Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 136



" Mengapa mereka melihat ke arah kita terus?" tanyanya yang penasaran.


" Maaf ya, ini semua pasti karena aku." jawab Putra.


" Memangnya kau berbuat apa?" tanyanya yang penasaran.


Putra pun langsung mendekatkan mulutnya ke telinga Alana yang saat ini masih berstatus Rasya, kemudian ia pun membisikan sesuatu.


" Sebenarnya selama di sini, aku memakai sikap cuek. Itu semua ku lakukan agar nggak ada yang dekat dengan ku, jadi mereka pasti sangat kaget melihat kita dekat." jelasnya dengan berbisik.


" Apa." ucapnya yang kaget dengan berteriak.


Karena kekagetannya, keduanya pun jadi bertabrakan. Dan kini kepala mereka menjadi sakit.


" Adu…" ucap Putra dengan mengelus kepalanya.


" Maaf ya, aku nggak sengaja." ucapnya.


" Kebiasaanmu nggak pernah berubah." ucapnya dengan menggelengkan kepalanya.


" Kebiasaan ku, jadi aku orang yang teledor gitu? Tanyanya yang penasaran.


" Sebenarnya kau bukan hanya sekedar teledor, tetapi satu hal yang membuat kau selalu di sukai banyak orang…" ucapnya yang terhenti.


" Apa itu?" tanyanya dengan sangat tidak sabar.


" Masih perlu di tanya lagi, kau padahal sudah merasakannya." ucapnya dengan mengacak-acak rambut Rasya.


" Jangan di acak-acak dong, nanti rambutku jadi kusut." keluhnya.


" Hahaha, kau selalu saja sangat memperhatikan penampilan. Ini yang selalu aku suka, dan kelebihan mu itu kau sangat cerdas. Tapi sayang, hari ini kecerdasanmu dimanfaatkan oleh orang." ucapnya dengan ekspresi sedih.


" Sudahlah, sekarang jangan bicara itu. Aku masih ingin tau kisah kehidupanku, dan aku juga harus menghadapi Ayah Rasya." jelasnya.


" Ini hanya usul ku saja sih, bagaimana kalau kita jadian aja. Walaupun sebenarnya kita memang pacaran, tetapi Ayah Rasya kan tidak tau." jelas Putra.


" Ide bagus, aku akan bilang sama Ayah. Tapi kita harus susun rencana dulu, karena aku yakin kalau Ayah akan banyak bertanya samamu." jelasnya.


" Kau tenang saja, aku akan berusaha. Aku juga sangat ingin kau selalu ada di sampingku seperti dulu." ucapnya.


" Jujur saja aku juga tidak menyukai Arga, tetapi Ayah meminta ku untuk mendapatkan hati Arga. Karena kau adalah pacar asliku, maka tolong bantu aku untuk menenangkan hati Ayah Rasya." ucapnya yang takut kepada Beni.


" Kau tenang saja, aku akan membantumu. Tampaknya kau sangat takut sama dia ya beb?" tanya Putra yang penasaran.


" Ya aku memang sangat takut, karena dia bukan hanya seperti yang terlihat di luar." jelasnya.


" Kau tenang saja, aku akan membuat ia bungkam. Gimana kalau nanti siang aku antar pulang?" tanyanya.


" Boleh aja si, tapi apa kau sudah sanggup untuk bertemu dengan Ayah?" tanyanya.


" Sayangku Alana, apapun akan aku lewati. Dan aku juga akan di bantu oleh Arya, sahabatmu beb." jelas Putra.


" Arya, jangan bilang Arya yang tadi?" tanyanya untuk memastikan.


" Iya, dia memang Arya yang tadi." jawabnya.


" Tetapi tadi sikap dia…" ucapnya yang terhenti.


" Maksudnya gimana?" tanyanya yang penasaran.


" Kebetulan, ini semua memang rencana mereka. Mereka sudah mengetahui kalau kau mengikuti mereka, dan mereka memang sengaja agar kita bisa ngobrol. Dan mereka berharap kau bisa segera pulih, dan Alhamdulillah kau sudah bisa mengingatnya walaupun belum sepenuhnya." jelas Putra dengan menggenggam tangan Alana.


Dag


Dig


Dug


Jantung Alana berdebar dengan sangat kencang, dan kini ia pun tersipu malu. Namun, suasana itu menjadi berubah. Hal itu di sebabkan oleh bel yang sudah berbunyi, yang artinya sudah waktunya masuk kelas. Akhirnya mereka pun segera kembali ke ruangan kelasnya.


Mereka pun melaksanakan pembelajaran dengan baik, tapi tidak dengan Naura yang masih sibuk memikirkan perkataan Natan. Ia tidak menyangka kalau ternyata Natan menyukainya, dan ia tidak ingin salah lagi dalam mengambil keputusan. Sama seperti kisahnya dan Arga, yang bahkan masih membekas di hatinya.


Guru yang masuk di kelas sudah mengetahui kalau Naura sedang tidak fokus, tetapi ia tetap berusaha santai. Dan memberikan kode kepada Tania, karena ia ingin mengetahui apakah Tania sudah menyelesaikan perintah dari guru sebelum.


" Ada apa ya Bu?" tanya Naura yang kebetulan melihat guru itu memberi kode.


" Tidak ada, ayo kita lanjutkan pembelajaran." jawabnya.


" Apa yang terjadi?" tanya Naura dengan melihat ke arah Tania.


" Nggak ada apa-apa kok Ra." jawabnya.


" Kamu yakin nggak ada apa-apa, tetapi kenapa aku merasa seperti ini ada yang kau sembunyikan." ucap Naura yang merasa aneh.


" Nggak ada apa-apa kok, lebih baik sekarang kita lanjutkan pembelajaran." ucapnya dengan tersenyum.


" Ya udah deh kalau begitu." jawab Naura yang sebenarnya masih sangat penasaran.


Akhirnya mereka pun fokus pada pembelajaran, dan tanpa terasa kini bell pun sudah berbunyi. Semuanya pun pada berhambur meninggalkan kelas, kini mereka langsung terjun ke arah parkiran. Dan ternyata di sana Natan sudah menunggu Naura, Natan juga sudah sangat menanti jawaban dari Naura.


" Aku duluan ya, lebih baik kamu selesaikan dulu urusan dengan Natan." ucap Tania yang langsung meninggalkan Naura.


" Tunggu Tania." teriaknya tetapi Tania tidak menoleh ke belakang.


" Aku antar pulang yuk." ucapan yang langsung menghampiri Naura dengan helm di tangannya.


Naura masih dia membisu, iya tidak mengetahui apa yang harus ia jawab. Natan yang melihat Naura seperti sedang bingung, akhirnya ia pun langsung memakaikan helm di kepala Naura. Kemudian menariknya ke arah motor, ia pun segera mengengkol motornya. Natan yang merasa kalau Naura tidak kunjung naik ke motornya, akhirnya ia pun menepuk pundaknya.


" Naura, ayo naik." ucap Natan.


" Eh iya." jawabnya kemudian langsung naik ke atas motor Natan.


" Tidak usah dipikirkan apa yang aku katakan tadi, sekarang lebih baik kamu pikirkan tentang Kak Rangga dan juga Kak Tirta. Aku tidak buru-buru kok, apapun jawabanmu nantinya insya Allah akan menerimanya dengan ikhlas." ucap Natan.


" Aku jadi tidak tega, tetapi aku masih belum mau membuka hati." batinnya dengan menatap ke arah Natan.


" Udah siap Ra?" tanyanya terapi tidak mendapatkan jawaban.


Natan pun merasa heran, karena Naura tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Ia pun menoleh ke belakang, dan sesuai dengan tebakannya. Ternyata Naura sedang melamun, Natan pun hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Naura.


Natan langsung melingkarkan tangan Naura di pinggangnya, dengan maksud menyuruhnya untuk berpegangan. Dan akhirnya Naura pun tersadar, tetapi ia tetap membiarkan saja apa yang dilakukan oleh Natan. Karena ia tau kalau Natan berniat baik, itu semua dilakukan agar ia tidak terjatuh.


Tanpa keduanya sadari, ternyata Arga memperhatikan keduanya dari kejauhan. Hati Arga terasa sakit, ia tidak menyangka harus mengalami hal seperti ini. Ia harus menyaksikan, orang yang ia cintai pergi bersama dengan orang lain.