini pada Natan." jelasnya dengan menenteng sebuah tote bag.
" Ya udah ayo kita temuin Natan." ucap Tania.
Kini mereka pun segera pergi ke kantin tempat biasa mereka bertemu, Rasya pun segera mengikuti mereka. Karena ia sangat penasaran dengan apa yang akan mereka bicarakan, kini mereka sudah tiba di kantin. Seperti biasa Naura dan Tania memesan mie goreng, tidak beberapa lama setelah itu Natan pun datang.
" Sudah lama?" tanya Natan.
" Nggak kok, kami baru aja sampai." jawabnya.
" Tidak masalah, lagian Putra sudah menjadi sahabat kita juga." jawab Naura.
Kini pandangan Putra terus menatap ke arah Naura, dan tiba-tiba saja ia teringat dengan perkataan Arga.
...----------------...
" Aku tidak masalah kau dekat dengan Naura, tapi aku minta tolong jangan bilang apa-apa ke dia." ucap Arga dengan menyatukan kedua tangannya.
" Memangnya sebenarnya ada apa sih?" tanyanya yang penasaran.
" Sebenarnya aku tidak ingin melepaskan Naura tapi…" ucapnya yang tiba-tiba saja terhenti dan membuat Putra penasaran.
" Apa?" tanyanya.
" Saat ini kondisi sedang tidak aman, sedang banyak orang yang mengancam kesehatan Naura bilang dia tetap menjadi pacarku." jelasnya dan membuat Putra bingung.
" Apa maksudmu?" tanya Putra yang memang masih tidak mengerti.
" Ceritanya panjang, tapi saat ini sedang dalam kondisi bahaya. Sedang ada orang yang mengincar ku, dan beberapa keluarga pebisnis." jelasnya dan membuat Putra menjadi kaget.
" Mengapa bisa seperti itu?" tanyanya yang penasaran.
" Aku juga tidak tau, tapi aku putus dengannya juga atas permintaan dari kakaknya." jelasnya.
" Apa, jadi kakak dari Naura juga ikut terlibat dengan putusnya hubungan kalian?" tanya Putra yang kaget.
" Ya begitulah, tapi itu semua demi keselamatan Naura. Aku pun menyetujuinya, karena aku tidak ingin Naura terluka." jelasnya.
" Sebenarnya, apa tujuan mereka mengincar keluarga pebisnis?" tanya Putra yang belum mengetahui situasi.
" Untuk saat ini, lebih baik kau tidak mengetahuinya. Karena ini sangat berbahaya, dan sebenarnya aku tidak ingin terlibat." jelas Arga.
" Apa ini ada hubungannya dengan pembahasan kita sebelumnya?" tanya Putra yang tiba-tiba saja mengingat pembahasan ia dan juga Arga.
" Iya benar, karena itu aku tidak ingin Naura terluka. Atau bahkan sampai kehilangan nyawanya." jelas Arga dengan berderai air mata.
" Sudahlah Arga, aku janji tidak akan memberitahu Naura. Tapi tolong jangan bersedih lagi, aku menjadi tidak enak dengan mu." jelas Putra dengan mencoba menenangkan Arga.
...----------------...
" Maafkan aku Naura, aku nggak bisa jelasin sama mu kejadian yang sebenarnya." batin Putra.
" Put, ayo duduk. Dari tadi mikirin apa sih, sampai-sampai di panggil nggak denger." ucap Arya yang kesal.
" Eh iya maaf, aku tiba-tiba aja teringat dengan sesuatu." ucapnya bohong.
" Yauda sini duduk, kita mau unboxing oleh-oleh dari Singapura ni." ucap Arya dengan tersenyum.
" Yang dikatakan Arya benar, sudah masalah mu nanti aja di pikiran." jelas Natan dan Putra pun segera duduk.
Naura pun segera memberikan hadiah kepada ketiganya, kini semuanya tampak sangat senang.
" Tania nggak dapat?" tanya Arya yang melihat Naura hanya membawa tiga tatebeg.
" Aku uda duluan tadi malam." jawabnya.
" Acih ya begitu, kau nggak seru Tan." ucap Arya yang tiba-tiba menjadi kesal.
# Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.
1. Rela Walau Sesak
2. Derai Yang Tak Terbendung
3. Sepahit Sembilu
4. Azilla Aksabil Husna