
" Siapa sih yang ngajarin Maura kayak gini, mau nikah sama siapa coba aku." batin Danang yang kebingungan melihat tingkah Putri semata wayangnya itu.
" Kau pasti bingung mau nikah dengan siapa kan?" ucap Iksan.
" Iyalah ayah, aku tuh nggak ada menjalin hubungan sama siapa-siapa. Eh tiba-tiba Putri semata wayang ku minta ibu, aku nggak tahu siapa yang cocok jadi ibunya." ucap Danang yang pening memikirkan tingkah putrinya.
" Kalau soal itu kau tenang saja, ayah ada beberapa calon yang menurut ayah cocok untukmu. Tapi untuk ke berikutnya itu tergantung pada dirimu, ayah tidak ingin memaksakan engkau. Pilihlah yang menurutmu memang cocok, ayah harap kau juga bisa memilih orang yang bisa menyayangi Maura." jelas Iksan dan Danang pun mengangguk.
" Ayah tenang saja, aku pasti akan mencari orang yang bisa menyayangi Maura. Karena tujuan utamaku untuk menikah, adalah agar ada yang menyayangi Maura. Aku tahu di awal aku sudah salah pilih, dan aku tidak ingin mengulangi kejadian tersebut lagi. Mungkin lukanya tidak berbekas, tetapi rasa sakitnya masih tertinggal hingga kini." jelas Danang dan Iksan pun menepuk pundak putranya itu untuk menenangkannya.
" Ayah mengerti penderitaanmu Danang, dan ayah harap pernikahanmu yang berikutnya adalah pernikahanmu yang terakhir. Dan ayah harap Maura juga akan hidup bahagia bersama denganmu dan istri barumu itu." ucap Iksan dengan tersenyum kemudian meninggalkan putranya.
" Jadi ayah bakal cari mama baru buat aku kan?" tanya Maura yang antusias.
" Iya sayang, ayah kan cari mama baru buat kamu. Nanti kalau ayah sudah punya calon, ayah akan memperkenalkannya terlebih dahulu kepadamu. Untuk ke jenjang berikutnya, ayah serahkan kepadamu. Karena ayah hanya ingin mencari mama untukmu, bukan mencari pendamping untuk ayah yang tidak menyayangimu." jelas danang dan Maura pun meloncat-loncat gembira.
" Makasih ayah." ucapnya dengan tersenyum kemudian meninggalkan Danang.
" Mudah-mudahan saja kau bisa bahagia sayang, apapun yang kau inginkan akan ayah turuti. Karena kau adalah permata kesayangan ayah, siapapun yang menyakitimu akan ayah habisin. Ayah tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, karena engkau adalah cahaya kehidupan ayah." batin Danang dengan melihat kepergian putrinya.
...----------------...
" Acaranya cukup meriah, tapi aku sangat bosan di sini." ucap Zia yang memang tidak menyukai tempat tersebut.
" Kau kenapa Zia?" tanya Naura yang baru saja muncul.
" Aku sedang bosan, pestanya memang sangat meriah. Tetapi aku tidak memiliki teman di sini." ucapnya yang mencurahkan isi hatinya.
" Kenapa kau bilang tidak memiliki teman, di sini kan ada aku dan anak-anak yang lain." ucap Naura dengan tersenyum.
" Aku tidak bisa bergaul dengan keluarga Kak Karin, tetapi aku sangat heran dengan dirimu. Mengapa dengan mudahnya kau bisa akrab dengan keluarga Kak Karin?" tanya Zia yang penasaran
" Kalau untuk soal itu aku juga tidak tahu, awalnya aku hanya berkenalan dengan kak Awan. Tetapi lama-lama aku sudah mulai mengenal satu persatu keluarga dari kak Karin, dan semuanya juga bukanlah hal yang mudah. Mungkin saat ini kau memang belum akrab pada mereka, tetapi aku yakin pasti suatu hari nanti kau sudah akrab dengan mereka." ucap Naura dengan tersenyum.
" Kamu jangan ngomong sembarangan, mereka semua pasti menyukaimu. Hanya saja kau masih belum akrab dengan mereka, jadi kau harus mencoba akrab dengan mereka. Agar kau bisa mengetahui kalau mereka menyukaimu, dan kau juga merasa nyaman ketika bersama dengan mereka. Sebenarnya mereka sangat menyukaimu, hanya saja kau membangun dinding pembatas di antara kau dengan mereka." jelas Naura dan membuat Zia agak kebingungan.
" Apa maksudmu dengan dinding pembatas?" tanya dia yang memang tidak mengerti.
" dinding pembatas yang aku gunakan adalah sikapmu yang mencoba menjauh dari mereka semua, sikapmu yang tidak ingin menerima mereka semua, engkau yang hanya ingin sendirian saja, dan juga perasaanmu yang menganggap kalau mereka tidak menyukaimu." jelas Naura dan Zia pun mengganggu.
" Yang kau bilang sangat masuk akal, tetapi aku masih takut untuk berbaur dengan mereka. Walaupun aku adalah adik dari kak Rangga, tetapi aku belum pernah bertemu sekalipun dengan Kak Karin. Oleh karena hal itu, aku masih merasa canggung bila harus berhadapan dengan kak Karin dan juga keluarganya." jelas Zia dan Naura pun mengangguk.
" Kau harus merubah pola pikirmu, bila kau masih berpikir seperti ini. Maka kau tidak akan pernah bisa akrab dengan keluarga kak Karin, dan hal itu juga yang akan membuat jarak antara kau dan keluarga kak Karin." jelas Naura tetapi dia masih kebingungan.
" Lalu aku harus bagaimana?" tanya dia yang memang tidak mengetahui.
" Kau hanya perlu mendekatkan diri dengan keluarga kak Karin, agar kau bisa semakin akrab dengan mereka. Dan hal itu juga bisa membuat pandanganmu dan pandangan keluarga kak Karim berubah, mungkin mereka akan lebih mengira kalau kau adalah berkepribadian yang ramah. Bukan seperti yang mereka pandang saat ini, kau adalah kepribadian yang cuek dan juga egois." jelas Naura dan Zia pun tersentak mendengar perkataan tersebut.
" Aku cuek dan egois, dari mana kamu mendapatkan perkataan itu?" tanya dia yang penasaran.
" Kau tidak perlu tahu aku mendapatkan perkataan itu dari mana, yang perlu kau tahu hanya merubah sikapmu tersebut. Agar kau bisa dekat dengan kak Karin dan juga keluarganya, bukannya kau akan dikira sebagai membenci keluarga mereka." jelas Naura dan dia pun mengangguk.
" Yang kau katakan memang benar, kalau begitu kau harus membantuku agar bisa dekat dengan Kak Karin dan juga keluarganya." ucapnya dengan menggenggam tangan Naura.
" Kau tenang saja Zia, aku pasti akan membantumu agar bisa dekat dengan mereka. Tetapi kau harus merubah sikapmu terlebih dahulu, agar mereka semua mau mempercayaimu. Mereka sepenuhnya percaya denganmu, bukan hanya percaya dengan mulutmu saja." jelas Naura dan dia pun mengangguk.
" Bagaimana caranya aku merubah sikapku, dari dulu sikapmu sudah seperti ini." ucapnya yang sedang kebingungan.
" Kau bisa merubah penampilanmu agar sedikit anggun, dan juga mencoba mendekatkan diri dengan keluarga mereka. Kau harus mendekatinya dengan cara perlahan, jangan SKSD (Sok Kenal Sok Dekat)." ucap Naura.
" Itu adalah hal yang sangat sulit bagiku, tetapi aku akan berusaha untuk mencobanya." ucap Zia dengan tersenyum kemudian pergi meninggalkan Naura.
" Uti tadi habis ngomong sama tante Zia ya?" tanya Maura yang baru saja muncul.
" Iya sayang, tadi uti baru ngobrol sama tante Zia." jawab Naura dengan tersenyum.