
" Ya ampun kak, ya sudah deh kalau begitu saya tinggal di rumah kak Rangga aja." ucap dia yang pasrah.
Mobil pun kini menuju ke arah kediaman Rangga, kini mereka pun telah sampai di rumah Rangga. Sang sopir pun segera membawa barang bawaan milik Naura dan juga Zia, dan ia pun langsung mengantarkan ke kamarnya masing-masing. Kini Zia dan Naura merasa lapar, mereka pun segera menyantap makanan yang ada di meja makan.
" Tak kusangka masakan di rumah ini cukup enak." ucap Zia.
" Kenapa tidak kau akui kalau enak saja, kenapa harus pakai kata cukup?" tanya Naura dengan menggelengkan kepalanya.
" Karena menurutku masih ada makanan yang lebih enak." jawabnya dan pembantu yang mendengar itu merasa sakit hati.
" Iyalah tuh yang anak konglomerat." ucap Naura dengan nada sedikit mengejek.
" Tentu dong, kan aku seorang tuan putri sejak aku kecil." ucapnya dengan tersenyum.
" Iya deh tuan putri." jawab Naura.
" Aku udah kenyang nih, aku masuk kamar dulu ya." ucapnya kemudian segera melenggangkan kakinya menuju kamarnya.
" Maafkan Zia ya bi, dia memang udah seperti itu mulutnya dari dulu. Jangan disimpan di hati ya, tolong dimaklumi aja." ucap Naura dengan nada lembut
" Iya nona." jawab pembantu tersebut dengan tersenyum.
Kini Naura pun sudah mulai kenyang, dan ia pun juga segera pergi menuju kamarnya. Karena ia harus merapikan barang-barang untuk esok hari, pastinya teman-temannya sudah meminta oleh-oleh kepada-nya.
" Kalau begitu saya masuk ke kamar dulu ya bi, tolong diberesin ya. Maaf saya tidak bisa membantu, karena saya ada tugas yang harus saya kerjakan." ucapnya dengan tersenyum kemudian pergi menuju kamarnya.
" Tidak apa-apa nona, lagian ini memang sudah tugas saya." jawab pembantu itu.
" Nona Zia dan nona Naura sangat berbeda, aku jadi curiga jangan-jangan mereka dilahirkan oleh orang yang berbeda juga." ucapnya dan tiba-tiba saja pundaknya ditepuk.
" Eh mas Oka, mas buat kaget saja loh." ucap pembantu tersebut.
" Kau kalau ngomong hati-hati, nona Zia dan nona Naura memang dilahirkan oleh orang yang berbeda." jelas Oka dan membuat pembantu itu tersentak.
" Apa, lalu siapa yang anak istri pertama?" tanya pembantu itu yang kini kepo.
" Kamu ini kalau ngomong jangan sembarangan kenapa, nona Naura adalah anak angkat tuan Jarot." jelasnya.
" Oh rupanya begitu, aku tidak heran kenapa tuan Jarot mau mengangkat nona Naura. Pasti karena sikapnya yang sangat lembut dan juga manis, tapi sayang sepertinya nona Naura sama sepertiku dari kalangan miskin." ucap pembantu itu.
" Kalau ngomong jangan asal, nona Naura bukan dari kalangan orang biasa. Bahkan nona Naura sebenarnya adalah konglomerat, bisnis keluarganya ada di luar negeri. Tetapi nona Naura tidak ingin tinggal di luar negeri, dan ia lebih memilih tinggal bersama tuan Rangga yang merupakan anak angkat dari bundanya." jelas Oka.
" Apa maksudmu?" tanya pembantu itu yang masih tidak mengerti.
" Tuan Rangga adalah anak angkat dari bunda nona Naura, dan setelah bundanya nona Naura meninggal, nona Naura diminta untuk tinggal di luar negeri. Tetapi nona tidak mau tinggal di luar negeri, karena itu ia lebih memilih tinggal di sini. Dan sebenarnya nona Naura juga memiliki kakak di sini, jadi dia juga jarang menginap di rumah ini." jelas Oka.
" Kalau begitu, hari ini adalah kebetulan saja nona menginap di sini?" tanya pembantu itu dengan wajah yang ditekuk.
" Ya begitulah, makanya jangan ngomong sembarangan di sini. Apalagi jika kau membandingkan nona Zia dan nona Naura, mereka berdua sungguh sangat berbeda." jelas Oka kemudian pergi meninggalkan pembantu itu.
" Sepertinya bundanya nona Naura mendidiknya dengan sangat baik, sikap dan karakternya sungguh membuat aku suka padanya." ucapan bantu itu dengan tersenyum kemudian ia pun segera membawa piring kotor ke belakang.
...----------------...
" Halo juga beb, gimana uda sampai rumah?" tanya Riko.
" Aku sih udah sampai, tapi aku nggak di rumah. Aku disuruh menginap di rumah kak Rangga sampai semuanya pulang." jelasnya.
" Ya udah nggak masalah, nanti malam aku meluncur ke rumah kak Rangga." ucap Riko dan kini Zia pun berbunga-bunga.
" Kalau begitu aku tunggu ya beb, aku udah kangen banget sama kamu." ucap Zia kemudian sambungan telepon pun terputus.
...----------------...
" Halo Tata sahabatku sayang." ucap Naura untuk mengawali panggilan video tersebut.
" Halo juga Ara, kamu udah sampai Indonesia?" tanya Tania yang penasaran.
" Udah nih, baru aja aku sampai di rumah karang nggak." jelasnya.
" Pasti capek ya." ucapannya dengan tersenyum.
" Tentu dong, apalagi di sana itu acara adat. sungguh sangat melelahkan, aku kira acara adatnya akan seperti apa. Ternyata sama saja seperti di Indonesia, hanya bedanya karena saat ini sudah pindah ke luar negeri." jelas Naura.
" Ya udah nggak usah dipikirin, lebih baik kamu istirahat aja Ra. Kan kamu baru sampai juga, kamu apa nggak capek." ucapannya yang sudah melihat wajah lesu Naura.
" Ya tentunya aku capek dong, tapi rasa lelahku hilang ketika melihat wajahmu." ucapnya dan kini keduanya pun tertawa serentak.
" Kau ini bisa aja Ra, ih iya ayahnya kak Desi ada di sini loh." ucapannya memberitahu Ara.
" Iya aku tahu paman pulang ke Indonesia, nanti sore aku akan ke sana. Kebetulan aku juga sangat kangen sama paman, sekalian aku mau ngasih oleh-oleh buat kamu." ucapnya dan kini Tania tersenyum dengan sangat lebar.
" Wah aku jadi nggak sabar nih, kira-kira apa yang akan kau berikan padaku?" ucapannya dengan meletakkan tangannya di bawah dagu.
" Ada deh, kalau dikasih tahu sekarang namanya bukan kejutan." ucap Naura dengan tersenyum.
" Kalau begitu cepat ke sini ya, aku juga sudah sangat merindukanmu." ucap Tania.
" Iya aku akan ke sana, tapi aku mau istirahat dulu ya. Kebetulan badanku rasanya capek sekali, kalau nggak sore nanti malam aku ke sana." jelasnya dan Tania pun mengangguk.
" Ya udah istirahat, bye sahabatku tersayang." ucapannya kemudian memutuskan sambungan video tersebut.
Naura pun kini langsung istirahat, karena memang ia sudah cukup kelelahan. ia sudah tidak memperdulikan suara berisik dari dapur, yang ternyata para pelayan sedang menyiapkan makanan untuk malam nanti. Karena Zia sudah mengatakan kalau pacarnya akan hadir, dan hal itu membuat para pelayan menjadi sangat sibuk.
...----------------...
" Masak yang banyak untuk nanti malam." perintah Zia.
" Maaf nano Zia, memangnya siapa yang akan datang ya?" tanya kepala pelayan di rumah itu.
" Pacarku yang akan datang, tolong disiapkan ya paman." ucapnya dengan nada lembut.
# Ikuti terus kelanjutannya, dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.