Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 13



Naura memandang wajah Arga yang masih hanyut dalam lamunannya memikirkan Naura.


" Kak- kak Arga." bentak Naura yang sudah capek dengan tingkah Arga.


" Eh maaf Nau." ucapnya berniat meminta maaf.


Naura tidak menjawab, hanya memalingkan wajahnya saja kemudian pergi meninggalkan Arga. Arga tiba-tiba menarik tangan Naura.


" Eh mau kemana? Lo disini aja, gue telepon kak Leo dulu." ucap Arga dan Naura hanya mengangguk saja.


Arga pun mengambil handphonenya dari sakunya, kemudian ia mengetik nama Leo di dalam kontaknya. Telepon pun tersambung.


" Halo kak Leo." ucapnya mengawali pembicaraan.


" Iya ada apa Arga?" tanya Kak Leo yang heran mengapa Arga tiba-tiba saja meneleponnya.


" Se-sebenarnya, Arga mau ngajak Naura jalan-jalan dulu boleh Kak?" tanya Arga dengan terbata, ia merasa takut kalau tiba-tiba saja Leo tidak mengizinkannya. Bukan satu atau dwa orang, tetapi mungkin satu sekolah ini sudah mengetahui seperti apa sikap Leo.


" Mau jalan-jalan ke mana?" tanya Leo dengan nada tegas dan membuat Arga semangkin ketakutan.


" Keliling aja kak, lagian Naura juga belum pernah kan?" jawab Arga dengan mengatakan dirinya agar tidak kikuk menghadapi Leo.


Walaupun hanya dari sebrang telepon, suara Leo tetap sangat menakutkan. Dan wajah sangar Leo terbayang di dalam benak Arga.


" Oh, ya sudah. Tapi ingat, pulangkan adik ku dengan posisi utuh, tidak kurang satu pun. Kalau ada goresan sedikit saja, awas lo." ucap Leo memperingati dari sebrang telepon.


Wajah Arga tiba-tiba memucat, Naura yang melihatnya sangat ingin tertawa. Namun, ia tahan, ia tak mau menjadi pusat perhatian siswa-siswi yang berlalu-lalang.


" Terimakasih kak." ucap Arga, telepon pun akhirnya terhenti.


" Syukurlah kak Leo ngasih izin kalau tidak tadi, apa yang harus ku sampaikan ke Naura. Padahal awalnya aku sudah sangat meyakinkan dia." batin Arga, sambil memandang wajah Naura.


" Bagaimana kak?" tanya Naura dan membuat Arga kaget.


" Tenang aja aman, Uda dapat izin kok. hehehe." ucapnya sambil tersenyum dan tertawa untuk meyakinkan Naura.


Naura pun tersenyum, ia sangat bahagia karena akan jalan-jalan keluar. Arga yang salah paham berpikir kalau Naura senang karena akan keluar bersama dengan nya.


Naura kemudian pergi menuju kelasnya, setibanya di kelas, Naura langsung memeluk Tiara sahabatnya.


" Sepertinya, kau sangat bahagia Nau?" tanya Tania yang penasaran melihat tingkah sahabatnya itu.


" Iya, hehehe."


" Patut di curigai ini, ada apa sebenarnya?" Tania tambah penasaran, dan ia pun mengernyitkan dahinya.


" Apaan si Ti." Naura malas untuk menjawab ejekan dari sahabatnya itu. dan ia mulai membuka buku pelajaran.


Tak lama setelah itu bu Indri pun masuk ke dalam kelas, ia hanya memberikan tugas karena ia memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan secepatnya.


Naura yang memang dari dulu sudah terbiasa menghadapi situasi seperti sekarang ia ini, ia sangat tenang walaupun ia anak baru di kelas itu.


Banyak dari mereka yang semangkin yakin kalau Naura memiliki kecerdasan di atas mereka semua. Itu semua bukan karena sebab, namun karena tingkah Naura yang mengerjakan soal, seperti ia sudah pernah mengerjakannya.


Tak terasa bel pulang sekolah pun berbunyi. Semua siswa di kelas itu segera keluar dari kelas untuk pulang ke rumah masing-masing.


Salah satu siswa yang keluar dari kelas berteriak histeris, dan membuat semua siswa-siswi kaget. Karena Arga sedang berdiri di depan pintu kelas mereka.


Banyak yang berbisik dan bertanya-tanya mengapa Arga bisa ada di depan kelas mereka. Tiba-tiba Arga tersenyum ke arah Naura. Namun, wanita yang berada di depan Naura mengira kalau Arga senyum padanya.


Wanita itu punya maju untuk menghampiri Arga. Bukannya menyambut Arga justru meminta wanita itu untuk menyingkir agar Arga dapat menuju tempat Naura.


Wanita itu merasa malu, karena Arga membentak ia di depan teman-teman sekelasnya. Ia pun mulai saat itu menjadi benci dengan Naura.


Arga datang ke arah Naura dan membicarakan hal yang sudah mereka sepakati tadi di depan perpustakaan.


Naura yang malas menjadi pusat perhatian teman-temannya. Akhirnya ia pun menarik tangan Arga dan membawanya pergi menjauh dari kelasnya.


Teman-teman sekelasnya yang penasaran dengan hubungan Arga dan Naura. Mereka pun mengerumuni Tiara untuk mencari jawaban. Dari pertanyaan yang sudah memutar-mutar di dalam pikiran mereka.


" Tiara, Lo bisa jelasin?" tanya salah satu dari mereka dan mendapatkan anggukan dari semua.


Bukannya menjawab, Tiara juga ikut kabur meninggalkan teman-teman satu kelasnya. saat ini mereka hayut dalam lamunan mereka masing-masing.


" Si Tiara ini, main langsung kabur aja. Buat orang tambah penasaran." ucapnya dan yang lain hanya mengangguk.


Tiara pun akhirnya tiba di parkiran. Ia melihat interaksi antara Arga dan Naura. Ia pun merasa kalau Arga dan Naura sangat serasi. Namun, ia takut kalau sahabatnya di jahati oleh para fans dari Arga.


Sebagai seorang sahabat Tiara ikut senang bila sahabatnya bahagia. Karena itu ia berjanji akan menjaga Naura dari para fans Arga.


Naura dan Arga menaiki motor Arga. Namun, sebelum pergi Arga memakan helm dan jeket pada Naura. Dengan tujuan Arga Naura aman terlindungi bila sesuatu terjadi.


Banyak mata yang memandang, mereka merasa iri dengan Naura. Belum apa-apa saja Naura sudah mendapatkan hujatan dari para fans Arga.


Untuk menghindari omongan yang tidak ingin mereka dengar. Motor Arga melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan lokasi perkiraan.


Mereka pergi tak tau arah dan tujuan. yang penting motor tetap melaju dengan kencang. Setelah merasa aman, mereka pergi ke tempat-tempat yang sering di kunjungi Arga, saat ia merasa sedih atau kesepian.


Naura tampak menikmati udara segar yang ia hirup, Arga yang merasa Naura sedang menikmati pemandangan, tiba-tiba ia menambah kecantikan laju kendaraannya. Naura yang kaget tanpa sadar memeluk pinggang milik Arga.


Arga yang merasakan ada sepasang tangan melingkar di pinggangnya, ia tersenyum bahagia dan tidak berniat untuk menurunkan kecepatan kendaraan yang ia kendarai.


Mereka berdua tidak menyadari jikalau, ibu Arga melihat interaksi mereka berdua. ibu Arga tersenyum melihat anak semata wayangnya tampak sangat bahagia dengan Naura, ketimbang bersama dengan Zia.


Ibu Arga sangat mengerti perasaan, namun tidak dengan ayah Arga yang lebih mementingkan bisnis dari pada keluarganya.


Mama Arga sebenarnya kasihan melihat putra semata wayangnya harus hidup tidak bahagia seperti yang mereka harapkan. Namun, kalau sudah ayah Arga yang bertindak, tidak ada yang bisa ikut campur, atau akan mendapatkan hukuman yang tidak ada yang tau apa itu hukumannya.