Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 118



" Maaf saya tidak bermaksud, saya tidak tahu kalau bundanya Naura sudah tidak ada." ucap Iksan yang merasa bersalah.


" Sudahlah ayah, yang sudah terjadi tidak perlu disesali." ucap Naura dengan tersenyum.


" Ara, paman matikan dulu ya. Kakakmu yang cantik memanggil paman, biasalah lagi bumil jadi lagi manja-manja sama paman." jelas Sandy dan Naura pun mengganggu.


" Ya sudah paman, lagian manja sama ayah sendiri yang gak masalah dong. Ya masalah itu manja sama suami orang, hahahaha." pajak Naura dengan tertawa terbahak untuk melupakan kesedihannya.


" Kau ini ya, selalu saja mencari kesempatan untuk tertawa. Ya sudah deh, paman matikan dulu ya, bye." ucapnya kemudian sambungan telepon terputus.


Setelah sambungan telepon terputus, Naura pun segera pergi ke kamarnya. Zia sangat merasa heran dengan tingkat Naura, ia pun akhirnya pergi mengikuti Naura. Alangkah kagetnya ia, ketika ia mengetahui kalau Naura sedang menangis.


" Kamu kenapa? tanyanya yang mengagetkan Naura.


" Aku nggak apa-apa kok." ucapnya dengan menghapus air matanya.


" Kamu nggak usah bohong Naura, jelas-jelas tadi kamu menangis loh. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, tenang saja di sini tidak ada siapa-siapa. Kau bisa menangis sepuasnya, tetapi tolong ceritakan apa yang terjadi denganmu!" ucap Zia.


" Aku tidak apa-apa, hanya saja aku tiba-tiba merindukan bundaku." ucapnya dan Zia pun langsung memeluknya.


" Sudahlah, kau jangan menangis lagi. Aku yakin bundamu pasti akan ikut menangis, jika ia mengetahui kalau putrinya menangis." ucapnya.


" Terima kasih ya." ucapnya dengan tersenyum.


" Untuk apa kau mengatakan terima kasih?" tanyanya yang heran.


" Ya karena kau mau menghampiriku ke sini, bahkan kau juga sempat-sempatnya menghibur aku." jelasnya dan ia pun hanya mengangguk saja.


" Kita ini kan saudara, walaupun kita bukan kakak beradik kandung. Tetapi kak Rangga dan juga ayah sudah mengangkatmu, jadi walau bagaimanapun kita sudah menjadi saudara. Ya jujur saja walaupun awalnya aku kesal, tetapi kini aku bahagia melihatmu. Aku kira kau awalnya adalah anak yang hanya ingin harta ayahku saja, ternyata kau tidak menginginkan harta." ucapnya.


" Bagaimana kalau tahu aku tidak menginginkan harta?" tanyanya yang penasaran.


" Sebelumnya aku minta maaf dulu padamu ya, sebenarnya aku sudah meminta orang untuk menyelidiki dirimu." ucapnya yang sebenarnya takut.


" Oh jadi begitu." jawabnya dengan santai.


" Kau tidak marah padaku?" tanya Zia yang merasa heran dengan tingkah Naura.


" Untuk apa aku marah, marah hanya akan menguras energiku saja. Dan lagian apa kabar aku bisa mengembalikan semuanya. Semua yang sudah terjadi tidak mungkin bisa kembali seperti semula. Jadi apa gunanya aku marah-marah, itu hanya akan membuatku capek saja." jelasnya dan Zia pun langsung memeluk Naura.


" Makasih ya Naura, kau memang sangat berbeda dengan yang lainnya. Pantas saja anak-anak sangat suka dengan dirimu, ternyata kau memiliki kepribadian yang sangat istimewa." ucapnya dengan masih memeluk Naura.


" Kau terlalu memujiku, aku tidak sebaik yang kau kira. Semua manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, dan karena itu jangan pernah menganggap semua manusia itu baik 100%." jelasnya dan dia pun mengangguk.


" Tapi menurutku, kau jauh lebih tinggi dari kata baik. Kau adalah malaikat tak bersayap." ucapnya dengan tersenyum.


" Aku tidak peduli dengan omonganmu, aku hanya percaya dengan apa yang aku yakini. Dan aku yakin kau adalah orang baik, jadi aku tidak akan pernah memperdulikan omongan orang." ucapnya dengan tersenyum.


" Tampaknya ada yang mulai akur nih." ucap Rangga yang tiba-tiba saja datang.


" Kak Rangga, kakak ngapain di sini?" tanya Naura yang heran.


" Awalnya sih kakak cuma mau bilang padamu Ara, kalau mungkin kau akan pulang sendiri. Karena ternyata masih banyak acara yang belum diselesaikan, dan tidak mungkin acara dibiarkan menggantung." ucap Rangga.


" Oh ternyata begitu, nggak apa-apa kok kak aku pulang sendiri. Kakak selesaikan acara-acara yang harus diselesaikan." ucapnya dengan tersenyum.


" Tapi kakak khawatir, masa kamu mau pulang sendiri. Kakak takut melepaskanmu, ya walaupun sebenarnya aman-aman saja." ucap Rangga yang memang khawatir.


" Karena tenang saja, aku akan ikut pulang ke Indonesia. Lagian aku nggak enak juga kalau lama-lama libur, nanti bisa-bisa aku dikeluarkan dari sekolah." ucap Zia yang membuat Rangga tersentak.


" Kakak nggak salah dengarkan, sejak kapan tuan putri Zia mementingkan sekolah." ucapnya dan membuat Zia kesal.


" Aku itu udah kelas XI kakak, sebentar lagi aku sudah mau naik kelas XII. Aku juga harus mementingkan tentang sekolah dong, kalau aku tidak mementingkannya bisa-bisa aku tidak lulus." ucapnya yang kesal.


" Akhirnya pikiranmu kebuka, kamu habis makan apa dek?" tanya Rangga dan membuat Zia tambah emosi.


" Kak Rangga nyebelin banget sih." ucapnya dengan melempar bantal ke arah Rangga.


" Maafin kakak, habis kakak nggak nyangka aja kamu bisa berubah. Kamu kan biasanya paling seneng kalau pergi-pergi begini, karena kamu akan bolos sekolah sampai berhari-hari. Siapa yang membuat otakmu terbuka?" tanya Rangga yang penasaran.


" Kenapa sih aku harus punya kakak yang nyebelin." ucapnya yang kesal.


" Nyebelin gini, tapi kamu selalu cariin kan." ucapnya dengan tersenyum untuk menggoda Zia.


" Terserah deh." ucapnya yang gini emosinya sudah naik semakin tinggi.


" Hahaha, adik kakak ini sangat menggemaskan. Kakak minta maaf deh, jangan ngambek dong. Kakak sudah tahu, kau berubah gara-gara Naura kan." ucap Rangga yang kini mencubit pipi Zia.


" Kalau iya kenapa, kalau nggak juga kenapa?" jawabnya yang justru memberi pertanyaan.


" Kakak nggak terlalu penting sih dengan hal itu, yang terpenting kau bisa berubah. Kakak ingin kau menggandrungi pendidikan lagi, agar kau bisa lanjut ke tahap berikutnya. Kakak ingin kau memiliki motivasi hidup, untuk menjadi gadis yang berkarir. Dan bukan berharap kalau kau menjadi ibu rumah tangga, karena kau sangat mencintai pacarmu." ucapkan dan membuat Zia tersentak.


" Kakak mengetahui niatku selama ini?" tanyanya yang kaget.


" Tentu saja kakak mengetahuinya, walaupun kakak tampak tidak peduli denganmu. Tetapi sebenarnya kakak selalu meminta orang untuk menjagamu, bahkan kakak juga tahu siapa nama pacarmu dan juga keluarganya." ucap Rangga dan Zia semakin kaget.


" Kakak mengetahui itu semua, bagaimana bisa?" ucapnya yang tidak percaya.


" Tentu saja bisa dong, bahkan kakak juga sudah pernah bertemu dengan pacarmu." ucapnya kembali dan membuat Zia tambah kepalang bingung.