
" Mau dia happy, atau pun gamon. Dia sudah bukan urusan ku lagi, lebih baik kak Dion dan kak Ryan duduk dulu." ucap Naura mempersilahkan.
" Makasih ya Ra, oh ia dengar-dengar kamu baru balik dari Singapura ya?" tanya Dion.
" Ya begitulah, karena Kakak juga sudah di sini. ini oleh-oleh dari Singapura untuk kakak berdua, aku harap akan menyukainya." ucap Naura dengan memberikan dua tatebeg.
" Hadiahnya sangat bagus, terima kasih ya Ra." ucap keduanya dengan tersenyum.
" Syukurlah kalau kakak suka." jawabnya.
" Tapi beneran kau nggak peduli lagi dengan Arga?" tanya Ryan yang masih penasaran.
" Iya aku sudah tidak perduli, lagian masih banyak laki-laki di dunia ini. Dan lagian sebentar lagi kita juga nggak akan ketemu lagi, kan kakak sudah mau ngikutin ujian nasional." jelas Naura dan keduanya pun mengangguk.
" Yang kau katakan memang benar, aku jadi bingung mau milih universitas mana." jelas Dion yang memang sudah bingung.
" Mau aku kasih saran nggak?" tanya Naura sebelum memberikan saran.
" Tentu aja mau, tapi apa itu?" tanya Ryan yang penasaran.
" Nanti malam kak Dion dan kak Ryan salat istikharah, dan sekalian juga salat tahajud." usul Naura.
" Yang kau katakan memang benar, insya Allah besok kami sudah menemukan jawabannya. Doain kami untuk ngurus di jalur undangan, kebetulan nama-namanya akan diumumkan esok hari. Ya walaupun nggak terlalu berharap bisa masuk ke jalur eligible, ya tapi setidaknya masih ada harapan." jelas Ryan.
" Kami semua akan membantu doa, mudah-mudahan saja kakak bisa lulus di PTN keinginan kakak. Dan doain kami supaya bisa nyusul kakak, walaupun masih lama." jelas Tania.
Kini tiba-tiba bel berbunyi, dan hal tersebut menandakan kalau jam istirahat telah selesai. Mereka semua pun pergi menuju ruangan kelasnya masing-masing, dan kini Dion dan Ryan datang dengan membawa tatebag. Arga pun menjadi penasaran dengan isi dari tatebag tersebut.
" Itu isinya apa?" tanya Arga yang penasaran.
" Oleh-oleh dari Naura." jawabnya dan kini Arga menjadi sedih.
" Beneran kan kau masih gamon sama Naura." goda Dion.
" Sudahlah jangan bahas hal itu lagi, jujur saja itu sangat menyakitkan untukku." jelasnya.
" Kalau memang kau masih gamon, lalu kenapa kau nggak balikan aja sama Naura?" tanya Ryan yang penasaran.
" Ceritanya panjang, tapi aku memang nggak bisa balikan sama Naura." jelasnya dan membuat keduanya sahabatnya itu heran.
" Kenapa kau bisa begitu, bagaimana kalau kau cerita dulu." ucap Ryan.
" Aku nggak bisa cerita, karena hal ini dapat membahayakan kalian." ucapnya dan keduanya menjadi tambah bingung.
" Apakah ini juga ada kaitannya dengan Naura?" tanya Dion yang penasaran.
Arga tidak menjawab pertanyaan dari Dion, iya hanya mengangguk saja pertanda setuju. Kini Dion dan Ryan menjadi sangat bingung, mereka menjadi ingin mencari tahu apa alasan Arga putus dengan Naura.
Kini jam pulang sekolah telah tiba, Arga langsung pulang ke rumahnya. Kini pikirannya telah kacau, ia sangat menyayangi Naura, tetapi kini ia tidak bisa bertemu dengannya.
" Aku sangat merindukanmu Naura, tetapi aku tidak bisa bertemu denganmu lagi. Aku tidak ingin membahayakan hidupmu, tetapi aku juga tidak tahu harus bagaimana." ucap Arga dengan memandang foto Naura.
" Kau pasti sangat merindukan Naura?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba saja muncul.
" Eh mama, aku nggak merindukan Naura kok." jawabnya dengan memandang wajah mamanya.
" Kau nggak usa bohong sayang, mama juga sangat merindukan Naura. Tetapi untuk saat ini, kita harus menahannya. Karena hal tersebut bisa membahayakan Naura, mama tau kau sedang kesal. Ini semua adalah perjanjian yang telah di buat oleh kakekmu, jadi kau harus menerimanya. Jika kau menolak, mungkin kita tidak akan bisa bertemu lagi. Mama tidak ingin hal seperti itu terjadi, hiks…hiks." jelasnya dengan berderai air mata.
" Tetapi mama masih takut kehilanganmu, hiks…hiks." ucapnya.
" Sudahlah ma, tolong percaya sama Arga. Arga akan berusaha untuk menyelidiki semuanya, dan Arga juga memiliki keyakinan kalau si Rasya itu bukanlah Rasya ma." jelasnya dan sang mama pun tersentak.
" Apa maksudmu sayang?" tanyanya yang merasa heran.
" Rasya itu anak angkat ma, dan sebenarnya dia memiliki saudara kembar." jelasnya.
" Apa, kau sedang bercanda kan sayang?" tanya sang mama yang terkejut.
" Aku tidak bohong ma, bahkan kembaran si Rasya ini sebenarnya adalah pacar si Putra ma." jelasnya dan membuat sang mama tambah terkejut.
" Yang benar, jadi si Alana yang menghilang itu kembarannya Rasya. Kalau memang begitu, kau harus mencari tahunya. Agar hubungan mu dan juga Putra sama-sama membaik." jelas sang mama.
" Itulah yang sedang aku pikirkan ma, karena aku juga tau hal ini dari Putra." jelasnya.
" Si Putra dapat info darimana?" tanya sang mama yang penasaran.
" Ia tau dari seseorang yang merupakan teman dari Rasya dan Alana ketika di panti asuhan ma." jelasnya dan sang mama pun menganggu.
" Kalau begitu ia bisa menjadi informan yang tepat untuk kalian, mama harap kalian bisa segera mencari tau dengan secepatnya.
" Yang mama bilang memang benar, dan kami juga ingin secepatnya semaunya berakhir. Aku sudah lelah dengan semua ini ma, aku sangat tersakiti ma. Apalagi kini Naura sedang dekat dengan seorang pemuda, aku takut kalau mereka nantinya akan jadian." jelas Arga dan sang mama pun terkejut.
" Yang benar, semudah itu ia dapat deket dengan orang lain. Mama tidak menyangka, ternyata Naura orang yang seperti itu." ucapnya yang kecewa.
" Ia memang sudah dekat lama dengan pemuda itu ma, karena mereka sudah berteman sejak di bandung." jelas Arga.
" Kalau begitu, sainganmu adalah orang lama. Ya mudah-mudahan saja ia tidak berpindah hati nak." ucapnya untuk menguatkan anaknya.
" Arga sudah pasrah ma, lagian yang memutuskan Naura adalah Arga. Dan Arga juga sudah membuat ia kecewa, jadi kemungkinan akan sangat sulit ma." jelasnya dan sang mama hanya mengangguk saja.
" Yang kau katakan memang benar, banyak berdoa saja ya nak. Semoga saja semaunya cepat selesai, dan Naura mau mendengar penjelasan. Mama sangat berharap kau bisa balikan lagi dengan Naura, karena mama sangat menyayangi Naura." ucapnya.
" Maafkan Arga ya ma, ini semua salah Arga. Hiks…hiks." ucapnya.
" Sudahlah, ini semua bukan salahmu. Jadi kau jangan menyalakan diri sendiri, kita sama-sama berdoa agar semuanya cepat berakhir." ucapnya.
" Amin…" ucap keduanya serentak.
" Tante, lagi ngomongin apa?" tanya Putra yang baru saja pulang.
" Eh, baru pulang ya. Kalau gitu tante keluar dulu, kalian lanjutkan ngobrolnya." ucapnya kemudian langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
# Hai teman-teman, maaf ya nafras baru up. Nafras lagi sibuk ni, nafras akan usahakan up tiap hari. Ikuti terus kelanjutannya dan jangan lupa like, share, komen serta selalu dukung nafras ya teman-teman. Dan baca juga karya-karya nafas yang lain.
1. Rela Walau Sesak
2. Derai Yang Tak Terbendung
3. Sepahit Sembilu
4. Azilla Aksabil Husna