Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 72



" Mbak, sini aja gabung dengan kami." ucap Naura dengan lembut.


Rangga yang mendengar ucapan Naura, ia pun langsung melihat kearah sorot mata Naura. Dan dia langsung menatap tidak suka kearah kedua pembantunya itu, dan dari sorot matanya seperti mengusir keduanya.


" Maaf, nggak usa nona. Kami kebelakang dulu." ucap mereka dengan berlari seperti ketakutan.


" Kak, kakak apain mereka. Sampai bisa ketakutan gitu." ucap Naura dengan menatap Rangga.


" Nggak ada ku apa-apain kok, mungkin mereka nggak enak aja sama kita." ucapnya mengeles.


" Bohong tuh dek, tadi mereka dipelototi tuh sama kak Rangga." ucap Reza yang mengadu.


Naura langsung menatap Rangga, dan jujur itu sangat menakutkan. Apalagi bagi Jarot yang belum pernah melihat kemarahan Naura, ia sampai merinding. Dan mulai membayangkan yang tidak-tidak tentang Naura.


Rangga dan Reza yang sudah melihat raut kemarahan di wajah Naura, mereka berdua langsung melarikan diri dan meninggalkan Jarot seorang diri. Jarot mulai cemas, dan takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Jantungnya dag-dig-dug ser, berdetak dengan sangat cepat. Dan benar saja, dalam sekejap Naura langsung mengangetkan Jarot.


" Kakakkkkkkkk." teriaknya dan terdengar sampai dapur, sontak saja para pembantu yang tadi sempat muncul kaget mendengar suara nona mudanya.


" Itu tadi suara nona muda?" tanya Ita.


" Sepertinya iya, tapi ternyata nona hanya tampak lembut di luar saja. Tapi ternyata nona lebih mengerikan dari tuan." ucap Mina.


Naura masih terus mengejar kedua kakaknya, karena ia marah dengan sikap kakaknya yang menurutnya sangat menyebalkan karena selalu bertingkah overprotektif. Dan membuat ia jarang memiliki teman, ya walaupun itu juga cara terbaik untuk memilih teman yang memang bener-bener mau berteman dengannya.


" Ampun dek, kakak salah. Tolong ya jangan begitu, sakit tau kalau kau pukul." ucap Rangga yang ketakutan dengan Naura.


" Yauda Ara nggak akan mukul kakak, tapi Hana mau di belanjain sama kakak." ucapnya dengan tersenyum.


" Ok tenang, kakak akan transfer. 5 JT kucup…eh 20 JT deh." ucapnya.


Naura tersenyum mendengar nominal yang disebutkan oleh Rangga, tetapi tidak berhenti di sana. Naura langsung menatap ke arah Reza, dan dengan sigap Reza langsung mengeluarkan handphonenya, dan tidak lama setelah itu terdengar notifikasi dari handphone Naura. Dan ternyata Reza yang mengirim, dengan jumlah yang sama dengan yang disebutkan oleh Rangga.


" Makasih kak." ucapnya dengan tersenyum, dan kemudian langsung memeluk kedua kakaknya.


Kedua pembantu yang sejak tadi melihat drama yang terjadi, mereka merasa kaget. Karena kedua tuan mudanya lebih takut kepada nona mudanya. Dan bahkan rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit, agar nona bungsu mereka tidak marah.


Pak Jarot yang melihat interaksi dari ketiga mereka sangat bahagia, ia tidak menyangka keributan ternyata sangat membahagiakan. Ia sangat bahagia, karena ia bisa melihat kegiatan yang tidak pernah bisa ia lihat di rumahnya. Karena putri bungsu Zia, tidak terlalu dekat dengan kedua putranya. Dan lebih dekat dengan ibu tirinya, dan hal itu sangat berbanding terbalik dengan Rangga dan Reza.


Pak Jarot terus menatap dengan tersenyum, hingga akhirnya ketiganya pun memperhatikan tingkat pak Jarot. Mereka pun langsung tersenyum, dan mendatangi pak Jarot. Kemudian mereka langsung memeluk pak Jarot, tanpa sadar pak Jarot pun meneteskan air mata.


" Papi kenapa nangis?" tanya Naura yang penasehat.


" Ini itu air mata bahagia, karena papi bisa melihat kalian seperti saat ini." ucapnya dengan air mata berdarah.


" Iya papi, jangan cengeng dong. Kalau plis cengeng, Ara nggak mau datang ke sini lagi." ancam Ara, dan membuat semuanya ketakutan.


" Yauda papi nggak akan sedih lagi, tapi papi masih bisa bertemu dengan mu kan?" tanya pak Jarot.


" Tentu papi, kapanpun papi ingin bertemu dengan Ara. Papi tinggal hubungi Ara saja." jelasnya.


" Kau memang yang terbaik Ara, tapi akan selalu mendoakanmu untuk kesuksesanmu." ucapnya dengan tersenyum.


" Makasih papi." ucapnya yang kemudian langsung memeluk pak Jarot.


Mereka pun melanjutkan perbincangan, dan tak terasa waktu sudah menunjukkan sore hari. Pak Jarot akhirnya memutuskan untuk pulang, karena saat ini di rumahnya sedang ada putri bungsunya dan juga istri keduanya, Iya tidak ingin kalau istri dan juga anaknya itu mengetahui kalau ia sedang bertemu dengan arah putri dari mantan calon istrinya.


Yang ketika sedang menjalin hubungan dulu, hubungannya begitu ditentang oleh Putri bungsunya itu. Bila hal ini sampai diketahui oleh Putri bungsunya itu, hal itu akan sangat berbahaya. Bukan hanya bagi dirinya tetapi juga bagi semua orang yang terlibat.


Dan orang pertama yang akan menjadi sasaran adalah Naura, karena Naura adalah putri dari mantan calon istrinya itu. Dan bahkan kedekatan Naura bersama Rangga dan raja juga bisa menjadi pemicu utama, karena sejak perpisahan Bunda Tiara dan juga Pak Jarot. Bubungan Zia dengan Rangga dan juga Reza menjadi renggang.


Karena pada saat itu dia tidak menyukai Bunda Tiara, tetapi berbeda dengan Rangga dan juga Reza yang sangat menyukai Bunda Tiara. dan kini meskipun Bunda Tiara tidak menjadi Ibu sambung mereka, tetapi mereka masih sering berkomunikasi dengan Bunda Tiara dan juga adik kesalahan Mereka Ara. Dan hal itu juga bisa menjadi pemicu utama, kebencian dia yang semakin mendalam.


Setelah Pak Jarot pulang, kini Naura juga memutuskan untuk pulang. Iya tidak ingin Kakak dan kakak iparnya cemas, walaupun sebenarnya keduanya sudah mengetahui posisi Ara saat ini. Tetapi keduanya pasti akan tetap cemas, maut pun di antar pulang oleh Reza, karena Rangga tiba-tiba saja di tempat oleh bawahannya untuk ke kantor.


Dengan sigap Rangga langsung pergi ke kantin, agar bisa dengan cepat menyelesaikan masalahnya dan menyusun ke rumah Tirta. Dalam sekejap Naura sudah sampai di rumah kakak dan kakak iparnya, tetapi Naura tidak senang. Karena Reza memboncengnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, yang menurut ingin mengajak ia pergi dari dunia ini.


" Assalamualaikum kak." ucapnya dengan tersenyum.


" Waalaikumsallam." sahut Desi dari dalam rumah.


" Ini siapa dek, atau jangan-jangan ini pacar kamu yang di bilang sama ayah?" tanyanya yang penasaran.


" Bukan kak, ini itu kak Reza. Adiknya kak Rangga, yang juga sangat dekat dengan bunda." jelasnya.


" Oh jadi ini yang namanya Reza, yang selalu di puji-puji oleh bunda mu. Tampaknya is biasa aja, nggak ada bagus-bagusnya." ucapnya dengan memandang dari ujung rambut sampai kaki, karena penampilan Reza sangat jauh berbeda dengan Rangga.