
Ilal melaksanakan perintah dari Rangga, ia pun segera menjadi pengawal pribadi untuk Naura. Tetapi sesuai kesepakatan, Ilal tidak boleh terlihat oleh Naura. Atau nantinya ia akan mendapatkan hukuman, dan itu bukan hanya sebuah gertakan saja.
" Nona muda ada di sana, aku harus terus mengawasinya. Kalau tidak, tuan Rangga akan marah bila terjadi sesuatu pada nona muda, tuan Rangga sangat menyayangi nona Naura ketimbang nona Zia. Tapi itu juga karena ulah nona Zia sendiri, dan akhirnya tuan Rangga tidak menyukainya." batin Ilal.
" Ta, kenapa aku seperti di ikuti ya?" ucap Naura.
" Wadu, ternyata insting nona muda hebat juga." ucap Ilal, yang sangat kaget dengan kehebatan nona mudanya itu.
" Mungkin hanya perasaanmu saja." ucap Tania.
" Ya yang kau katakan benar, bisa saja ini hanya perasaan ku. Apalagi belakang ini sedang ada banyak masalah." ucap Naura.
" Sudahlah jangan di pikirkan, nanti kau bisa sakit karena memikirkan hal itu. Dan hal sangat merugikan mu, dan aku juga menjadi sedih karena nggak bisa main bareng lagi." ucap Tania kemudian memeluk Naura.
" Kalian sedang ngomongin apa?" tanya Natan yang baru saja tiba.
" Nggak kok Tan, urusan nggak penting." jawab Naura, kemudian langsung pergi meninggalkan Natan.
" Kau kenapa nggak mau cerita?" tanya Tania yang kini sudah berada di ruang kelas.
" Aku nggak nyaman cerita sama Natan, ya walaupun Natan itu teman aku di bandung." ucap Naura.
" Loh bukannya kau sangat dekat yang dengan Natan?" tanya Tania yang penasaran.
" Panjang ceritanya, tapi aku merasa tidak nyaman bercerita pada Natan." ucapnya.
" Oh, tentang orang itu namanya Natan. Sepertinya aku harus segera lapor ke bos tentang siapa itu Natan." ucapnya kemudian langsung mengambil teleponnya.
" Halo tuan, ternyata selain dekat dengan tuan Arga. Nona juga dekat dengan seorang muda." ucapnya dari sebrang telepon.
" Natan ya, namanya tidak asing. Bisa kau foto kan wajahnya!" perintah Rangga, dan kini Ilal pun segera mencari keberadaan Natan dan langsung memfoto Natan kemudian ia kirim ke Rangga.
" Tuan, saya sudah mengirim foto pemuda itu." ucap Ilal, dan Rangga pun segera melihat foto itu.
" Sudah ku duga, ternyata itu adalah dirimu Natan." ucap Rangga dengan tersenyum.
" Kau terus pantau saja Naura, bila terjadi sesuatu cepat kabarin." Perintah Rangga, dan sambungan telepon pun mati.
...----------------...
Tak terasa kini sudah waktunya pulang dan benar saja itu adalah Oka, supir yang tadi pagi menjemput mereka. Naura tampak kesal dengan nya, tetapi ia hanya menjalankan tugasnya.
" Siang nona." ucap Oka.
" Siang juga, Tata aku pergi dulu." ucap Naura.
" Iya, hati-hati ya. Lagian kau mau ke tempat kak Rangga, jadi aman aja." ucapnya, dengan melihat Naura dan juga sopir itu.
Naura dan sopir itu pun segelap pergi, kini Tania masih menunggu kehadiran sang kakak. Karena tadi malam sang ayah sudah berpesan padanya, untuk sementara waktu ia akan dijemput oleh kakaknya. Dan benar saja, kakaknya pun langsung datang. Ia pun segera memasuki mobil kakaknya, dan mereka pun langsung menuju ke rumahnya.
" Adik kesayangan kakak kangen ya sama kakak?" tanya Rangga dengan tersenyum.
" Tentu dong kak, Ara sangat kangen sama kakak. Tapin Ara masih bingung deh Kak, kenapa Kakak meminta Ara untuk tinggal di sini?" tanyanya yang memang kebingungan.
" Ya untuk nemani kakak lah." ucap seorang gadis yang baru saja muncul dengan membawa teh.
" Kak Karin, kakak di sini." ucap Ara yang langsung memeluk Karin.
" Iya sayang, kebetulan kakak kan udah nggak ada keluarga di sini. Jadi untuk beberapa waktu kakak akan menginap di sini, karena kakak akan kesepian, jadinya kamu diminta ke sini." ucap Karin dengan mengelus kepala Naura.
" Kakak kenapa nggak bilang dari tadi Kalau ada kakak Karin? Kalau Ara tahu dari awal, Ara mau dia datang dari pagi dan nggak perlu sekolah." ucap Ara dan Karin pun mengetuk kepalanya.
Takh
" Sakit kak." ucap Ara dengan memajukan bibirnya.
" Sakit kan, jadi jangan berani-berani berpikir untuk tidak sekolah." ucap Karin yang sudah terlanjur emosi.
" Maaf kak, Ara kan hanya bercanda saja. Hiks,hiks…" ucapnya dengan menangis.
" Uda jangan nangis, nanti cantiknya bisa hilang." ucap Karin dengan menghapus air matanya Naura.
" Iya Ara, yang dibilang sama pacar Kakak itu benar. Jadi kamu mau menemani Karin kan?" tanya Rangga untuk memastikan.
" Tentu dong kak, Ara akan selalu menemani Kak Karin. Karena Ara sudah sayang sama kak Karin, dan bahkan kalau bisa Ara mau kak Karin secepatnya jadi kakak Ara." jelas Naura dan membuat keduanya tersipu malu.
" Kalau untuk soal itu, secepatnya akan kami bahas." ucap Rangga kemudian pergi meninggalkan Karin dan juga Naura karena malu.
" Cie dua-duanya malu." ucap Naura.
" Apaan sih Ara, hubungan kami itu baru sebentar. Dan untuk ke jenjang itu, mungkin masih agak sulit. Jujur saja sampai sekarang Rangga masih belum bertemu dengan ayahku, ia hanya baru bertemu dengan ibu dan juga kakakku." jelas Karin.
" Ya kalau begitu, secepatnya dipertemukan kak. Jadi Ara bisa sering main ke sini, nggak enak tahu di rumah Kak Rangga sendirian." ucap Naura dengan memajukan bibirnya.
" Segitu tidak sabarnya dirimu, memangnya kau sekarang tinggal di mana?" tanya Karin untuk memastikan.
" Aku tinggal di rumah kak Desi, kakak sepupu yang cantik." ucap Naura.
" Aku jadi sangat penasaran dengan kakak sepupumu itu, bisakah kita bertemu dengannya?" tanya Karin yang memang penasaran.
" Ya udah kalau gitu kita ketemu aja, kayaknya jam segini kak Desi di rumah deh. Gimana kalau kita ke rumah, tapi sebelum itu kita izin dulu sama kak Rangga. Soalnya nanti kalau nggak izin kak Rangga bisa marah, dan kalau kak Rangga sudah marah itu sangat menyeramkan." ucap Naura dengan membayangkan wajah Rangga yang sedang marah.
" Apa semenyeramkan itu ya?" tanya Karin yang penasaran.
" Ya begitulah, karena kak Rangga orangnya gampang cemas. Jadi kalau kita nggak ada, pastinya ia akan khawatir. Ya dia akan marah besar, tapi setelah itu, ia akan kembali baik lagi. Jujur ya kak, sebenarnya aku sering ngerjain kak Rangga. Dan itu sangat menyenangkan, walaupun akhirnya aku harus dimarahi sama kak Rangga." jelas Naura dan Karin hanya menggelengkan kepalanya saja.
" Kau ini ya, uda tau kakak mu itu tipe yang begitu. Masih ada kerjaannya buat marah, kalau sampai kamu kenapa-kenapa gimana?" ucap Karin yang khawatir.