
Naura dan Tania pun akhirnya tiba di kelasnya, mereka berdua hampir saja terlambat. Untungnya guru yang mengajar di kelas mereka belum tiba, dan mereka aman. Semuanya memberi selamat kepada Naura, karena Naura menang dalam olimpiade kemarin.
Ditengah-tengah keributan, akhirnya guru yang mengajar pun tiba. Semuanya pun kembali duduk di mejanya masing-masing, dan mereka pun melaksanakan pembelajaran. Semuanya sangat menikmati pembelajaran, hingga mereka tidak menyangka kalau pembelajaran telah selesai.
...----------------...
Ryan dan Dion masih penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh Naura pagi tadi, karena rasa penasaran mereka pun pergi menuju kelas Naura. Tetapi mereka justru melihat wajah Naura yang murung, keduanya pun menjadi heran dan penasaran. Tetapi mereka tidak ingin mengganggu Naura, karena tampak dari wajahnya ia sedang bersedih.
Untungnya ada Tania, keduanya pun langsung menemui Tania. Mereka yakin, kalau Tania pasti tau apa yang ingin disampaikan oleh Naura.
" Tania." panggil Dion, dan kemudian mereka pun menghampiri Tania.
" Eh kak Dion dan kak Ryan, ada apa ya?" tanyanya yang penasaran.
" Sebenarnya kami ingin bertanya sama Naura, tapi seperti yang lo lihat sekarang. Kami jadi tidak berani menemui Naura." ucap Dion dengan menatap ke arah Naura.
" Oh gitu ya, yauda kalau gitu tanya gue aja. Ya mudah-mudahan gue bisa jawab." ucap Tania dengan tersenyum.
" Nah itu yang gue tunggu." ucap Dion.
" Sebenarnya kami penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh Naura tadi pagi." ucap Ryan.
" Oh tentang itu ya, yauda gue ceritain…"
Tania pun akhirnya pun menceritakan apa yang ingin diceritakan oleh Naura tadi pagi, dan sontak saja Dion dan Ryan pun kaget mendengar penjelasan dari Tania. Keduanya tidak mengetahui cerita yang diceritakan oleh Tania, kini keduanya ikut cemas memikirkan keadaan Arga.
" Lalu bagaimana dengan keadaan Arga?" tanya Dion dengan ekspresi cemas.
" Tadi malam sih hanya memar memar, tapi setelah mendengar dari kakak tadi pagi. Jujur gue dan Naura menjadi panik, kami jadi penasaran dengan keadaan kak Arga saat ini." jelas Tania dan keduanya hanya mengangguk.
" Sekarang kami mengerti, mengapa wajah Naura tampak murung. dan ternyata itu semua ada hubungannya dengan Arga." ucap Ryan dengan menatap ke arah Naura.
" Gimana kalau siang nanti, sepulang sekolah. Kita beramai-ramai ke rumah Arga, jujur Lo juga penasaran dengan kondisi Arga." ucapnya dengan ekspresi memohon.
" Kalau aku bebas sih Kak, tapi nggak tahu dengan Naura." ucap Tania yang merasa tidak nyaman.
" Kalau gitu kau diskusi dulu dengan Naura, kami menanti kabar dari kalian." ucap Dion kemudian pergi meninggalkan Tania.
Tania kini kebingungan, karena ia tidak tau harus berkata apa. Ia hanya menatap ke arah Naura yang sedang melamun, tetapi ia tidak tau apa yang harus dilakukan. Perlahan-lahan ia pun mulai mendekati Naura
Ia pun menepuk pundak Naura, Naura pun langsung menatap ke arah Tania. Tania awalnya bingung, tetapi ia pun memberanikan diri untuk bertanya.
" Ada apa Tata?" tanya Naura dengan menatap mata Tania.
" I-ini ta-tadi k-kak Ry- Ryan…" ucapkannya dengan gugup dan membuat Naura kesal.
" Maaf, gue cuma mau bilang. Kalau kak Ryan ada kak Dion ngajakin kita ke rumah kak Arga sepulang sekolah." ucapnya dengan tegas.
" Oh gitu, yauda sepuluh sekolah kita ke sana." jawab Naura kemudian langsung pergi meninggalkan Tania.
" Ara tunggu, li mau kemana?" teriak Tania dan di dengan oleh banyak siswa, tetapi tiba-tiba saja ada seorang siswi lelaki yang menjadi penasaran dengan nama itu.
" Ara, apa mungkin itu Ara yang ku maksud. Atau hanya namanya saja yang sama ya." batin pemuda itu.
" Hai Natan, Lo kenapa?" tanya Arya.
" Nggak apa-apa kok Arya, aku cuma merasa mendengar nama orang yang ku kenal." ucapnya jujur.
" Nama ya, mungkin hanya sama." balas Arya.
" Ya, yang kau katakan benar. Mungkin hanya sama." ucapnya, namun masih penuh harapan kalau nama yang ia dengarkan adalah orang yang ia maksud.
Keduanya pun langsung masuk ke dalam kelasnya, dan Naura serta Tania juga sudah sampai di kelasnya. Naura dan Tania tidak banyak melakukan percakapan, karena suasana hati Naura sedang tidak enak.
Kegiatan pembelajaran berjalan dengan lancar, hingga tidak terasa bel pulang sekolah pun berbunyi. Kini Naura dan Tania menemui Dion dan juga Ryan di parkiran, mereka pun bersiap untuk pergi ke rumah Arga. Walaupun niat awalnya uda kuat, tetapi tiba-tiba saja Naura gugup. Ia gugup membayangkan akan bertemu dengan orang tua Arga, dan takut akan ditanyai yang aneh-aneh mengenai kejadian semalam.
Naura terus dalam lamunannya ketika ia di bonceng oleh Dion, hingga tanpa terasa mereka sudah sampai di rumah Arga. Naura masih gugup, tapi semuanya tampak biasa saja. Dan mereka berjalan menuju pintu rumah Arga, tidak perlu waktu lama pintu pun terbuka. Dan yang membuka adalah mama Arga.
" Eh kalian, mau lihat Arga ya?" ucap mama Arga dan mereka hanya mengangguk saja.
" Yauda langsung masuk aja, Arga ada di kamarnya. Tapi Ara bisa ikut mama sebentar." ucap mama, dan kini Naura menjadi gugup kembali. Mereka pun juga bingung, tetapi mereka tidak bisa membantu Naura. Dan mereka pun segera pergi menuju kamar Arga, mereka berniat untuk memberi tau Arga.
Naura kini duduk berdua dengan mama Arga di sofa ruang TV, mama Arga menatap Naura dengan intens. Sontak saja Naura menjadi semangkin gugup, keringat pun mulai bercucuran dari dahinya. Mama yang melihat sikap Naura, mama pun menjadi panik. Mama takut terjadi sesuatu pada Naura, dan akhirnya mulai membuka suara.
" Sayang, Arga sudah ceri…" ucap bunda yang terhenti.
" Maafkan Ara ma, kalau saja Ara nggak keluar sama kak Arga. Mungkin kejadiannya nggak akan seperti ini." ucap Naura dengan meneteskan air mata, dan sontak saja mama langsung memeluk Naura.
" Sayang, sudah jangan nangis. Ini itu musibah, jadi jangan salahkan dirimu. Sekarang keadaan mu bagaimana?" tanya mama dan membuat Naura kebingungan.
" Mama nggak marah sama Ara?" tanyanya.
" Nggak sayang, mama nggak marah. Mama justru khawatir dengan mu, ada yang luka atau apa gitu nggak?" tanya mama dengan memegang wajah Naura dan menghapus air matanya.
" Makasih ma, tapi Ara nggak kenapa-kenapa. Malah justru kak Arga yang terlalu, karena ia melindungi Ara." ucapnya.
" Syukurlah sayang, mama senang kau tidak kenapa-kenapa. Kalau Arga nggak kau pikirkan, sudah tanggung jawab dia untuk melindungi mu sayang." ucapnya dengan tersenyum.