
" Uti ngomong apa aja?" tanya Maura.
" Maura penasaran ya?" jawab Naura yang justru bertanya.
" Is uti nggak enak." ucap Maura.
" Maura mau tau ya, yang uti bicarakan itu soal…hahaha." ucap Naura yang kemudian langsung lari dari Maura.
" Utiiii…uti nyebelin." teriak Maura dan yang melihat hanya ikut tertawa saja.
" Kau sangat manis saat tertawa." batin Fahmi.
" Ara, jangan buat Maura marah." ucap Reza yang baru saja tiba.
" Maaf kak, habisnya Maura lucu kalau lagi ngambek. Hehehe." ucapnya dengan tertawa.
" Kamu ini ya dek, Maura ini keponakan mu lho. Kamu yang sudah dewasa, masa ngerjain anak kecil." ucap Reza dengan mengelus kepala Naura.
" Cowok itu kayaknya sangat dekat dengan Naura, kira-kira dia siapa ya?" gumam Fahmi.
" Kau kenapa?" tanya Jere yang melihat tingkah aneh Fahmi.
" Aku nggak ada apa-apa kok." ucapnya kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
" Kau cemburu ya melihat Naura dengan lelaki itu." ucap Jere dan membuat Fahmi tersentak.
" Nggak usah sok tahu deh." ucap Fahmi yang sudah kesal.
" Sudah sangat terlihat jelas tahu." ucap Jere dengan menepuk pundak Fahmi.
Tiba-tiba saja awan datang dengan penghulu, Rangga pun segera dibawa ke bawah. Sedangkan Karin masih tetap di atas, semuanya berkumpul di aula untuk menyaksikan Rangga mengucapkan ijab qobul, kini Rangga berhadapan langsung dengan Iksan ayah dari karir.
Suasana tampak mencekamkan, jantung Rangga berdebar dengan sangat kencang. Sorotan mata tertuju ke arah Rangga, dan semua menyaksikan ijab qobul tersebut. Dengan satu tarikan nafas, akhirnya kata sang pun terdengar dari barisan para saksi.
Suasana yang awalnya mencekamkan, kini dibanjiri dengan tangis haru para keluarga. Karin pun segera dibawa turun oleh Naura dan juga Zia, Karin tampak tampil dengan kebaya putih yang selaras dengan jas milik Rangga. Rangga tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Karin, dan akhirnya Karin pun didudukkan di samping Rangga.
Rangga pun memasarkan cincin kepada Karin, begitu juga sebaliknya. Kini mereka menunjukkan buku nikah yang sudah bertanda tangan, kemudian mereka berfoto dengan buku nikah sebagai tanda bukti pernikahan mereka. Iksan langsung menghampiri putri kesayangannya itu, ia memeluk dan juga mencium putri kecilnya untuk yang terakhir kalinya. Sebelum akhirnya ia menyerahkan tanggung jawabnya kepada Rangga, yang kini sudah berstatus menjadi suami dari putrinya.
" Rangga, ayah titip Karin padamu. tolong jaga dia sebaik-baiknya, dan ingat jangan pernah sakiti dia. Bila kau menyakiti dirinya, maka kembalikan saja ya kepada diriku." ucap Iksan.
" Ayah tenang saja, aku akan menjaga Karin sebaik-baiknya. Dan aku akan memastikan hidupnya bahagia, aku tidak akan membuatnya merasa tersakiti. Selama aku masih hidup di dunia ini, tidak ada satupun orang yang boleh menyakitinya." ucap Rangga dan kini Iksan pun semakin berderai air mata.
" Ternyata ketika seorang wanita menikah, hal itu akan membuat tangis ayahnya pecah." ucap Naura Dan kini ia dan ia pun saling berhadapan.
" Ya begitulah, kira-kira bagaimana pada saat pernikahan kita nantinya ya?" tanya Zia yang penasaran.
" Kalau soal itu aku tidak tahu sih, lagian masa-masa kita masih panjang. Saat ini kita masih beranjak remaja, usia kita masih menginjak 16 tahun. Dan masih sangat panjang untuk menuju jenjang yang namanya pernikahan." jelas Naura dan Zia pun mengangguk.
" Yang kau katakan memang benar, tapi aku sangat penasaran. Bagaimana keadaan saat kita menikah nanti, walaupun hanya dalam hanyalah saja." jelasnya.
" Ya ampun Naura, kau ini seakan masih anak polos saja. Oh iya, bagaimana hubunganmu dengan Arga?" tanya Zia yang memang tidak mengetahui kondisi Naura dan juga Arga.
" Bisa tidak, untuk saat ini jangan bahas tentang kak Arga." jawab Naura dan membuat Zia ke kebingungan.
" Kau sedang ada masalah dengannya?" tanyanya yang penasaran.
" Ya begitulah, jadi aku mohon jangan bahas tentang dia dulu. Aku nggak mau mood ku hancur di hari bahagia kak Rangga, dan pastinya aku akan dimarahi habis-habisan oleh kak Rangga nantinya." jelasnya dan dia pun menutup topik tentang itu.
" Ya udah deh kalau nggak mau bahas tentang dia, tapi aku mengucapkan terima kasih yang sangat besar kepadamu." ucapnya dan membuat Naura atau gimana.
" Memangnya aku melakukan apa, hingga kau ingin berterima kasih kepadaku?" tanya Naura yang memang tidak mengetahui apa-apa.
" Seperti yang kau sudah ketahui, awalnya aku memang dijodohkan dengan Arga. Tetapi Arga justru memilihmu, dan aku terus berusaha untuk merebutnya pada awalnya." jelas Zia dan mengingatkan Naura akan kejadian itu.
" Kan tadi aku sudah bilang, jangan bahas mengenai Arga." ucap Naura yang masih kesal.
" Eh maaf, tapi yang inti pentingnya bukanlah Arga. Tetapi kini aku sudah menemukan seseorang yang bisa mendampingiku, dan mau menerimaku apa adanya." jelasnya dengan tersenyum.
" Syukurlah kalau begitu, aku ikut senang untuk dirimu." balas Naura.
" Oh iya, kalau misalnya Si Arga berbuat yang aneh-aneh. Kau bilang saja padaku, aku akan membantumu mencari pemuda yang lebih baik dari dia." ucap Zia dan Naura pun tertawa cukup hebat.
" Nah gini dong gua tertawa, aku kan nggak mau kelihatan kamu yang ditekuk terus. Tapi soal omonganku tadi beneran loh." jelasnya dan Naura pun terdiam.
" Terima kasih atas niat baikmu, tetapi untuk saat ini aku belum memikirkan tentang yang lainnya. Aku masih ingin menyelesaikan masalahku dengan Arga, setelah itu aku baru memutuskan akankah melanjutkan hubungan dengannya ataukah tidak." jelas Naura.
" Kalau begitu semoga cepat selesai ya, aku hanya bisa mendoakan saja." ucapnya dan Naura pun tersenyum.
" Tampaknya kalian sudah akrab." ucap Reza yang mengagetkan keduanya.
" Lebih tepatnya terpaksa akrab." ucap Zia.
" Ya ampun, kau ini ya Zia." ucap Reza dengan menggelengkan kepalanya.
" Bercanda kali jak, kakak ini terlalu dibawa serius. Nggak seru tahu kalau serius mulu, entar lagi uban kakak makin banyak." ucap Zia yang meledek Reza.
" Kau ini ya Zia, selalu saja meledek kakak. Kakak doain kalau cepet nikah, biar tahu rasa pasanganmu itu melihat tingkahmu." ucap Reza yang kesal dengan tingkah Zia.
" Amin." ucap Zia dan membuat keduanya tersentak.
" Kamu sudah mau menikah memang?" tanya Reza yang kaget.
" Nta ni kak, dari tadi dia membahas mengenai pernikahanmu. Mungkin memang dia ingin segera menikah." ucap Naura yang membuat Reza makin menjalankan kepalanya.
" Sepertinya kau sudah mau menikah, apakah kau sudah memiliki calonnya?" tanya Reza dan Zia pun hanya tersenyum saja.
" Bawa dia ke hadapan kami, sepertinya kau sudah membayangkan hal yang lebih jauh dengannya." ucap Reza yang sudah terlanjur emosi.