Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 142



Kini Naura sedang berbincang dengan Zia, mereka membicarakan tentang siapa sebenarnya Rasya. Dan tiba-tiba saja Karin pun datang menemui mereka.


Tok


Tok


Tok


Keduanya pun langsung melihat ke arah pintu, dan mereka pun langsung mempersilahkan Karin untuk masuk.


" Kalian berdua sedang membicarakan apa, tampaknya sedang serius?" tanya Karin.


" Kami sedang membicarakan teman kami Kak." jawab Naura.


" Bolehkah kau tahu siapa dia?" tanya Karin yang penasaran.


" Tentu aja boleh Kak, dan mungkin Kakak juga sudah mengenalnya." ucap Zia dan membuat Karin menjadi penasaran.


" Siapa dia sebenarnya, mengapa kalian bilang aku mengenalnya?" tanya Karin.


" Namanya Rasya Kak." ucapnya.


" Jadi kalian mengenal siapa itu Rasya, lalu apakah kalian disakiti oleh dia?" tanya Karin yang khawatir.


" Kakak tenang aja ya, dia tidak ada menyakiti kami. Dan lagian sekarang dia sudah berubah, dia bukan nama Rasya yang dikenal oleh publik selama ini. Dia adalah Rasya teman kami, dan dia adalah seorang gadis yang baik." jelas Naura dan Karin pun kebingungan.


" Apa maksud dari pembicaraan kalian, aku tidak percaya kalau dia telah berubah. Bukankah selama ini ia adalah orang yang ditakuti dalam dunia bisnis, mengapa kalian bilang dia sudah berubah?" Tanyanya tetapi tanpa sadar mengucapkan sebuah rahasia dan membuat keduanya terkejut.


" Apa maksud kakak dengan dia ditakuti dalam dunia bisnis?" tanya Zia.


" Maaf Kakak kelepasan, tolong jangan bilang apa-apa sama Rangga." ucapnya.


" Kami tidak akan mengatakannya kepada Kak Rangga, asalkan Kakak menceritakan apa yang sedang Kakak maksud. Jujur saja kami tidak mengerti dengan apa yang kakak katakan, awalnya kamu mengira ini semuanya lah dari Ayahnya. Tetapi kami tidak menyangka dengan penuturan kakak, dan kini kamu meyakini kalau ada yang sedang disembunyikan." ucap Zia dan keduanya pun menatap ke arah Karin.


" Baiklah kakak akan menceritakan semuanya kepada kalian, sebenarnya Ayah Karin adalah orang yang berpengaruh di dalam dunia bisnis. Dan jika ada perusahaan yang menentang mereka, maka orang yang menentang tersebut hanya akan tinggal nama saja…atau bisa dikatakan meninggal." jelasnya dan membuat keduanya terkejut.


" Lalu apalagi yang Kakak ketahui mengenai Rasya?" tanya Karin.


" Sebenarnya putusnya hubunganmu dengan Arga juga ada sangkut pautnya dengan hal ini." jawabnya dan membuat keduanya terkejut.


" Bagaimana bisa semuanya ada kaitannya?" tanya Zia.


" Sebenarnya saat ini sedang ada masa peperangan bisnis, dan keluarga utama yang sudah diincar adalah keluarga Arga. Karena itu Arga sendiri aja memutuskan hubungannya dengan dirimu, dan itu semua juga adalah permintaan dari Rangga. Karena ia tidak ingin melihat adik kesayangan yang ini terluka, dan lebih baik adiknya terluka di awal daripada harus terluka di akhir." itulah yang ada di dalam pikiran kakakmu itu.


" Aku sedang tidak salah dengar bukan, kalau begitu Kak Rangga mengetahui semuanya." ucap Zia yang kaget sedangkan Naura justru pergi ke kamarnya dengan wajah sedih.


" Ara..." panggil keduanya tetap Naura tetap tidak merespon.


" Sepertinya ia kecewa." ucap Karin.


" Tentu saja Kak, dia waktu awal putus itu down banget. Dan sekarang dia baru mulai pulih, tetapi ia justru mengetahui kalau yang membuat ia putus adalah Kak Rangga." jelas Zia.


" Apa sampai semengerikan itu?" tanyanya yang penasaran.


" Kakak nggak ada di saat itu, jadi Kakak nggak tau kondisi dia. Dan sekarang ia sudah mulai move on, tapi malah dapat kabar begini." jelas Zia.


" Lalu apa yang bisa kita lakukan, apakah harus menyatukan ia dan Rangga lagi atau tidak?" tanyanya.


...----------------...


Naura kini berada di kamarnya, ia sangat bersedih karena orang yang membuatnya bersedih ternyata adalah sang Kakak. Ia tidak menyangka, kalau semuanya adalah permintaan sang Kakak dan mengakibatkan ia harus putus dengan Arga.


Ia terus saja meratapinya, dan ia bingung. Harus kembali bersama dengan Arga atau tidak, pikirannya mengatakan untuk kembali. Tetapi perasaannya masih sakit ketika mengingat kejadian putusnya ia dengan Arga, ia sangat bimbang dan tidak tau harus bagaimana.


Ia terus saja bertarung antara pemikirannya dengan perasaannya. Pertarungan terus berjalan, hingga ia pun sudah mulai lelah dan tertidur. Walaupun masalah belum mendapatkan hasil dari pertarungan itu.


...----------------...


Naura terbangun dengan suasana hati yang murung, ia berjalan menuju meja makan. Kini ia malas bertemu dengan Rangga, dan akhirnya langsung berangkat ke sekolah.


" Apa yang terjadi dengan Ara?" tanya Rangga.


" Se-sebenarnya, Ara uda tau alasan dari Arga…putus dengannya." jelas Karin.


" Mananya, dia tau kalau aku yang meminta Arga untuk putus dengannya gitu." ucap Rangga dan Karin pun mengangguk.


" Astaghfirullah, pantas saja sikapnya aneh." tambahnya.


" Maafkan aku ya Mas, aku nggak sengaja kelepasan." jawabnya.


" Sudahlah sayang, memang sudah saatnya ia mengetahuinya. Karena cepat atau lambat Arga juga pasti akan memberitahunya, dan sekarang pertempuran antara bisnis juga sudah mulai mereda." jelas Rangga.


" Tetapi Naura terlalu cepat mengetahuinya Mas, sehingga ia mengambil kesimpulan yang sedikit negatif." ucapnya.


" Kau tidak usah memikirkan tentang Naura, biar aku saja yang akan menjelaskan kepadanya. Mudah-mudahan saja Naura mau mengerti, dan ia mau berbicara dengan kita sama seperti dulu." jelasnya.


" Amin…" ucap keduanya serentak.


...----------------...


" Ara…" panggil Tania yang tidak di hiraukan karena Naura sedang melamun.


" Woy." ucap Natan dengan menepuk bahu Naura.


" Ya ampun, kau ini ngagetin aku saja." ucap Naura yang langsung melihat ke arah Natan.


" Ya habisnya kau dipanggil nggak dengar, lihat tuh Tania sampai capek memanggil." ucapnya dengan menunjuk ke arah Tania.


" Maaf Ta." ucapnya yang langsung menghampiri Tania.


" Tenang aja Ara, aku udah maafin kamu kok. tetapi sebenarnya ada apa sih, tampaknya kau sedang banyak pikiran. Bukannya situasi sekarang sudah mulai membaik ya, karena perusahaan milik Ayah Rasya tidak menekan perusahaan di sekitarnya lagi." jelas Tania.


" Suasana memang sudah mereda, tetapi di dalam diriku sedang terjadi konflik." ucapnya yang ambigu dan keduanya beginian.


" Apa maksud dari perkataanmu?" tanya Tania yang kebingungan.


" Aku akan menjelaskannya nanti kepadamu, karena hari ini aku juga akan pulang ke rumahmu." ucapnya.


" Apa yang terjadi denganmu, apakah Pak Rangga melakukan sesuatu?" Tanyanya yang heran.


" Aku akan menceritakan semuanya kepadamu, tetapi untuk saat ini. Tolong biarkan aku menenangkan diri terlebih dahulu, aku tidak tahu apa yang sedang ada di dalam pikiranku saat ini. Aku sedang berperang antara pikiran dan juga perasaan, jadi nggak gini aku masih belum menemukan jawabannya." jelasnya.