Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 16



" Nggak sayang, papi beneran." jawabnya dan senyuman terukir di wajah kedua anak laki-laki Jarot, tapi tidak dengan putrinya.


Kedua putra Jarot langsung pergi untuk menyalin tangan Tiara dan juga kakek Danu. Kedua putra Jarot sangat senang karena akan memiliki adik lagi, dan wajah Naura sangat cantik karena itu mereka berdua menyukai Naura.


" Nggak, aku nggak setuju." ucap gadis kecil itu yang tak lain adalah Zia. Kemudian ia pergi untuk melarikan diri, karena ia tidak mau memilih ibu dan saudara tiri.


" Ti, aku titip putra ku dulu ya. Aku mau mengejar..." belum siap Jarot berbicara, Tiara sudah mengangguk.


Jarot pun langsung pergi mengejar putri bungsunya Zia, dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada putri kecilnya itu.


di tempat awal, kedua putra Jarot sedang berkenalan dengan Naura.


" Hai cantik, perkenalkan aku Rangga dan ini Reza." ucap Rangga di hadapan Naura.


" Hai juga kak, aku Naura." jawabnya dengan tersenyum.


Tiara dan kakek Danu sangat senang melihat interaksi antara Naura dan kedua putranya Jarot.


" Ti, seperti hubungan dengan Jarot akan berjalan dengan lancar. Kau lihat saja, kedua putra Jarot sangat menyukai Naura." ucap pak Danu yang mencoba menenangkan putrinya sedang khawatir.


" Mudah-mudahan saja ayah, jujur aku senang mereka akrab dan aku berharap. Mas Jarot juga bisa membujuk putrinya." Tiara mencoba menghilangkan rasa khawatirnya, namun tak kunjung hilang.


" Kita berdoa saja ya ti." sang ayah meyakinkan Tiara.


Zia berlari nta kemana, dan membuat Jarot cemas karena ia belum juga menemukan putrinya setelah berkeliling lama.


Sejak tadi ia sudah berkeliling seperti orang gila untuk mencari putrinya. Namun, hingga kini ia masih belum menemukannya.


Akhirnya setelah lama berkeliling, ia menemukan putrinya sedang menangis di pinggir jalan. Ia pun mendekati putrinya dan mencoba untuk membujuk putrinya. Namun, usaha kali ini belum membuahkan hasil.


Ia berniat untuk membawa putrinya ke cafe tempat mereka bertemu tadi. Namun, Zia nggan untuk pergi. Dan ia lebih memilih untuk pulang saja.


Jarot pun akhirnya menuruti kemauan putri dan dia pulang dengan taksi, sedangkan kedua putranya akan pulang dengan supir dan masih di tinggal di parkiran cafe.


Saat di dalam taksi ia menelpon Tiara untuk memberi tahukan semuanya, agar Tiara dan keluarga tidak kecewa. Karena takut ketahuan oleh Zia, akhirnya Jarot menghubungi Tiara melalui pesan.


Jarot pun pulang ke rumahnya dengan nyaman dan tenang. Sedangkan di cafe Tiara yang baru saja mendapatkan pesanan dari Jarot langsung mengajak ketiga anak yang sedang bermain untuk pulang.


" Sayang kita pulang yuk?" ajak Tiara pada anaknya dan kedua putra Jarot.


" Tapi papi kami belum balik Tante." ucap Rangga yang melihat kearah luar cafe dan tidak mendapati sosok sang papi.


" Tadi papi kalian telepon tante, katanya dia duluan soalnya Zia nggak mau balik lagi." jelas Tiara pada kedua putra Jarot.


" Zia nggak enak banget, padahal lagi happy sama Naura." ucap Reza yang agak emosi dengan tingkah sang adik.


" Uda la Za, lagian kita kan tau. Seperti apa tadi sikap Zia." Rangga berusaha bersikap netral.


Reza pun hanyut dalam kenangan kejadian yang terjadi di depan matanya beberapa waktu lalu, yang sempat membuat emosi karena hubungan sang papi kemungkinan akan gagal.


Ia sangat kesal dengan tingkah adik satu ayahnya itu, padahal Maminya dulu juga menikah dengan papi mereka, saat Rangga dan Reza masih kecil.


Akhirnya mereka ikut Tiara untuk pulang, Rangga dan Reza di antar oleh Tiara sampai pada mobil pribadi mereka. Kemudian Tiara dan keluarga hendak menuju taksi.


Tiba-tiba saja tangan Tiara di raih oleh Rangga, kedua putra Jarot itu melarang Tiara pulang dengan taksi. Mereka minta agar Tiara, Naura dan Kakek Danu, naik ke dalam mobil mereka.


Mobil pun akhirnya melaju ke rumah Tiara dan keluarga terlebih dahulu. Karena memang lebih dekat rumah Tiara ketimbang Jarot.


Setelah menyalami tangan Tiara dan kakek Danu, Rangga dan Reza pun segera pulang menuju rumah.


Sang papi yang masih sibuk mengurus putri bungsunya, ia tampak sangat sibuk dan lupa dengan kedua putranya yang baru saja sampai di rumah.


Rangga dan Reza yang sudah biasa terasingkan akibat adik bungsunya itu. Sudah sangat muat dan tidak ingin berdebat. Mereka memutuskan langsung masuk ke kamar mereka, walaupun nantinya Tiara tidak jadi dengan papi mereka. Mereka berdua telah bertekad akan tetap bertemu dan juga berteman dengan Naura, hingga mereka dewasa kelak.


Itulah yang sudah tertanam dalam benak mereka. Hari demi hari telah terlewati, tak terasa sudah satu bulan setelah pertemuan kedua keluarga. Namun, Zia masih juga belum bisa di bujuk. Akhirnya rencana pernikahan itu batal.


Pak pergi menemui Bu Tiara untuk yang terakhir Kalinyamat sebelum ia pergi untuk melanjutkan bisnisnya di Singapura. Mereka bertemu di tempat biasa mereka bertemu.


" Ti, aku minta maaf. Sepertinya rencana kita harus batal." ucapnya dengan rasa bersalah.


" Tidak apa-apa mas, ini semua sudah takdir. Aku berharap kita dapat bertemu lagi suatu saat nanti. Dan mas dapat menemukan orang yang tepat untuk mas dan anak-anak mas." jelas Tiara yang sebenarnya tersakiti.


" Ti, sebenarnya besok aku akan pergi ke Singapura. Untuk urusan bisnis dan rencana aku akan membawa anak-anak ku." jelasnya dan membuat Tiara kaget, karena Jarot akan pergi jauh. Dan harapan dia mungkin hanya akan menjadi anganan saja.


" Ya sudah, hati-hati ya mas. Aku doakan semoga sukses disana." Tiara berusaha menahan air matanya dan memberikan kata-kata terbaik.


Setelah itu mereka pun pulang ke rumah masing-masing dan tidak pernah bertemu lagi.


flashback off


" Tak terasa dunia sangat sempit, setelah bertahun-tahun tak berjumpa. Anakku justru bertemu dengan anak mu Ti, dan masih sama seperti dulu. Zia masih tidak menyukai Naura, jujur aku kaget waktu aku mendengar kau telah tiada. Dan ayahmu juga sudah pergi menyusul mu belum lama ini." batin Jarot.


Rangga dan Reza yang juga sudah kembali ke Indonesia, mereka berencana untuk menemui Naura. Semua kabar tentang Naura, Rangga dan Reza sudah mengetahui itu semua terlebih dahulu.


Saat ini kedua putra Jarot itu sedang bersama di dalam kamar Rangga, mereka ingin menelpon adik kecil kesayangan mereka. Walaupun papinya tidak jadi menikah dengan mama Naura, mereka berdua sudah menganggap Naura sebagai adik mereka.


Setiap bulannya Naura juga mendapatkan kiriman dari kedua kakaknya yang sangat sayang pada nya. Walaupun mereka tidak ada hubungannya darah dan garis keluar, pertemuan mereka 7 tahun lalu, sudah membuat mereka saling menyayangi.


hai, sedikit pengenalan



Nama : Jarot Talfika


Status : Ayah Zia


Sifat : Keras dan penyayang


Hobby : Tenis meja