
" Kau tenangkan dirimu dulu, mudah-mudahan saja semuanya cepat selesai. Dan kau bisa bersama dengannya sama seperti dulu." jelasnya.
" Amin Put, tapi sepertinya kau sedang sangat bahagia ya?" tanya Arga.
" Sebenarnya tadi aku sudah berbicara berdua dengan Alana atau yang kalian kenal dengan nama Rasya." jelasnya.
" Jadi kau sudah memberitahukan semuanya?" tanya Arga yang penasaran.
" Ya, aku sudah memberikan semuanya. Dan kini ingatannya sudah mulai membaik, dan kini aku dan ia sudah menjalin hubungan kembali." jawabnya.
" Alhamdulillah kalau begitu, tapi kau bisa berhadapan langsung dengan Pak Beni?" tanya Arga yang khawatir.
" Kau tenang saja, walaupun aku masih anak SMA. Tetapi kita sudah sama, yaitu sama-sama mengurus perusahaan. dan mudah-mudahan saja sih Beni ini setuju, dan kami bisa menjalankan rencana kami untuk mencari tau keberadaan Rasya dimana." jelasnya.
" Oh iya, aku melupakan kalau sekarang kau yang memimpin "Gema Company" kalau begitu aku yakin ia pasti akan merestui kalian. dan kalian bisa dengan mudah mencari tau keberadaan si Rasya." ucap Arga.
" Iya benar, dan rencana malam ini aku akan datang ke rumah Rasya. Dan dari kabar yang ku dapat, si Beni juga sedang ada di sana." ucapnya dan Arga menjadi semangat.
" Kalau begitu semangat, aku juga penasaran dengan dengan respon dari si Beni." ucapnya.
" Kau tenang saja, nanti aku akan menceritakannya." ucapnya.
...----------------...
" Rasya." panggil Beni.
" Eh Papa, aku sangat senang bisa bertemu dengan Papa." ucapnya dengan langsung memeluk Beni.
" Kau ini, jangan bertingkah seperti anak kecil!" ucap Beni.
" Papa, Rasya mau jujur." ucapnya dan membuat Beni menjadi penasaran.
" Apa yang ingin kau katakan?" tanya Beni.
" Sebenarnya aku sudah memiliki pacar." ucapnya.
Brak
" Apa maksudmu, bukankah Papa sudah bilang. Kau hanya boleh bersanding dengan anak penguasa sukses, dan Papa sudah memilihkan Arga sebagai calonmu." ucapnya.
" Tapi Rasya nggak cinta sama Arga Papa, dan Rasya mencintai Putra." ucapnya yang tanpa sadar menyebutkan nama Putra.
" Siapa tadi namanya?" tanya Beni yang sedikit melembut dan membuat Rasya menjadi bingung.
" Namanya Putra Pa." ucapnya.
" Apakah Putra yang Ini?" ucapnya dengan menunjukkan foto Putra.
" Iya Pa, Papa mengenalnya?" tanyanya.
" Kalau kau bersama dengan dia tidak masalah, Papa tidak akan melarang mu lagi. Karena dia juga sama suksesnya dengan Arga, dan dia adalah CEO dari "Gema Company" tetapi Papa heran mengapa kau bisa kenal dengannya?" tanyanya yang penasaran.
" Dia baru saja pindah ke sekolah ku, dan disanalah aku mengenalnya." jelasnya.
" Apakah dia mengetahui kalau kau adalah anak Papa?" tanya untuk memastikan, karena ia tidak mau kalau ini semua adalah rencana. Walaupun mereka tidak pernah mencari masalah dengan "Gema Company", tetapi Beni terus saja takut kalau perusahaannya akan hancur.
" Kalau begitu persilakan saja ia datang, karena Papa ingin melihat keseriusannya." ucapnya dan Rasya pun mengangguk.
" Mengapa aku menjadi khawatir dengannya ya, padahal dia bukan Rasya. Walaupun wajah mereka sama, Tetapi sikap dan karakter mereka sangat berbeda. Dan nta kenapa, aku merasa nyaman dengan sikapnya yang lembut, tetapi harus terlihat kuat ketika berada di luar." batinnya.
" Menurut Papa bagaimana, apakah boleh Putra datang ke sini?" tanyanya yang meminta izin.
" Ya sudah kalau dia memang mau datang ke sini, Papa akan menunggunya untuk menemui Papa." ucapnya dengan tersenyum.
" Semoga saja Papa mau jujur siapa sebenarnya aku, dan aku biar segera lepas dari ini semua. Jujur saja aku sudah lelah, aku sudah tidak mau menjalankan semua ini lagi." batinnya dengan penuh harapan.
" Terima kasih Papa, aku akan segera menghubunginya. Agar ia datang tidak terlalu malam, karena besok kami juga harus sekolah lagi." jawabnya dan ia pun segera pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Ia pun segera menghubungi Putra, dan Putra pun menyusun rencana untuk berbicara dengan Beni. Karena ia tahu kalau berhadapan dengan Beni tidaklah mudah, karena Beni bukanlah orang biasa.
...----------------...
Malam hari sudah tiba, Putra kini bersiap-siap untuk segera pergi menuju rumah Rasya. Dan ia juga sudah menyiapkan rencana yang matang, agar ia dapat mengorek informasi mengenai Rasya.
Kini bel rumah pun berbunyi, seorang pembantu rumah tangga pun segera membukakannya. Ia terpana melihat ketampanan Putra, hingga membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.
" Jadi dia yang namanya Yina, tampaknya dia biasa saja. Tetapi aku tidak bisa memandangnya remeh, karena Alana sudah menceritakan semuanya kepadaku." batinnya.
" Pemuda ini siapa, mengapa ia sangat tampan." batin Yina.
" Maaf, Rasya ada?" tanya Putra.
" Rasya, jadi ini pacarnya Rasya. Pemuda ini sangat tampan, dan aku rasa dia sangat tidak pantas bersanding dengan pemuda ini." batin Yina yang tidak terima.
" Halo, Rasya ada?" tanya Putra mengulang kembali.
" Rasya ada di dalam, mari saya antar menemui Tuan Beni terlebih dahulu." ucapnya.
Putra pun mengikuti langkah Yina menuju ruangan Beni, Putra cukup terkejut ketika melihat wajah Beni. Ia tidak menyangka, ternyata Beni adalah orang yang ia kenal. Ia sungguh sangat terkejut, karena ia sudah mengenal Beni sejak lama. Tetapi ia tidak mengetahui kalau Beni adalah Ayah dari Rasya, dan bahkan ia telah mengubah Alana untuk menjadi Rasya.
" Paman Ayahnya Rasya?" tanyanya untuk memastikan.
" Iya benar, apakah kau terkejut ketika melihatku?" tanyanya dan Yina cukup terkejut mendengarnya.
" Saya tidak menyangka, ternyata Paman adalah Ayahnya Rasya. Saya cukup terkejut ketika mengetahuinya, dan saya…" ucapnya yang terhenti.
Beni pun memperhatikan Putra, ia pun melihat ke arah pandangan Putra. dan ia pun menyadari kehadiran Yina, dan akhirnya ia pun mengetahui mengapa Putra menghentikan percakapannya.
" Yina, silakan keluar dari ruangan saya. Saya ingin berbicara berdua dengan Putra!" ucapnya dengan tatapan sinis dan Yina pun segera keluar dari ruangan tersebut.
" Ternyata Om juga peka juga." ucapnya kini yang berbicara santai.
" Tentu saja aku menyadarinya, dan kamu pastinya tidak merasa nyaman ketika berada dia. Sekarang keluarkan saja perkataanmu seperti biasa Putra." ucap Beni dengan tersenyum.
" Terima kasih Om, tetapi kini aku masih tidak percaya. Ternyata Om adalah Ayah dari Rasya, dan aku tidak mengetahuinya sama sekali. Sungguh ini sangat sulit, padahal Om adalah orang yang cukup dekat dengan ayah saya. Tetapi Om ternyata menyimpan banyak rahasia, dan rahasia itu sungguh sangat menyakitkan." ucap Putra dan membuat Beni menjadi penasaran dengan maksud dari perkataan Putra.
" Apa maksud dari perkataanmu?" tanyanya yang penasaran.
" Om Beni tidak usah pura-pura bodoh, Om pastinya sudah mengetahui maksud dari perkataanku." ucapnya dan kini Beni mulai menebak-nebak.