Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 84



" Riko." ucap Arga dan membuat keduanya kebingungan.


" Lo kenal dengan pemuda tadi Ga?" tanya Dion.


" Ya aku mengenalnya, namanya Riko." ucap Arga dan keduanya pun mengangguk.


" Pantas saja kau tampak terkejut tadi." ucap Dion.


" Siapa si yang tidak terkejut, ketika melihat teman lamanya tiba-tiba saja muncul. Dan bahkan kini ia bersama dengan seseorang yang dikenal sebagai orang jahat." jelas Arga.


" Ya kalau itu gue, gue juga pasti terkejut." ucap Ryan.


" Iya kan, sepertinya gue harus segera hubungi Riko. Biar gue tau, apa hubungan mereka berdua." ucap Arga dan keduanya pun mengangguk.


Arga pun segera mengambil handphone-nya, dan ia pun segera menelpon Riko.


" Ko, Lo uda balik ke Indonesia?" tanya Arga ketika sambungan telepon tersambung.


" Nggak, gue masih di Paris." ucap Riko dari sebrang telepon.


" Yang bener Lo, tapi tadi gue lihat Lo." ucapnya yang seperti orang kebingungan.


" Oh, itu bukan gue. Tapi itu saudara kembar gue, namanya Rino." jelasnya.


" Apa, gue nggak salah denger kan. Lo punya saudara kembar, tapi kenapa Lo nggak pernah cerita?" tanya Arga.


" Ya gue malas aja, lagian gue sama saudara kembar gue nggak tinggal satu rumah." ucapnya.


" Pantas aja gue nggak pernah lihat, jadi Lo kapan balik ke Indonesia?" tanya Arga.


" Lusa gue balik." jawab Riko.


" Ok, kabarin ya. Biar gue jemput." ucap Arga.


" Ok, aman itu." balasnya, kemudian mematikan sambungan telepon.


Naura dan Tania yang melihat ketiga pemuda itu sedang berbincang di depan gerbang sekolah, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menemui ketiganya. Sambil menunggu jemputan mereka, yang tidak tau kapan datangnya.


" Hei, sedang ngapain?" tanya Tania.


" Nggak sedang ngapa-ngapain." balas Dion, yang tidak ingin kedua perempuan itu mengetahuinya.


" Beneran?" tanya Tania yang penasaran.


" Beneran, lagian ngapain kami bohong. Nggak ada gunanya." Ryan memberi pembelaan.


" Yauda deh kalau gitu." ucapnya pasrah.


" Oh iya ngomong-ngomong kalian mau kemana?" tanya Dion.


" Mau nunggu jemputan." ucap Tania dengan melirik ke arah Arga.


" Oh iya, gue lupa. Maaf ya beb." ucapnya dengan merangkul Naura.


" Akhirnya sadar juga, dari tadi di cariin." ucap Tania yang kesal.


Tiba-tiba saja, ada sebuah mobil yang berhenti di hadapan mereka. Dan ternyata itu adalah mobil Leo.


" Beb ayo, Nau ayo sama kakak." ucap Leo.


" Nggak kak, ada kak Arga." ucapnya dengan tersenyum.


" Yauda kalau gitu, Arga gue titip Nau ya!" ucapnya dengan sorot mata yang sangat tajam.


" Ok, kalau gitu kakak pulang duluan ya." ucap Leo dengan mengelus kepala Naura.


" Iya kak, hati-hati ya." ucapnya dengan tersenyum, dan Leo pun segera masuk ke dalam mobilnya bersama dengan Tania. Kemudian mobil mereka pun segera pergi.


Setelah mobil Leo pergi, Arga pun segera berlari ke parkiran. Tak lama setelah itu ia pun kembali dengan motornya, dan ia bersiap untuk mengantar Naura pulang.


" Ayo naik, kita pulang." ucap Arga, dan Naura pun langsung naik ke motor tersebut.


" Tapi aku tidak ingin pulang, aku ingin pergi ke sekolah adikku." ucapnya yang telah duduk di motor Arga.


" Tidak masalah, aku akan mengantarmu ke sana." ucapnya kemudian melajukan motornya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya keduanya sampai di sekolah Vino. dalam seketika Vino keluar dari ruangan kelasnya, ia pun langsung berlari ke arah Naura dan kemudian memeluknya.


" Kak Nau, kakak dari mana aja? Vino kangen tau." ucap Vino yang kini berada dalam pelukan Naura.


" Kakak nggak kemana-mana dek, kakak cuma pindah kerumah kakak sepupu aja." ucapnya.


" Kenapa kakak nggak tinggal lagi di rumah?" tanyanya yang penasaran.


" Kalau soal itu kakak juga nggak bisa jelasin, cuman Paman Kakak bilang. Kalau kakak masih mau tinggal di Indonesia, kakak harus tinggal di rumah anaknya." ucap Naura.


" Yauda deh, gak masalah. Yang penting, kakak tetap tinggal di Indonesia. Ya walaupun akan sangat sulit untuk bertemu dengan kakak, tetapi setidaknya tidak membutuhkan waktu bertahun-tahun." jelasnya dengan tersenyum.


" Ya begitulah, tapi kita tetap bisa menghilangkan rasa rindu walaupun sesaat." ucap Naura yang menangis, dan Arga pun dengan sigap memberikan saputangannya kepada Naura.


" Sudah jangan menangis, aku akan selalu bersedia untuk mengantarkan mu. Kemana pun yang kau mau, asal kau bahagia." ucap Arga, dan Naura pun langsung memeluk Arga.


Arga diam mematung, ia tidak bisa berkata-kata. Kini jantungnya berdetak dengan sangat kuat, dan ia menjadi takut. Kalau Naura bisa mendengarnya, karena kini Naura sedang berada dalam pelukan Arga.


Naura yang merasakan getaran yang cukup kuat, akhirnya ia pun segera melepaskan pelukannya. Ia sebenarnya tau kalau Arga sedang gugup, tetapi ia pura-pura tidak mengetahuinya. Agar Arga tidak merasa malu di hadapannya.


Naura sangat peduli dengan Arga, baginya Arga adalah Cahaya penerang kehidupannya. Dan nta sejak kapan, ia merasa selalu ada yang kurang. Bilang Arga tidak ada di sisinya. Dan ia selalu saja mencari alasan, agar ia bisa melihat wajah Arga, atau paling tidak mendengar suara Arga.


Hal itu tidak hanya dirasakan oleh Naura saja, tetapi juga sebaliknya. Dan mereka juga berusaha untuk saling melengkapi, dan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk pasangan. Tiba-tiba saja ada yang menarik baju kedua, dan ia merasa kesal.


" Hello, disini masih ada aku." ucap Vino yang kesal.


" Eh, jangan ngambek dong. Masa adik kesayangan kakak ngambek, kan aneh." ucapnya.


" Biarin aja, habis kakak nyebelin." ucapnya dengan memayunkan bibirnya.


" Nggak kakak, nggak adek. Sama aja menggemaskan saat ngambek." batin. Arga dengan tersenyum.


" Uda dong dek, jangan ngambek. Kita beli ice-cream ya." ucap Naura dengan menunjuk warung ice-cream.


" Hore." ucap Vino dengan tersenyum, dan meloncat kegirangan.


Mereka pun segera membeli ice-cream, tidak lama setelah itu. Mereka pun kembali ke depan gerbang, mereka berbincang dengan sangat asik. Dan rasanya hanya ada keduanya, awalnya Arga kesal. Tetapi setelah melihat tawa dan senyuman dari Naura, ia menjadi ikut bahagia.


Tak terasa kini hari sudah hampir sore, tetapi jemputan dari Vino belum datang juga. Akhirnya Naura memutuskan untuk mengantarkan Vino, tetapi ia ingin meminta persetujuan dari Arga terlebih dahulu.


" Beb." ucap Naura, dan membuat Arga membulatkan matanya karena kaget.


" I-iya beb." ucapnya yang kaguk dan melihat sekelilingnya.


" Boleh minta tolong nggak." ucapnya dengan ekspresi memohon.


" Boleh, apa sih yang nggak untuk mu." ucapnya.