Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 117



" Ayah jangan ngomong kayak gitu, kami ini masih berusia 16 tahun Ayah. Masa depan kami masih panjang, kami masih memerlukan menganyam bangku pendidikan." jelas Naura yang memang sangat haus akan pendidikan.


" Ayah tahu kalian masih muda, tetapi kau dan Zia sangat berbeda. Kau adalah anak yang selalu haus akan pendidikan, tetapi Zia saat ini yang ada di pikirannya hanya kekasihnya saja." ucap Jarot.


" Untuk saat ini yang ada di pikiran Zia memang kekasihnya saja, tetapi kita tidak tahu apa yang akan ada dalam pikirannya suatu saat nanti. Bila ia memang ingin menikah itu tidak masalah ayah, tetapi biarkan ia tetap menganyam bangku pendidikan. Cara pendidikan sangat diperlukan, karena bila seorang wanita memiliki pekerjaan yang mapan maka ia tidak perlu takut dengan rintangan yang menghadang." jelas Naura dan membuat Zia terbuka pikirannya.


" Maksudmu bagaimana?" tanya Zia yang tidak mengerti.


" Yang aku maksud adalah seperti ini, bila kita sudah menjalin hubungan rumah tangga dengan seseorang. Tiba-tiba saja Ia melakukan tindak kekerasan kepada kita, maka kita akan dengan mudah untuk menuntutnya. Karena kita memiliki penghasilan sendiri, yang membuat kita bisa hidup mandiri tanpa lelaki itu. Tetapi bila kita tidak memiliki penghasilan sendiri, ketika dia melakukan sesuatu kita hanya diam saja. Karena kita tidak memiliki penghasilan, dan semua hanya bersumber dari lelaki tersebut." jelas Naura.


" Wawasanmu sangat luas ya, aku tidak menyangka kau sudah berpikir hingga ke sana." ucap Zia yang kaget.


" Dalam hidup semuanya harus kita pertimbangkan, kita tidak bisa asal melangkah saja. Karena apapun yang kita pilih, pasti akan menentukan masa depan kita." jelasnya dan Zia pun mengangguk.


" Kalau begitu aku ingin kuliah terlebih dahulu, agar apa yang kau katakan tadi tidak terjadi kepadaku. Dan bila semisalnya terjadi pun, aku bisa dengan damai mengatasinya karena aku tidak bergantung sepenuhnya kepadanya." jawab Zia dengan tersenyum.


" Nah begitu dong, ternyata Naura memang memiliki wawasan yang sangat luas. Dan dengan mudahnya juga kau bisa mengambil hati seseorang, bukan dengan ilmu yang kau miliki tetapi dengan wawasan yang kau miliki. Sepertinya takdir kehidupan telah mengajarkan kau akan banyak hal, yang membuat kau selalu berpikir seperti orang dewasa." ucap Iksan dengan mengelus kepala Naura.


Tiba-tiba saja telepon Naura berdering, dan Ia pun segera melihat siapa yang menelponnya. Kemudian ia pun segera mengangkat telepon tersebut, karena jujur ia sangat merindukan pamannya itu.


" Halo Paman Sandy." ucapnya dengan sangat gembira.


" Kau sedang ada di mana?" tanya Sandy yang melihat sekitarnya Naura.


" Saat ini aku sedang berada di Singapura paman." jawabnya dengan santai dan membuat Sandy tersentak.


" Kau sedang apa di sana, dan kau bersama siapa di sana?" tanya Sandy yang penasaran.


" Sandy, kau tenang saja." ucap Jarot.


" Itu suara siapa?" tanya Sandy yang penasaran dan Naura pun langsung menyerahkan teleponnya kepada Jarot.


" Hai Sandy." ucap Jarot dengan melambaikan tangannya.


" Rupanya kau, kau yang membawa keponakan kesayanganku ke Singapura?" tanya Sandy yang langsung to the point.


" Iya aku yang membawanya ke sini, kebetulan Putra sulungku menikah di sini." jawab Jarot.


" Putra sulung, maksudmu Rangga?" tanya Sandy untuk memastikan.


" Iya benar, Rangga menikah di sini." jawabnya dengan tersenyum.


" Paman jangan marah dong, lagian paman kan masih di Milan. Nanti paman capek lho bolak-balik." ucap Naura dengan nada manja.


" Tidak usah mengalihkan perhatian, dan mencoba merayu paman sayang. Sekeras apapun kamu berusaha untuk merayu paman, paman akan tetap memarahi Rangga." ucap Sandy.


" Paman jangan gitu dong, kan Ara jadi nggak enak." ucapnya dengan nada manja.


" Nggak enak apaan, paman balik ke Indonesia kau malah nggak ada di Indonesia." bentak Sandy dan membuat Naura kaget.


" Jadi paman di Indonesia, ih paman pulang kok nggak bilang-bilang." ucap Naura.


" Rencananya paman mau kasih kejutan buat kamu, tapi sekarang malah paman yang dikejutkan karena kamu berada di Singapura." ucap Sandy dengan menggelengkan kepalanya.


" Maafin Ara paman, tapi paman tenang aja. Besok pagi Ara akan balik ke Indonesia, dan Ara akan langsung ke rumah kak Desi." jelasnya dengan tersenyum.


" Kalau begitu paman tunggu ya, kamu sudah sangat merindukan keponakan kesayangan paman. Tapi begitu paman sampai di Indonesia, si kecil kesayangan paman ini nggak ada di rumah." ucap Sandy yang tiba-tiba saja menjadi kesal.


" Sudahlah Sandy, lagian Ara perginya juga sama aku dan keluarga. Jadi kau tenang aja ya, si kecil kesayangan kita ini nggak akan kenapa-kenapa." ucap Jarot yang tiba-tiba saja bersuara.


" Iya-iya Jarot, tapi anak sulung mu itu nikah kok nggak bilang-bilang. Kan aku jadi nggak menyiapkan hadiah untuk menantu baru, padahal aku sudah sangat menanti kapan pernikahannya. Eh ujung-ujungnya aku malah nggak diundang, sungguh sakitnya hatiku." ucapnya.


" Kau tenang saja Sandy, kita juga akan mengadakan acara pernikahan di Indonesia. Sesuai adat yang berlaku kita harus mengadakan pernikahan di rumah perempuan terlebih dahulu, kemudian setelah itu kita baru mengadakan acara pernikahan di rumah lelaki." jelas Jarot dan Sandy pun mengangguk.


" Ya aku tahu tentang tradisi itu, tapi aku sudah sangat menantikan wajah menantu perempuanku. Dan aku juga penasaran dengan keluarganya, kira-kira ada tidak foto atau apa gitu mengenai ayah si wanita." ucap Sandy.


" Untuk apa harus melihat foto, kebetulan aku juga ada di sini." ucap Iksan yang tiba-tiba saja angkat suara.


" Itu suara siapa?" tanya Sandy yang penasaran.


" Suara pak besan." jawab Jarot kemudian memperlihatkan wajahnya yang sedang bersama dengan ikhsan.


" Oh jadi ini ayahnya menantu." ucap Sandy dengan tersenyum.


" Halo pak sandi, perkenalkan saya Iksan. Saya ayahnya Karin, istrinya Rangga." ucap Iksan memperkenalkan diri.


" Halo pak Iksan, saya Sandy pamannya Naura." balasnya dengan tersenyum.


" Senang berkenalan dengan bapak, setelah diperhatikan dengan seksama. Ternyata wajah bapak cukup mirip juga dengan Naura ya, saya jadi penasaran dengan orang tua Naura." ucap Iksan dan membuat semuanya terdiam.


" Maaf pak, kalau untuk bertemu dengan ayahnya Naura bapak masih bisa. Walaupun kedua orang tua Naura sudah lama berpisah sejak ia masih kecil, tapi kalau untuk bertemu dengan bundanya Naura saya mohon maaf. Karena bundanya Naura sudah meninggal, karena itu Naura tinggal bersama dengan anak saya di Indonesia. Awalnya sih saya berniat mengajaknya untuk tinggal di Milan, tetapi ia menolak karena ada hati yang harus dijaga." jelas Sandy.