
Sedikit pengenalan
Nama : Rangga Talfika
Karakter : Baik, tegas, mandiri, penyayang.
Hobby : Tenis
Makanan kesukaan : Mie ayam
Minuman kesukaan : Jus jambu
Status : Kakak angkat Naura
...----------------...
" Yang benar Kak, Bunda sering ceritain kita sama kakak?" katanya Kinan.
" Iya, dan sepertinya Bunda Tiara sangat sayang sama kalian." ucap Desi.
" Kami jadi kangen sama bunda Tiara." ucap Dimas kemudian ia melihat Kinan yang sudah berderai air mata.
" Sudahlah Kinan, jangan menangis. kau tidak ingat pesan Bunda Tiara dulu." ucap Dimas dan Kinan pun mengingat masa lalunya.
...----------------...
" Kinan sayang kenapa nangis?" tanya bunda.
" Kinan lagi sedih Bunda." jawabnya dengan berusaha mengelap air matanya.
" Sedih kenapa?" tanya bunda yang penasaran.
" Kinan sedih Bunda, karena ayah dan Mami mau pindah. Pastinya Kinan dan Kak Dimas juga pindah, Kinan nggak mau bisa sama Bunda." jelasnya ada tanpa sadar air matanya kembali menetes.
" Kinan harus ikut dengan ayah dan mami, dan Kinan harus ingat satu hal. Kinan nggak boleh nangis kecuali Kinan sudah tidak bisa menahannya, Kalau Kinan nangis nanti bunda juga ikut sedih." ucap Bunda dan Kinan pun langsung menghapus air matanya.
" Bagaimana bisa Bunda sedih?" tanya Kinan yang penasaran.
" Bunda pasti akan merasakan kalau Kinan sedang bersedih, oleh karena itu Kinan nggak boleh menangis." ucap Bunda Tiara dengan menyodorkan jari kelingking.
" Kalau begitu mulai sekarang Kinan janji, kalau Kinan nggak akan menangis kecuali sudah terlalu sakit. Karena Kinan nggak mau Bunda juga ikut sedih, dan kalau Bunda sedih pastinya Ara juga sedih." ucap Kinan dan kemudian ia langsung menautkan jari kelingkingnya dengan jari Bunda Tiara.
...----------------...
" Gimana sekarang sudah ingat?" tanya Dimas.
" Sudah Kak, aku sudah ingat dengan janjiku pada Bunda Tiara. Dan aku tidak akan menangis lagi, karena jika aku menangis bunda Tiara pasti juga ikut sedih." ucap Kinan dengan menghapus air matanya.
" Kau memang anak yang pintar, ingat jangan diulangi kembali!" ucap Dimas mau wanti-wanti adiknya.
" Iya Kakak tenang aja, aku akan terus mengingat janjiku kepada Bunda." jawabnya dengan tersenyum.
...----------------...
Kini Tania sudah sampai di depan rumahnya, tetapi ia tidak melihat tanda-tanda kehidupan sedikitpun. Akhirnya ia pun memutuskan untuk menghubungi kakaknya, tetapi tidak diangkat. Dan akhirnya ia pun meminta satpam untuk membukakan pintu, ia pun segera melangkahkan kakinya menuju rumah.
" Hati-hati ya, aku masuk dulu." ucap Tiara dengan melambaikan tangannya.
" Iya." jawab Leo, kemudian ia pun segera melajukan kendaraannya.
Tania pun langsung masuk ke dalam, alangkah terkejutnya ia ketika melihat ayah dan bundanya.
" Ayah dan Bunda ada di sini?" ucapnya tetapi kedua orang tuanya tidak menjawab.
" Sini kamu duduk, Ayah sama Bunda mau bicara." ucap Ayah.
Tania pun langsung segera duduk, sini Ayah menatapi dengan tatapan yang sangat sinis. dan dalam seketika, Tiara pun merasa takut dengan tatapan ayahnya.
" Dari mana saja kau?" tanya ayah.
" Untuk beberapa hari kedelapan kau akan di antar oleh Tirta, jadi kau tidak boleh kemana-mana." ucap ayah.
" Maaf ayah, memangnya ada apa ya?" tanya Tania.
" Situasi sedang tidak aman, ayah merasa kurang nyaman aja. Dan besok ayah dan bunda akan pergi, secepatnya kami akan kembali." jelas ayah.
" Apakah ini kejadian yang hampir sama, seperti ketika kita kehilangan Faza?" tanya Tania.
" Iya." jawab ayah.
" Kalau begitu ayah dan bunda tidak boleh pergi, Tata nggak mau kehilangan ayah dan bunda." ucap Tania dengan mata yang berkaca-kaca.
" Tidak bisa sayang, kau tenang saja. Kau lupa ya siapa ayah. Ayah dan bunda adalah Irwan dan Mika, seorang pebisnis yang selalu bisa menghadapi musuh-musuhnya." ucap ayah untuk menenangkan putrinya.
" Tapi Tata takut kehilangan ayah dan bunda." ucapnya yang tanpa sadar air matanya pun menetes.
" Kau percaya saja sama ayah dan bunda, ayah dan bunda akan kembali dalam kondisi yang baik-baik saja." ucap ayah dengan tersenyum.
" Beneran ya, janji." ucapnya dengan menyodorkan jari kelingking.
" Iya sayang, ayah janji." ucap ayah.
" Yauda kalau gitu, Tata mau malam ini tidur sama ayah dan bunda." ucapnya dengan ekspresi memohon.
" Yauda ayo." ucap ayah, dan kemudian mereka pun segera masuk ke kamar Tania.
" Iya sayang." jawabnya dan langsung merai jari kelingking Tania.
Tania pun terlelap setelah di peluk oleh bundanya, setelah Tania tidur. Ayah dan bunda pun keluar dari kamar, keduanya langsung pergi ke ruangan belajar Tirta. Dan mereka berdua merencanakan rencana yang akan mereka gunakan untuk besok.
...----------------...
" Dek sudah malam, kita pulang yuk. Besok kita kesini lagi." bujuk Desi.
" Guys, kebetulan uda malam. Aku duluan ya, nggak enak sama kakak aku. Kebetulan dia lagi hamil.
" Oh yauda kalau gitu, sana pulang. Kasihan kakak mu." ucap Natan.
Naura dan kakaknya pun segera pulang, tidak membutuhkan waktu yang lama akhirnya mereka sampai di rumah. Naura langsung masuk ke kamarnya begitu juga dengan Desi, tetapi tidak dengan Tirta yang justru pergi ke ruangan kerjanya. Ia sebelum sudah di hubungi oleh orang tuanya, dan ia pun segera menemui kedua orang tuanya.
" Ayah, bunda. Ada apa?" tanyanya begitu sampai.
" Ayah dan bunda harus pergi, tolong kau jaga Tata ya." ucap ayah dengan memegang pundak Tirta.
" Menjaga Tata adalah tanggung jawabku sebagai kakaknya, jadi ayah dan bunda tenang saja ya. Tapi kenapa ayah dan bunda harus pergi, padahal Tirta dan Tata masih sangat merindukan ayah dan bunda." ucapnya.
" Ada urusan mendesak, dan ayah dan bunda harus segera kembali." ucap pak Aden.
" Tapi ayah janji harus pulang kesini dalam keadaan selamat, ayah dan bunda apa nggak mau lihat anak aku?" ucap Tirta, kemudian ia pun memelihara kedua orang tuanya.
" Kami janji sayang, kami juga sangat menantikan kelahiran anakmu." ucap bunda Gayatri dengan meneteskan air mata.
" Tolong jangan beri tau alasan kepergian ayah dan bunda pasti istrimu, bunda tidak ingin ia bersedih." tambah bunda.
" Ayah sama bunda tenang saja, Tirta nggak akan kasih tau Desi, tapi Tirta mohon ayah dan bunda secepatnya kembali ke sini." ucap Tirta.
" Iya, kebetulan mobil juga sudah menunggu kami." ucap ayah, dan hal itu mengagetkan Tirta.
" Kenapa jadi sekarang, bukannya besok?" tanya Tirta yang kaget.
" Maaf sayang, situasinya mendesak." ucap ayah.
" Ayah dan bunda tidak berpamitan sama Tata?" tanya Tirta.
" Tadi kami sudah bilang kalau kami akan pergi, dan sekarang ia sedang tidur." ucap ayah.
" Ayah tidak bercanda kak, secepat itu Tata tertidur?" tanya Tirta yang merasa heran.
" Iya dia sedang tidur, tadi bunda yang menidurkannya ia." ucap bunda, dan Tirta pun kaget.