
Kini mereka sudah sampai di restoran, dan kini Dimas pun menanyakan alasan dari kebohongan Naura.
" Ara, kenapa kau bohong?" tanya Dimas.
" Sebenarnya aku kesana mau nemani sahabat ku, eh tapi tadi aku melihat seorang wanita bernama Yuna berusaha mendekati kakak ku. Jadi karena aku kesal, aku sengaja berlari dan menabraknya." jelasnya.
" Ya ampun jadi itu alasannya." ucap Dimas.
" iya, hehehe." Jawabnya dengan tertawa.
" Terus, kenapa aku dibawa-bawa?" tanya Dimas.
" Sebenarnya aku bingung harus jawab apa, eh kebetulan kak Dimas lewat. Jadi aku bilang aja, kalau aku janjian sama kakak. Maaf ya kak, aku nggak bermaksud membawa kakak ke kebahonganku." ucapnya dengan ekspresi sendu.
" Yauda la gpp, yang penting kita bisa kumpul lagi." ucapnya.
" Iya, ini momen langka. Dan pantas untuk diabadikan." ucap Kinan, dan ia pun mengambil kamera yang ada di dalam tasnya.
" Wah sampai bawa kamera segala." ucap Naura.
" Aku kan memang suka fotografi, hehehe." ucap Kinan.
" Ya begitulah si Kiki, tapi untungnya dia bisa membagi waktu untuk belajar dan juga hobby." ucap Dimas.
" Syukurlah kalau begitu, aku tapi tambah penasaran dengan hasil foto mu." ucap Naura.
" Yauda nanti aku tunjukkan, sekarang kita foto dulu." ucapnya dengan memposisikan kamera.
Mereka pun mengambil beberapa gambar, hingga tidak terasa tiba-tiba makanan pun datang.
" Permisi mas, mbak. Ini makanannya." ucap pelayan itu.
" Loh, tapi kami belum ada pesan." ucap Naura yang heran.
" Aku tadi sudah pesan, kau memang nggak tau. Tapi ini restoran milik teman ku, jadi tinggal telepon aja." ucap Dimas.
" Ye pantas lah kalau begitu." ucap Naura dengan mengelengkan kepalanya.
" Sudahlah, sekarang kita makan yuk. Kebetulan aku juga sudah lapar." ucap Kinan yang langsung menyambar makanan yang ada di atas meja.
" Ye dasar kau ini, dari dulu nggak pernah berubah. Kerjaan makan mulu, untungnya kau pintar. Jadi nggak ada yang mengeluhkan tingkah mu." ucap Naura.
" Ya untungnya begitu, hehehe." jawabnya dengan tertawa.
Mereka pun segera memakan semua makanan yang ada di meja, tidak lama setelah itu. Disela momen kebersamaan mereka, ada seorang pemuda yang mendatangi mereka.
" Ara." panggilnya dengan meneteskan air mata.
" Natan, apa kabar?" tanya dengan tersenyum ketika melihat Natan.
" Aku baik-baik saja, bagaimana dengan mu?" tanyanya.
" Seperti yang kau lihat, aku juga baik." jawabnya dengan tersenyum.
" Ara, dia siapa?" tanya Kinan yang terpanah ketika melihat Natan.
" Oh ini namanya Natan, dia teman ku di bandung." jawab Naura.
" Hai semuanya, perkenalkan aku Natan." ucapnya dengan melambaikan tangan.
" Hai Natan." ucap Kinan.
" Oh iya Tan, kenalin ini Kinan teman ku. Dan ini kak Dimas." jelas Naura dengan tersenyum.
" Oh iya Ra, tadi kau bilang dia teman mu di bandung. Bunda kenal nggak sama dia?" tanya Dimas dan membuat Natan kaget.
" Sepertinya Ara sangat dekat dengan kakak ini, bahkan kakak ini juga mengenal bunda Ara." batin Natan.
" Natan, silakan duduk. Natan, Natan." panggil Naura yang tidak me dapatkan respon, dan kemudian Naura pun menepuk pundak Natan.
" Eh iya, ada apa Ra?" tanya Natan yang baru saja tersadar.
" Kau ini ya, mikirin apa si? Uda sini duduk!" ucap Naura dengan menunjuk kursi disebelahnya.
" Nggak ada kok." jawabnya.
" Sepertinya Ara sangat dekat dengan Natan ya?" tanya Dimas.
" Nggak juga kak, kebetulan Natan ini teman sekolah Ara." jawab Naura.
" Oh begitu, tapi sepertinya dia juga mengikuti mu sampai kesini." ucap Dimas dengan menatap Natan.
" Ya nggak mungkin la, mungkin Natan punya sebab lain. Ya kan Natan." ucap Naura.
" Sebenarnya yang dikatakan kak Dimas ini benar Ara, tapi aku nggak mungkin jawab itu." Batinnya dengan menatap Naura.
" Eh iya maaf." jawabnya.
Tiba-tiba saja handphone Natan berdering, ia pun segera mengangkatnya.
" Aku angkat telepon dulu ya." ucapnya dengan menunjukkan handphonenya, dan semuanya pun mengangguk.
" Halo." ucapnya untuk mengawali pembicaraan.
" Den, aden ada dimana?" tanya seseorang dari sebrang telepon.
" Saya sedang diluar, ada apa ya mang?" tanya Natan.
" Tuan besar sakitnya kambuh." ucapnya.
" Apa, kalau begitu kalian dimana?" tanya Natan yang panik.
" Kami ada di rumah sakit B den." ucapnya.
" Ok saya segera kesana, tolong jaga Eyang dulu." ucapnya, kemudian sambungan telepon pun mati.
" We, aku harus pergi. Maaf ya." ucapnya.
" Yauda, tapi kenapa kau seperti sedang buru-buru?" tanya Kinan.
" Eyang ku masuk rumah sakit." jawabnya.
" Apa eyang Lukman masuk rumah sakit." ucap Naura yang kaget.
" Iya, kalau gitu aku duluan ya." ucapnya.
" Tunggu, eyang kamu sakit apa?" tanya Dimas.
" Sakit jantungnya kambuh." jawabnya.
" Lalu sekarang di rumah sakit apa?" tanya Dimas.
" Kak Dimas, Natan uda buru-buru." ucap Naura yang kesal.
" Ara kau lupa ya, ayah ku itu seorang dokter terkenal." ucap Dimas.
" Oh iya lupa kak." ucapnya.
" Apa, ayah kakak seorang dokter terkenal. Apa kakak bisa bantu?" tanya Natan.
" Aku akan segera hubungi ayah ku, tapi eyangmu dirawat dirumah sakit apa?" ucap Dimas.
" Dirumah sakit B kak." jawabnya.
" Ok, aku akan segera menghubungi ayahku." ucapnya kemudian langsung menelpon sang ayah.
" Halo ayah." ucapnya.
" Iya Dimas, ada apa ya?" tanya sang ayah.
" Ayah, eyang teman Dimas sakit jantungnya kambuh. Apakah ayah bisa bantu?" tanya Dimas.
" Ok, sekarang posisinya dimana?" tanya ayah.
" Tadi katanya di rumah sakit B." ucap Dimas.
" Ok, kebetulan ayah juga lagi ada disini. Siapa nama pasiennya?" tanya ayah.
" Namanya Lukman Handoko." jawabnya.
" Ok, kebetulan pak Lukman baru sampai. Ayah akan menanganinya terlebih dahulu." ucap ayah, kemudian sambungan telepon pun terhenti.
" Bagikan kak, apakah ayah bisa?" tanya Kinan.
" Kau tenang saja, eyangmu sudah ditangani sama ayah kami." ucapnya, dan Natan pun menghela nafas.
" Terimakasih ya kak." ucapnya.
" Kau nggak usa berterima kasih, sebagai sesama kita harus saling membantu." jawabnya.
" Kakak memang baik." ucapnya dengan tersenyum.
" Semua manusia memang baik pada dasarnya, nggak usa sungkan ya. Oh iya, sekarang kita harus segera kerumah sakit." ucap Dimas, dan mereka pun segera pergi ke rumah sakit.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit. Natan pun langsung menemui orang yang menelponnya tadi.
" Mang, bagaimana eyang?" tanyanya.
" Tuan besar sedang di dalam, dan untungnya tadi dokter terbaik dirumah sakit ini langsung menolong. Saya tidak tau kalau dokter itu tidak menolong, tapi saya bingung karena dokter ini tidak seperti biasanya. Karena dia ada dokter terkenal, dan biasanya harus buat janji dulu baru bisa." jelang mamang itu yang kebingungan, tapi tidak dengan Natan. Karena ia sudah menebak, dokter itu adalah ayah dari Dimas dan juga Kinan.