Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 23



Naura pun menanyakan awal mula dari Tania menjadi seorang model.


" Tan, bagaimana bisa kamu jadi model?" tanya Naura yang penasaran.


" Oh itu si, awalnya iseng-iseng ikut kompetisi model. Eh nggak taunya, mala juara. hehehe." jawabnya dengan tertawa.


" Ai, bisa gitu ya." Naura tak percaya mendengar jawaban dari Tania.


Tania tidak menjawab, Ia hanya tersenyum saja. Dan membuat Naura merasa heran, orang yang ia kenal sebagai orang yang tak peduli dengan penampilan ini. Ternyata adalah seorang model, dan parahnya ia mengaku hanya iseng-iseng saja.


Saat Naura ingin melanjutkan pertanyaan yang lagi mengenai karir model Tania, tiba-tiba saja Zia menghampiri mereka. Ia berniat untuk memperingati Naura agar menjauh dari Arga.


" Eh lo kan yang namanya Naura?" tanyanya dengan menggebrak meja.


" Memang kenapa kalau dia yang namanya Naura." Tania angkat suara karena kesal dengan tingkah Zia.


" Gue nggak ngomong sama lo, gue ngomong sama dia." Zia kembali bersuara dan membentak kepada Tania.


" Dia itu bestie gue, Jadi kalau cari masalah sama dia, lo barusan sama gue." jelaskan yang membela Naura.


Zia yang sangat kesal dengan Tania, Ia pun berniat untuk menampar Tania. Namun, tiba-tiba saja tangannya dicekal oleh Naura.


" Lo ya bikin gue tambah emosi tahu nggak." bentak Zia kembali.


Zia menatap kepada Naura, Naura yang sudah sangat emosi pada Zia mencoba untuk menahannya. Namun, terhalang emosinya mulai meluap.


" Kamu ada apa nyari aku, bisa nggak dibicarakan dengan baik-baik. Ini sekolah bukan arena tinju." Naura akhirnya angkat bicara.


Mendengar perkataan Naura, semua siswa yang berada di kantin itu langsung menatap ke arah mereka berdua.


" Gue mau lo jauhi Arga, iya ini memang bukan Arema tinju. Tapi bokap gue, itu salah satu yayasan di sekolah ini." jelas dia dan membuat semua mata menatap ke mereka. Mereka yang selama ini tidak mengetahui status dia, kini mereka merasa takut.


" Kenapa aku harus jauhin Arga, toh aku berteman sama dia. Dan yang kedua, aku nggak peduli kalau kamu adalah anak dari salah satu yayasan di sekolah ini." Naura mengatakannya dengan sangat percaya diri.


Semua mata menatap keberanian Naura, selama ini tidak akan ada yang berkutik ketika mendengar kalau orang tuanya adalah salah satu pemegang yayasan di sekolah itu. Namun, hal itu sangat berbeda dengan Naura, yang kini sedang berkelahi dengan anak salah satu pemegang yayasan.


Ada beberapa anak yang merekam perkelahian antara kedua wanita itu, dan dalam sekejap video itu tersebar luas. Banyak yang merasa kalau Naura adalah orang yang sangat percaya diri, dan mereka mendukung Naura. Namun, juga ada yang mengatakan Naura bodoh. Karena ia tidak takut dikeluarkan dari sekolah itu.


Arga pun segera berlari menuju kantin, tempat terjadinya perkelahian antara Naura dan juga Zia. Para siswa yang melihat Arga berlari dengan sangat kencang, mereka pun mengikuti Arga.


Mereka tidak ingin membela siapapun, mereka semua hanya penasaran. Siapakah yang akan dibela oleh Arga antara Naura dan Zia. ada yang melihat Naura karena tahu tingkah Arga yang sangat lembut pada Naura. Dan ada juga yang memihak Zia, karena Zia adalah anak dari salah satu pemegang yayasan.


Setibanya Arga di kantin, semua mata memandang ke arah Arga. Zia yang melihat Arga, ia tiba-tiba saja berlindung di belakang Arga. ia mencoba mengadukan semuanya kepada Arga.


Arga yang saat ini berada di depan Zia, ia tidak mengatakan apapun kepada Zia. Ia langsung pergi untuk menemui Naura, dan menanyakan bagaimana keadaan.


" Lo nggak apa-apa Nau?"tanyanya yang merasa khawatir.


" Aku nggak apa-apa kok Kak, mending Kakak urusin aja pacar Kakak itu." jawabnya dengan ketus kemudian pergi meninggalkan tempat kejadian.


Semua mata yang memandang, mereka sangat tidak percaya. Naura yang tampak kalem dan lembut, ternyata juga bisa berbicara kasar. dan memang benar apa yang dikatakan oleh Naura, mungkin saat ini Naura berpikir kalau Zia adalah pacar dari Arga. Oleh karena itu Naura tidak ingin ikut campur dalam urusan kedua kekasih itu.


Arga berniat untuk mengejar Naura. Namun, tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh Zia. Dan hal itu sangat membuatnya kesal, karena ia kehilangan jejak Naura yang entah pergi ke mana. Arga menepis tangan Zia, dan kembali mengejar Naura.


Zia yang sangat emosi, karena Arga lebih memilih Naura dan membuatnya malu di depan para siswa dan siswi. Ia berniat melakukan hal jahat kepada Naura.


" Awas lo Naura, gue nggak akan biarin lo hidup bahagia. Apalagi sama Arga cowok yang gue suka." batin Zia.


Arga kini sudah kehilangan jejak Naura, akhirnya Ia memutuskan untuk pergi ke kelas Naura. Dan benar saja saat ini Naura dan Tania sedang berada di ruangan kelas mereka.


Arga yang ingin menemui Naura, ia mulai merenggangkan kakinya menuju ke dalam ruangan kelas itu. Namun, tiba-tiba saja langkahnya dihentikan oleh Zaky ketua kelas di kelas itu.


" Maaf Kak Arga, lebih baik harga pergi dulu dari sini. Gue nggak mau kalau terjadi keributan di dalam kelas ini." ucap Zaky yang menghalangi Arga.


Arga pun memandang Naura dari depan pintu, dan ia melihat raut dari wajah Naura yang kini sedang bersedih. Akhirnya Ia memutuskan untuk pergi, ia mengambil keputusan itu. Karena ia melihat Naura dan mengingat apa yang dikatakan oleh Naura pada saat di kantin tadi. Hal itu pasti akan membuat dirinya dan Naura menjadi bertengkar di dalam ruangan kelas itu.


Setelah Arga pergi, Zaky pun menuju ke meja Naura dan Tania. Ia mencoba menenangkan Naura yang saat ini sedang bersedih, suasana hati Naura yang saat ini sedang kacau. Itu sangat membuat Zaky bersedih.


" Nau, lo tidak apa-apa?" tanya Zaky dengan selimut mungkin.


Naura tidak menjawab, ia hanya mengangguk pertanda kalau ia baik-baik saja. Tania terus berusaha untuk menenangkan Naura, sebentar lagi jam pelajaran akan segera dimulai. Jika wajah Naura masih tetap menangis, itu pasti akan membuat guru memperpanjang masalah yang terjadi di kantin tadi.


Dan Naura pastinya akan masuk ke ruang BK, dan ketika namanya sudah tercatat di ruang BK. Semua guru pasti akan mencap Naura yang tidak-tidak, oleh karena itu Tania tidak ingin kalau Naura mendapat nama buruk itu. Dan ia terus berusaha untuk menenangkannya.