Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 18



Naura yang sangat serius ia sampai melupakan perkataan kakaknya Rangga sebelum jam pelajaran dimulai tadi. Akhirnya telepon Naura pun berdering dan ia melihat nama yang tertera adalah sang kakak, dengan sigap ia langsung mengangkatnya.


melihat respon dari Naura, Arga penasaran siapakah yang menelpon Naura. Namun, ia tidak berani bertanya kepada Naura karena itu adalah privasi Naura. Naura yang merasa santai mengangkat telepon di depan Arga.


" Halo kakakku yang ganteng." ucap Naura untuk mengawali telepon karena ia takut sang kakak marah karena jam sudah lewat dari jam istirahat.


" Nggak usah muji dek, adik ke mana aja kenapa nggak hubungi Kakak dari tadi?" tanya Rangga dengan emosi yang membara.


" Maaf Kak, Adek lupa soalnya Adek lagi belajar buat olimpiade."jelasnya dengan membujuk sang kakak.


" Oh gitu." jawabnya santai. "Apa?" ia kemudian terkejut. " Bukannya Adek anak baru, kenapa uda langsung di tunjuk untuk olimpiade?" tanyanya dengan tanpa celah, dan membuat Naura bingung.


Melihat ekspresi di wajah Naura yang panik, Arga pun bertanya, karena ia sangat khawatir dengan Naura.


" Nau, ada apa?" tanya Arga yang khawatir.


Naura tidak menjawab, ia masih kebingungan. Akhirnya setelah menarik napas dan menenangkan dirinya, ia mulai menjawab pertanyaan demi pertanyaan.


" Begini kak. Hem..." Naura menjelaskan namun terhenti karena ia masih bingung.


" Kenapa Nau?" tanya Arga yang sudah sangat khawatir.


" Ini kak, aku bingung cara jelasin ke kakak aku, tentang aku terpilih untuk mewakili olimpiade." jawab Naura yang masih bingung.


" Yauda sini, biar aku yang ceritakan." ucapnya dan kemudian mengambil handphone dari tangan Naura.


" Halo kak, saya Arga Suseno. Saya kakak tingkat Naura, dan saya juga akan pergi bersama dengan Naura untuk mewakili olimpiade. Naura terpilih karena ia adalah anak yang pintar, dan hal itu terbukti dari awal ia masuk ke sekolah ini, dan menggemparkan seisi sekolah." jelas Arga yang sebenarnya juga bingung.


" Oh gitu, yauda jaga adik gue ya. Awas aja kalau sampai ada yang bilang, gue bantai mungkin Lo." jelas Rangga dari sebrang telepon.


" I-iya kak." jawab Arga dan membuat Rangga tertawa.


Mendengar tawa Rangga, Arga merasa mengenal suara itu. Namun, itu bukan suara Leo, kakak Naura yang ia kenal. Arga mencoba berpikir suara siapa yang ia dengar itu. Namun, ia tak kunjung menemui titik tengah.


Arga pun mengembalikan handphone Naura, dan ia masuk dalam lamunannya, untuk mencari tau suara siapa yang baru saja ia dengar.


" Kakak kenapa tertawa?" tanya Naura yang merasa heran.


" Nggak dek, nggak apa. Yauda lanjut belajarnya, nanti sampai rumah langsung telpon kakak ya!" perintah Rangga dan di jawab "Ya" oleh Naura. Dan sambungan telepon pun terputus.


Naura membuka bukunya kembali dan mempelajari pelajaran yang ada di buku. Naura yang merasa heran dengan tingkah Arga, ia pun memanggil Arga. Namun, tidak mendapat jawaban. Dan hal itu membuatnya panik.


Setelah cukup lama ia menggoyangkan tubuh Arga, akhirnya Arga tersadar. Tampang Arga sangat aneh, dan ia tidak tau apa yang baru saja terjadi.


Naura ingin menanyakan keadaan Arga. Namun, ia mengurungkan niatnya setelah melihat ekspresi Arga. Dan kemudian ia melanjutkan kembali belajar.


Karena Arga sudah jatuh hati pada Naura, Arga tidak merasa keberatan, bahkan ia sampai gembira. Sebelum pulang Arga mengajak Naura untuk pergi jalan-jalan terlebih dahulu.


Mereka berdua menikmati waktu bersama, senyuman meluncur di wajah mereka berdua dengan sangat damai. Naura memegang pinggang Arga di sepanjang perjalanan.


Zia yang tanpa sengaja melihat kemesraan Arga dan Naura, ia menjadi sangat marah. Ia pun melaporkan kepada papinya dan berharap sang papi dapat membantunya untuk mendapatkan Arga.


Sang papi kali ini tidak ingin membantu putrinya. Ia yang selama ini dibutakan karena rasa sayangnya pada putrinya, kini ia sadar dan tidak ingin putrinya melakukan kesalahan yang fatal.


Ia meminta putrinya untuk melupakan Arga dan mencoba membuka hati untuk laki-laki lain, yang memang mencintainya. Bukan mengejar seseorang yang tidak mencintainya, Karen itu hanya akan menjadi sia-sia saja.


Zia tidak mau mendengarkan perkataan papinya, dan ia akhirnya pergi dengan sangat kesal. Sang papi yang khawatir pun memutuskan untuk melindungi putrinya.


Langkah Jarot tiba-tiba saja terhenti saat ia merasakan kalau tangannya di tarik. Dan ternyata itu adalah putra keduanya Reza. Reza yang sudah tau isi dari pembicaraan sang papi. Ia pun meminta Jarot untuk tenang.


" Papi tenang aja, nanti kalau uda sore dia juga balik." ucap Reza, yang sudah muak dengan tingkah sang adik.


" Yang dibilang oleh Reza memang ada benarnya juga." batin Jarot.


Ia pun akhirnya memutuskan untuk tidak mengejar Zia. Dan ia menunggu hingga sore hari tiba. Dan benar saja, Zia langsung kembali setelah waktu menunjukan sudah masuk sore hari.


Zia langsung menuju ke kamarnya, ia merasa kesal dengan sikap sang papi yang menurutnya sangat berbeda dari biasanya.


Zia langsung membersihkan dirinya, kemudian ia ingin pergi untuk menemui kakaknya. Saat dicari Reza di kamarnya, ia tidak menemukannya. Dan akhirnya ia pergi menuju kamar Rangga.


Dan benar saja Rangga dan Reza sedang berduaan di kamar Rangga, mereka berdua melakukan aktifitas seperti biasanya yaitu mabar game.


Zia langsung masuk saja, dan mencoba untuk berbicara dengan sang kakak. Namun, ia tidak dihiraukan oleh kedua kakaknya. Dan akhirnya ia pergi ke kamarnya.


Zia pun menangis sendirian, ia mulai merasa kalau keluarganya sudah tidak perduli dengannya. Kemudian sang papi datang, dan menemui Zia.


" Sayang." panggil sang papi.


Zia tidak menjawab, ia langsung membuang muka, karena ia sedang marah pada papinya.


" Sayangnya papi marah ya?" tanya tapi dan tidak di jawab lagi oleh Zia.


Pak Jarot merasa menyesal telah membiarkan putrinya. Namun, ia juga tidak tau harus melakukan cara apa. Agar sang putri dapat berupa, dia sudah terlalu bersikap kekanak-kanakan.


Ia pun berusaha untuk menasehati sang putri yang memang sudah bertingkat keterlaluan. Namun, ia juga bingung bagaimana cara untuk merubah putrinya.


Tingkah sang putri juga adalah dampak karena, sang ibu yang meninggal pada saat iya masih kecil. Dan itu juga yang membuat pak Jarot sangat lemah pada putri bungsunya itu. Sangat berbeda dengan kedua putranya yang merupakan anak dari istri pertamanya.


" Sayang, papi minta maaf. Tapi sebenarnya papi ingin kau berubah. Usia mu sudah dewasa dan kau harus merubah tingkah mu. Kau tidak kasihan dengan mami mu yang sudah pergi, melihat tingkah mu saat ini sayang." jelas pak Jarot untuk menasehati sang putri