Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 108



" Sungguh aku tidak menyangkanya, tapi kau memang teman yang paling terbaik. Kau begitu memperhatikan temanmu, aku yakin pasanganmu nantinya pasti akan bahagia." jelas Putra dan semuanya pun mengangguk.


" Yang dibilang ini anak satu bener juga, aku jadi penasaran orang seperti apa yang menjadi pendampingmu." ucap Natan yang ikut bicara.


" Kalau itu nanti aja ya dibahas, aku aja belum punya pasangan." ucap Arya dan mereka semua pun mengangguk.


" Kalau begitu Apa rencana kita?" tanya Putra yang sebenarnya sudah mau nebak kalau Arya sudah memiliki rencana.


" Yang pertama kita tidak boleh seperti mengenal Rasya, kita harus bersifat seperti dia adalah Rasya bukan Alana. Yang kedua kita harus memperhatikan gerak-geriknya, dan sepertinya ini sangat cocok untuk Naura dan juga Tania. Seperti yang diketahui, Rasya adalah siswa pindahan di kelas kalian. Dan dia juga cewek jadi akan lebih berkomunikasi dengan cewek juga." jelas Arya.


" Yang kau katakan emang sangat benar, walaupun rasanya aku kurang nyaman ya. Tapi mungkin inilah yang bisa kami bantu." ucapannya yang memang tidak nyaman dengan Rasya.


" Kenapa kau tidak nyaman dengan Rasya?" tanya Naura yang heran.


" Sebenarnya aku menebak kalau dia ada hubungannya dengan kerenggangan hubunganmu dan juga Arga, tapi ini hanya tebakanku saja." jelas Tania.


" Kau pacarnya Arga?" tanya Putra yang kaget.


" Ya begitulah, tapi saat ini kami sudah tidak memiliki hubungan lagi." jelas Naura.


" Kenapa kau bilang begitu?" tanya Putra yang memang tidak tahu menahu.


" Aku tidak bisa menjelaskan ya, karena tiba-tiba saja ia meminta putus dariku. Mungkin kau bisa bertanya langsung kepadanya, karena dia yang mengetahui semuanya." jelas Naura dan Putra pun hanya mengangguk saja.


" Ya sudah kamu tenang saja, aku yang akan meminta penjelasan kepadanya. Aneh sekali itu anak satu, masa cewek secantik kamu ditinggalin. Rasanya pengen aku tonjok aja itu." ucap Putra dan membuat Naura menjadi kaget.


" Eh jangan, kamu nggak tahu ya Arga itu siapa. Nanti kamu bisa di serbu sama seluruh siswa di sini, dan bisa-bisa kamu juga dikeluarkan dari sekolah." ucap Naura yang memang cemas.


" Aku tahu kok siapa dia, dan aku juga bisa dengan bebas menyakitinya. Bahkan aku juga tidak takut dengan ayahnya, ayahnya itu adalah orang yang baik sebenarnya. Tetapi wajahnya memang seperti itu, selalu saja membuat orang ketakutan." jelas Putra dan membuat mereka terkejut, namun tidak dengan Arya yang sudah mengetahui status Putra.


" Hahaha, kalian sangat lucu." ucap Arya dengan tertawa.


" Memang apa yang lucu?" tanya Tania yang sudah kasar.


" Wajah terkejut kalian, itu sangat lucu sekali." ucap Arya dengan tersenyum.


" Memangnya kau tidak terkejut?" tanya Tania.


" Tentu saja aku tidak terkejut, kan aku sudah bilang tadi di awal kalau aku sudah mengetahui status Putra. Dan mungkin jika aku menjelaskan statusnya, kalian juga akan terkejut." jelas Arya.


" Kalau begitu kasih tahu kami siapa sebenarnya Putra, atau jangan-jangan kau hanya pura-pura tahu." ucapannya yang menantang.


" Oke aku akan kasih tahu, tapi aku tidak akan memberitahu statusnya yang sebenarnya. Aku hanya akan memberitahu satu hal kepada kalian, dan buka telinga kalian lebar-lebar untuk mendengarnya. Sebenarnya Putra ini adalah sepupu dari Arga, jadi mau dia ngapa-ngapain Arga itu tidak masalah." jelas Arya dan membuat mereka semua terkejut.


" Benar yang dikatakan oleh Arya, kamu sepupunya kak Arga?" tanya Naura yang penasaran.


" Iya benar, aku adalah sepupunya Arga. Kau tenang saja ya, aku akan bertanya kepada Arga. Aku rasa dia adalah orang yang bodoh, karena dia melepas dirimu. Padahal kau sangat cantik, dan aku yakin banyak lelaki yang mencintaimu." jelas Putra dan membuat Natan tersentak.


" Natan, kau tidak apa-apa." ucap Naura dengan memberikan minuman kepada Natan.


" Aku nggak apa-apa kok." jawabnya.


" Kau kenapa Put?" tanya Arya yang melihat Putra sedang melamun.


" Aku nggak apa-apa." jawab Putra yang baru tersadar.


" Kau beneran?" tanya Arya yang merasa heran.


" Aku tidak apa-apa, jadi kapan kita akan memulai rencana kita." ucap Putra.


" Bagaimana kalau hari ini?" ucap Arya kepada semuanya.


" Aku tidak bisa hari ini, karena besok aku akan pergi ke Singapura." ucap Naura dan membuat semuanya kaget.


" Mau ngapain kau ke Singapura?" tanya Arya yang penasaran.


" Aku mau menghadiri acara pernikahan kakak ku." jawabnya dengan tersenyum.


" Loh, kakak mu nikah sampai ke Singapura. Siapa sih sebenarnya kakakmu ini?" tanya Putra.


" Kau penasaran, tapi maaf aku nggak bisa cerita. Tapi kalian tenang aja, aku akan bawak oleh-oleh untuk kalian." ucap Naura dan yang lainnya pun tersenyum kecuali dengan Putra.


" Sebenarnya kau ini siapa Naura?" batin Putra.


Tiba-tiba saja bel pun berbunyi, mereka pun segera masuk ke ruangan kelasnya masing-masing. Mereka semua pun melanjutkan pelajaran, kini Rasya yang di tengah pembelajaran. Tiba-tiba saja ia pingsan, dan membuat panik semuanya.


Bu Winda yang merupakan guru mata pelajaran matematika itu, menjadi sangat panik karena siswanya pingsan. Seisi kelas pun tiba-tiba saja menjadi ricuh, Bu Winda pun mencoba menenangkan para siswanya.


" Anak-anak kalian tenang dulu, Tania dan juga Naura tolong bawa Rasya ke ruang UKS." ucap Bu Winda kemudian keduanya pun langsung membawa Rasya.


Setibanya mereka di ruang UKS, dokter yang menjaga pun segera memeriksa keadaan Rasya. Dokter itu menemukan bekas luka di sekitar kepala Rasya, dan ia pun mencurigai kalau Rasya pernah menderita cedera otak.


" Apakah kalian sudah mengenal lama dengan Rasya?" tanya dokter itu.


" Memangnya apa yang terjadi dengannya?" tanya tanya yang penasaran.


" Jawab dulu pertanyaan saya yang pertama." ucap dokter tersebut.


" Kami hanya teman sekelasnya dong, kami juga mengenalnya baru beberapa hari yang lalu." jelas Naura.


Tiba-tiba saja bu Winda pun tiba, ia pun menanyakan keadaan Rasya kepada dokter yang terjaga.


" Bagaimana keadaannya dok?" tanya Bu Winda.


Dokter itu ingin menjawab pertanyaan bu Winda, tetapi matanya tiba-tiba saja melihat ke arah Naura dan juga Tania. Bu Winda yang menyadari tatapan dokter tersebut, ia pun segera meminta Naura dan juga Tania untuk keluar dari ruangan tersebut.


" Kalian berdua keluar dulu ya, Ibu ingin berbicara dengan dokter." ucap bu Winda kemudian mereka berdua pun segera keluar.


" Bagaimana keadaannya?" tanya Bu Winda kembali kepada dokter tersebut.