
'' Oke ayah akan jelaskan kepada kakak, Kakak tenang aja ya. Naura ke Bogor tidak sendirian, Iya pergi ke bogor bersama dengan Arga...'' ucap sang ayah yang tiba-tiba terpotong.
'' Apa bersama Arga, ayah gimana sih. Arga itu laki-laki Ayah dan dia hanya pergi bersama Naura berdua saja.'' ucap Leo yang kaget dan begitu mencemaskan adiknya.
'' Ayah belum siap ngomong Kakak, Kakak dengerin dulu omongan ayah.'' perintah sang ayah dan Leo hanya mengangguk walaupun sebenarnya ia masih marah.
'' Ya udah kalau gitu, tolong dilanjutkan ayah.'' ucapnya yang memang masih menanti jawaban dari sang ayah.
'' Kakak tenang aja, mereka tidak pergi ke mana-mana. Mereka hanya pergi ke perkebunan milik warga Arga, Mama Arga menginginkan buah-buahan segar. Jadi mereka berdua pergi ke bogor bersama...''ucap sang ayah yang kembali dipotong oleh Leo.
'' Kalau mau buah-buahan kan tinggal beli aja di pasar, kenapa harus ke Bogor?'' tanya Leo yang penasaran.
'' Kalau punya perkebunan sendiri, untuk apa beli. Lagian buahnya lebih terjamin kalau dari perkebunan langsung loh.'' ucap sang ayah dengan senyuman.
Kini Leo mulai curiga dengan sikap sang ayah, Iya tak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh ayahnya. Ayah yang begitu menyayangi adiknya, kini seperti tidak peduli dengan Naura. Sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran sang ayah, hingga membuatnya acuh tak acuh kepada Putri tunggalnya dengan istri pertamanya itu.
'' Jawaban Ayah nggak masuk akal?'' ucapnya yang sangat geram.
'' Uda deh nggak usah kamu urusin, Ayah mau berangkat kerja.'' ucapkan Ayah yang kemudian meninggalkan Leo seorang diri.
Vino yang sempat mendengar percakapan antara Leo dan juga sang ayah, kini ia datang menghampiri Leo. Ia juga merasakan keanehan kepada ayahnya, entah kenapa ayahnya seperti berubah. Ayahnya yang begitu menyayangi kakaknya Naura, kini seperti tidak peduli lagi.
Mereka berdua hanyut dalam pikiran masing-masing, Vino yang sudah mulai resah dengan pemikiran ayahnya. Ia pun akhirnya mendatangi sang kakak, Ia juga mengatakan kalau sikap ayahnya itu aneh.
'' Kak, Kakak merasa nggak Kalau Ayah aneh?'' tanya Vino yang penasaran.
'' loh adik juga ngerasain, Kakak kira cuma kakak yang ngerasa.'' ucap Leo dengan menatap kearah Vino.
'' Gimana kalau kita ikuti ayah, siapa tau kita bisa dapat info.'' usul Vino.
'' Iya yang kamu bilang benar, tapi adik kan harus sekolah. Uda mending Kakak aja yang ngikutin ayah, nanti kalau uda dapat info Kakak kasih tau.'' jelasnya kepada sang adik.
'' Oke deh kak, tapi bener ya. Nanti kasih tau Adek, janji.'' ucapnya dengan ekspresi sedih.
'' Iya janji.'' Leo pun tersenyum ke arah adiknya itu.
Setelah mendengar perkataan Leo, Vino pun segera berangkat ke sekolah. Vino diantar oleh sopir pribadinya, Leo pun melakukan kesepakatannya dengan Vino. Ia pergi mengikuti sang ayah, tetapi hari ini sang ayah benar-benar ke kantor. Dan ia tidak tahu apa maksud terselubung dari sang ayah, namun hatinya terus berkata kalau ayahnya memiliki suatu rahasia tersembunyi.
Karena hasil pencariannya hari ini nihil, Ia pun memutuskan untuk pergi ke kampusnya. Ia berencana untuk melanjutkannya nanti setelah pulang kampus, dan saat ini ia ingin mencari sumber informasi yang lebih rinci lagi. Ia penasaran apa yang membuat ayahnya berubah, mau itu informasi sekecil apapun itu akan sangat bermanfaat bagi dirinya.
Leo pun langsung berangkat ke kampusnya, seperti biasanya Leo pasti bertemu dengan Yuna di gerbang. Sejujurnya Leo sudah muak, karena setiap harinya ia bertemu dengan Yuna. Leo mengetahui Kenapa ia selalu bisa bertemu dengan Yuna, itu semua karena Yuna selalu menunggunya datang baru ia masuk ke dalam.
Yuna bahkan pernah datang ke rumahnya, dan Yuna juga pernah mendekati Sandra agar ia dapat dekat dengan Leo. Tapi dia salah, karena yang paling dekat dengan Leo bukanlah Sandra melainkan Naura. Dan Naura tidak pernah mendukung hubungannya dengan Yuna, bukan karena Naura mengetahui kalau Leo bayar pacaran dengan Tania. Tapi karena Naura tidak menyukai sikap Yuna yang terlalu sok mengatur dan sombong itu.
'' Hai Leo.'' ucapnya dengan ada manja.
Leo tidak menjawab, ia langsung pergi menuju kelasnya. Di dalam kelas ia bertemu dengan Farel dan Irfan, temannya sejak SMA itu. Dan mau tidak mau dia memasak ekspresi datar karena baru saya bertemu dengan Yuna. Bagi kedua temannya itu wajah datar milik Leo sudah biasa, apalagi terjadi ketika awal masuk kelas. Sudah bisa dipastikan hal itu terjadi karena Leo baru saja bertemu dengan Yuna.
'' Kenapa muka lu?'' tanya Farel.
'' Nggak usah ditanya lagi kali Farel, udah pasti baru ketemu Yuna tuh.'' Irfan malam menjawab.
'' Tau aja lo Fan, tau nggak gue sebel banget. uda gue lagi mikirin si Naura, eh malah jumpa muka tua anak satu lagi.'' keluh Leo.
'' Memang kenapa dengan Naura?'' tanya keduanya serentak.
'' Nggak balik dia semalam.'' jawab Leo dan membuat keduanya kaget.
'' Apa, bercanda kan Lo.'' ucapan Farel yang tidak percaya.
'' Gue nggak lagi bercanda, Naura memang nggak pulang semalam.'' Leo menerangkan kembali.
'' Terus lo tau dia di mana?'' kini gantian Irfan yang bertanya.
'' Kata ya gue sih dia di Bogor.'' ucap Leo.
'' Ngapain dia di Bogor?'' keduanya bertanya dengan serentak.
'' Dan dia sama siapa?''tambah Irfan.
'' Dia di Bogor sama Arga, sebenarnya sih gue nggak masalah kalau dia misalnya pergi sama Arga. Cuman yang buat gue marah, kenapa mereka samping nginep segala.'' keluh Leo.
'' Tunggu, tadi lo bilang Ayah lo tau dia di Bogor. Iya Ayah gue tahu, bahkan yang ngasih tahu gue itu Ayah gue.'' jelas Leo.
'' Terus Ayah lu nggak marah gitu?'' tanya Farel yang merasa heran.
'' Nggak ada, bahkan Ayah gue tampak santai lagi. Sampai gue curiga lagi sama ayah gue, karena jujur saja sikapnya tuh aneh banget. Nggak biasanya ayah gue nggak peduli sama naura, tapi hari ini dia... gitu lah.'' jelasnya.
'' Kalau gitu, kita harus selidiki. sepertinya ada udang di balik bakwan, dan takutnya akan membawa dampak buruk di kemudian hari.'' ucap Farel yang memang juga merasa kalau Ayah Leo sangat aneh.
'' Iya benar, kalau gitu lo mau bantuin gue kan?'' tanyanya kepada kedua sahabatnya itu, dan mereka hanya mengangguk saja.