Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 78



Sontak saja Naura kaget mendengar penuturan dari Mama Arga, ia tidak menyangka kalau sang mama tidak akan menyalakan ia. Dan justru lebih peduli sama ia.


...----------------...


Tania, Dion dan juga Ryan kini sudah berada di kamar Arga. Mereka pun langsung memadukan apa yang mereka lihat sebelumnya, ketiganya sangat khawatir kepada Naura. karena seperti yang diketahui oleh Dion dan Ryan, Mama Arga adalah orang yang sangat galak. tetapi sangat peduli pada anaknya, dan itu juga yang membuat mereka nyaman bersama dengan Arga.


" Arga mending sekarang kamu cepat ke bawah." ucap Dion dengan tergesa-gesa.


" Sabar, ada apa ini? sekarang coba tarik nafas dulu, tenangkan dirimu baru kemudian cerita." ucapnya untuk menenangkan Dion.


Perlahan-lahan Dion pun menarik nafas dan membuangnya, ketika ia sudah tenang. Ia pun menceritakan kejadian yang barusan terjadi, dan Arga tampak selow saja. Kini tampak wajah kemarahan di wajah ketiganya, mereka kesal dengan Arga. Bukannya Arga segera berlari ke bawah, Iya justru tampak biasa saja.


" Arga, cepat tolongin Naura!" ucap Dion yang sudah kesal.


" Udahlah tenang aja, Naura nggak bakal diapa-apain." ucapnya dengan santai.


" Memang lo bisa jamin?" tanya Tania yang kini membuka suara.


" Tenang saja Tania, Ara kecilmu nggak akan kenapa-kenapa." ucapnya dengan tersenyum.


" Apa Lo bisa dipercaya?" tanya Tania dengan menatapnya sinis.


" Kalau kalian tidak percaya, sebentar lagi Ara juga akan sampai di sini. Dan kalian bisa tanya langsung sama dia." ucapnya dan benar saja tidak lama setelah itu Ara pun sampai di kamar Arga. Mereka pun langsung mengarungi Ara, Tania yang sangat takut. Ia pun langsung memeluk arah dan tanpa sengaja air matanya pun menetes.


" Ada apa ini?" tanya Naura yang baru saja tiba dan merasa heran.


Tidak ada satupun dari mereka yang menjawab, Naura pun akhirnya mengarahkan pandangannya ke arah Arga. Dan dengan santainya Arga hanya menggelengkan kepalanya, dan jujur situasi ini membuat Naura tambah kebingungan. Akhirnya ia membiarkan Tania untuk menangis, setelah tangisnya reda Ia pun mempertanyakan pada Tania.


" Tata kamu kenapa nangis?" tanyanya yang penasaran.


" Gue senang lo tidak apa-apa, lo nggak di apa-apain kan sama mamanya Kak Arga?" tanyanya dan membuat Naura tertawa dengan hebat, sontak saja semuanya menjadi heran. Mereka tadi sempat menyaksikan wajah pucat Naura, tetapi kini yang mereka lihat hanyalah tawa yang terukir di wajahnya.


" Lah kenapa lo ketawa?" tanya Ryan yang penasaran.


" Aku tuh lucu lihat tingkah kalian, aku tuh nggak diapa-apain sama mamanya kak Arga. bahkan mamanya Kak Arga cemas lagi mikirin aku." jelasnya dan membuat semuanya tercengang.


" Lo nggak bercanda kan?" tanya Dion yang kini menatap Naura dengan serius.


" Ngapain aku bohong, memang ada manfaatnya?" ucapnya dengan senang mungkin.


" Arga, Mama lo kesambet apa?" tanya Ryan dengan menatap ke arah Arga.


" Enak aja lo kalau ngomong, mama gue nggak kesambet ya." ucapnya dengan kesal.


" Tapi sikap Mama lo aneh banget, biasanya dia kan peduli banget sama lo. Ya namanya lo juga anak tunggal ya, pastinya paling diperhatiin dong." ucap Dion dengan mengingat kejadian-kejadian di masa lalu.


" Ya sebelumnya gue anak tunggal, ya sebelumnya gue anak kesayangan. Tapi kini semuanya udah nggak seperti itu lagi." jelasnya dan membuat Ryan dan juga Dion kaget.


" Apa jangan-jangan nyokap lo punya anak baru ya, tapi kok nggak pernah ada nampak?" ucap Ryan yang tanpa disaring.


" Ya terus apa dong?" ucapnya dengan memikirkan jawaban yang mungkin dijawab oleh Arga.


" Hal yang lu bilang Itu nggak mungkin terjadi, sekarang memang udah ada yang gantiin posisi gue. Tapi itu bukan orang yang akan gue sebut dengan sebutan adik, melainkan orang yang akan menjadi pendamping hidup gue." jelasnya dengan melirik ke arah Naura.


" Dih dasar bucin, ingat dong di sini masih ada orang lain." ucap Dion dengan kesal, dan kini semua yang berada di ruangan itu sontak saja tertawa.


" Makanya cari pacar sana." ucap Arga yang kini menggenggam tangan Naura.


" Tania, lu mau nggak jadi cewek gue?" tanyanya dengan tampang penuh harap.


" Enak aja Kak Dion ini, Kalau ngomong itu dipikir dulu kak. Tata itu udah punya pacar, mau dikemanakan pacarnya." jawab Naura yang kesal.


" Lo udah punya pacar Tan, tapi nggak pernah kelihatan tuh." ucap Dion dengan mengingat kejadian-kejadian bersama dengan Tania dan Naura.


" Tata, suruh pacar kamu yang ganteng itu segera ke sini. Eh nanti aja deh pas pulang, nanti ujung-ujungnya langsung disuruh pulang kita." ucap Naura dengan membayangkan wajah sang kekasih Tata.


" Oke aman itu." balasnya dengan memberikan dua jempol.


" Wah-wah, kita jadi penasaran nih sama pacarnya Tania. Ya kan Arga?" ucapnya dengan menyenggol bahwa Arga untuk meminta persetujuan.


" Kalian aja kali, gue mah uda kenal sama pacarnya Tania." ucap Arga dan membuat kedua sahabatnya itu kaget.


" Lo udah kenal, terus kenapa Lo nggak pernah cerita ke kita?" ucapnya dengan rasa penasaran dan juga kesal yang bercampur aduk.


" Itu kan privasinya Tania, dan gue males berurusan sama hal yang menyangkut privasi. Begitu juga dengan kalian kalau mengganggu privasiku dan juga Naura." ucapnya dengan menatap tajam ke arah keduanya.


" Iya tenang aja kita nggak akan ganggu." ucapnya kemudian langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut.


" Loh Kak Dion sama kak Ryan mau ke mana?" ucapnya dengan menatap ke arah kepergian keduanya.


" Aku ikut aja deh, dari pada jadi obatnya." ucapnya kemudian ikut melangkah pergi keluar.


" Eh mereka kok pada keluar." ucap Naura.


Naura pun langsung menarik tangan Arga, untuk mengajaknya keluar dari kamar. Belum sempat mereka keluar dari pintu, mama Arga pun datang. Ia pun langsung menatap ke arah Arga, dan seperti mengancam untuk tidak menyakiti Naura.


" Eh mama, mama ngapain disini?" tanya Arga.


" Kenapa nggak boleh, lagian kan ini rumah mama." ucapnya dengan menatap sinis.


" Nggak apa-apa sih ma, cuma kan ini kamar aku." ucapnya.


Mama tidak menjawab, ia pun langsung memandang ke arah tangga Arga dan Naura. Naura langsung menunduk, ketika ia melihat tatapan mama. Kemudian ia langsung lari keluar, untuk bertemu dengan teman-temannya.


" Ingat ya, jangan buat masalah lagi. Kalau sampai Naura terluka, kau habis sama mama." ucap mama, kemudian langsung pergi meninggalkan Arga seorang diri di kamar.


" Mama ini, selalu aja seperti itu. Yang anaknya kan gue." batinnya dengan mengeluarkan kepalanya.