Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 8



Tiara akhirnya pun sampai, iya menepuk pundak Naura.


" Nau kenapa lo lari, gue capek tau ngejar-ngejar lo." ucapnya dengan terengah-engah seusai berlari.


" A-aku malu." ujarnya sambil menundukkan kepalanya agar wajah merah seperti tomatnya tidak terlihat oleh Tiara.


Dengar jawaban Naura, Tiara tertawa dengan sangat kencang. Tiara pun menjadi pusat perhatian para siswa yang melalu-lalang di tempat mereka berdua berada.


" Tiara, jangan tertawa!" ujar Naura dengan sangat marah, iya takut pembicaraannya yang sebelumnya didengar oleh para siswa. Dan dia juga takut kalau akan banyak yang menjadi musuhnya di sekolah itu.


DRA adalah sebuah kelompok atau komunitas di sekolah tersebut yang terdiri dari anak-anak yayasan. Mereka terdiri atas tiga orang dan memiliki sifat dan karakter yang tidak jauh berbeda. Ketakutan terbesar Naura adalah ketika ia menyinggung mereka bertiga, ia akan mendapatkan sanksi yang kemungkinan besar adalah dikeluarkan dari sekolah.


" Sepertinya aku nggak pernah melarangmu untuk dekat dengan mereka lagi Nau." ujar Tiara sambil memikirkan kejadian yang terjadi di kantin tadi.


" Maksud kamu Ti?" tanya Naura yang tidak mengerti apa maksud dari perkataan Tiara.


" Coba kamu ingat kejadian di kantin tadi!" bukannya mendapat jawaban Tiara justru menyuruh Naura untuk memikirkan kejadian sebelumnya.


Naura akhirnya masuk ke dalam khayalan dan termenung memikirkan kejadian yang terjadi tadi, dia memikirkannya dengan sangat serius. Namun, tidak ada yang ia dapatkan. Perasaannya mengatakan itu semua biasa saja tidak ada yang aneh.


Tiba-tiba saja kenangan tentang pada saat ia ingin membayar di meja kasir terbesit dalam ingatannya, wajah Naura tampak merah merona. Hal itu membuat tawa Tiara semakin pecah.


" Tuh kan, tuh kan apa yang kamu ingat?" tanyanya sambil meledek.


" Apaan sih Ti, uda yuk mending kita masuk kelas." Naura langsung menarik tangan Tiara menuju ke kelasnya.


Setibanya mereka di dalam ruangan kelas, suasana tampak hening. Mereka berdua yang baru saja hadir dalam ruangan itu merasa terheran, biasanya di jam segini sudah ada guru yang mengisi kelas tersebut. Namun, saat ini tidak ada siapapun.


Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada Zaky ketua kelas di kelas itu. Mereka berdua melenggangkan kaki menuju meja Zaky.


" Ky tumben nggak ada guru yang masuk?" tanya Tiara yang merasa penasaran, karena hal ini sebelumnya tidak pernah terjadi. Terutama karena kelas mereka adalah kelas unggulan.


" Hari ini lagi ada pendaftaran untuk OSIS, jadi pihak sekolah menganjurkan untuk ditiadakan pembelajaran. Namun, bukan berarti kita dipulangkan. Kita masih tetap berada di sekolah hingga jam pelajaran selesai." jelas Zaky yang akhirnya mendapat anggukan dari Tiara dan juga Naura.


Setelah menjelaskan kepada Tiara dan Naura Zaky pun melenggangkan kakinya keluar dari kelas dan ingin pergi menuju ruangan OSIS. Tiara tidak lagi menghentikan Zaky karena ia tahu Zaky pastinya ingin mencalonkan diri sebagai ketua OSIS.


Walaupun tahun lalu Zaky kalah dalam pemilihan ketua OSIS, Zaky tetap berusaha melakukan yang terbaik agar tahun ini ia terpilih. Saingan kali ini, sangatlah banyak berbeda dengan tahun lalu. Walaupun tahun ini anak kelas 12 tidak mengikuti pemilihan kembali, anak kelas 10 semakin banyak saja yang berlomba-lomba untuk menjadi ketua OSIS.


Naura dan Tiara yang malas dengan urusan OSIS, mereka memilih kembali lagi ke kantin untuk makan kembali. namun, di tengah perjalanan mereka ingin ke kantin. tangan Naura ditarik oleh seseorang, Tiara pun mengikuti Naura.


Ternyata yang menarik Naura adalah Arga, Tiara yang nampak wajah Arga sekilas. Ia kemudian pergi meninggalkan Naura dan Arga, ia tidak ingin menjadi pengganggu itulah yang ada di dalam pikirannya saat ini. Jika tadi yang ditarik oleh Arga adalah orang lain, mungkin Tiara akan berusaha mencari bantuan. Namun, ini berbeda karena yang ditarik adalah Naura. Dan sikap Arga kepada Naura sangat berbeda dengan sikapnya kepada orang lain. Dan itu yang membuat Tiara semakin yakin untuk tidak ikut campur urusan mereka berdua.


Tiara pun kembali melenggangkan kakinya menuju, di kantin ia bertemu dengan Ryan dan juga Dion. iya sengaja bertanya-tanya ke mana perginya Arga. Ryan dan Dian tidak ada yang menjawab mereka hanya menggelengkan kepalanya saja, yang artinya mereka tidak tahu di mana keberadaan Arga.


" Lo juga di sini sendiri Ti, mana Naura?" tanya Dion sambil mengamati sekitar.


Tiara tertawa sambil tersipu. " di bawah orang aneh dia." ucapnya dengan menekankan kata aneh. Kemudian menatap Dion dan Ryan secara bergantian.


" perlu dicurigai nih, jangan bilang Naura dibawa kabur ya sama harga?" tanyanya dengan menatap ke arah Tiara dengan sangat tajam untuk menanti jawaban yang sebenarnya sudah mereka terka.


Tiara tidak menjawab dia hanya tertawa, melihat reaksi Tiara mereka berdua semakin yakin dengan argumen yang ada dalam pikiran mereka.


" melihat dari tampangmu, sepertinya memang benar Naura bersama Arga?" tiba-tiba saja Ryan bersuara.


" Tuh udah tau jawabannya, jadi ngapain lagi nanya lagi?" ujar Tiara dengan ketus, karena ia sudah malas menanggapi kedua orang tersebut. tetapi ia masih ingin menggali informasi tentang Arga.


Tiara memang belum lama bertemu dengan Naura. Namun, dengan sikap Naura membuat Tiara sayang kepada Naura. Dan tidak ingin Naura menjalin hubungan dengan orang yang salah.


Di sisi lain di sebuah lorong harga sedang menginpit Naura di antara dirinya dan juga tembok. Naura sangat panik dan ingin meminta bantuan. Namun, ia tidak menemukan siapapun berlalu-lalang dari tadi.


Arga yang melihat interaksi Naura, yang dari tadi selingkuh kanan dan kiri.Ia pun tersenyum karena dari tadi tidak ada yang melihat dirinya dan juga Naura.


" Kak tolong lepasin aku!" ucapnya dengan ekspresi takut dan memohon.


Arga bukannya melepaskan Naura, iya justru semakin tersenyum. Tingkah Naura saat ini tampak sangat imut di matanya.


" Lo takut ya?" ucapnya sambil mengamati wajah Naura yang kini sudah meneteskan air mata. " tenang aja gue nggak akan apa-apain lo kok."


" Syukurlah." batinnya dengan membuang nafas lega. " Terus Kakak ngapain, tolong kasih aku Kak!" ia pun memandang mata Arga.


Tiba-tiba saja Naura hanyut ketika memandang mata Arga yang begitu damai baginya. Ia tak bisa berkata apa-apa. Mereka berdua saling pandang, dan merasakan dunia seperti milik mereka berdua. Jantung mereka berdebar dengan sangat kencang. Namun, tidak ada satupun dari mereka berdua yang menyadarinya.


hai guys, sedikit pengenalan.



Nama : Dion Angkasa


Sifat : Ramah, dan humble


Status : Sahabat Arga


Hobby : Basket