Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 53



Sepulang dari kampus, Leo, Irfan, dan juga Farel. Mereka langsung menuju ke arah kantor Pak Bagas, yang merupakan ayah dari Naura. Mereka sangat penasaran, apa penyebab pak Bagas berubah dari yang dulunya peduli kita menjadi acuh.


Mereka pun mengikuti pak Bagas, dan alangkah kagetnya mereka ketika melihat pak Bagas bertemu dengan seorang pria yang tidak mereka kenal. Tetapi perawakan wajah pria itu sangat mirip dengan Naura, mereka menjadi penasaran siapakah sebenarnya pria itu. Rasa penasaran yang kuat membuat mereka terus berada di sana, untuk mendengarkan informasi dari percakapan keduanya.


'' Hai Bagas, apa kabar?'' tanya pria itu.


'' Hai juga San, aku baik.'' jawab pak Bagas.


Mereka yang mendengar percakapan keduanya, kini mulai menebak-nebak siapa nama pria yang di sapa ''San'' tersebut. Mereka sangat penasaran, dan tidak sabar untuk mengetahuinya.


'' Alhamdulillah kalau baik, sudah lama ya kita nggak ketemu?'' tanya pria itu dengan senyuman.


'' Iya benar, kamu si ngelanjutkan kuliah di luar negeri. Kan kita jadi berpisah.'' ucap pak Bagas.


'' Ya mau gimana lagi, oh iya kabar si cantik gimana?'' tanya pria itu.


'' Ara baik-baik saja, Lo nggak mau ketemu dia?'' tanya pak Bagas.


'' Ingin si, dan sebenarnya aku mau bawah dia tinggal sama aku. Kamu kasih izin nggak?'' ucap pria itu mengutarakan niatnya.


'' Kalau itu si terserah sama Ara, aku nggak mau ngelarang dia. Jadi biar dia aja yang memilih.'' ucapnya pasrah.


'' Benar juga, lagian dia sekarang sudah dewasa. Keputusan tentang hidupnya biar dia yang atur sendiri.'' ucapnya sambil berpikir.


'' Yauda kalau gitu sekarang kamu ikut aku pulang ke rumah yuk, Ara pasti senang melihat mu.'' aja pak Bagas.


'' Iya ayuk, aku juga uda kangen sama dia.'' ucapnya dengan meneteskan air mata.


Mereka tambah heran melihat pria itu meneteskan air mata ketika membahas tentang Naura, rasa penasaran mereka bertambah kuat. Dan mereka ingin secepatnya mengetahui identitas pria itu, dan ingin menghubungkan dengan tingkah aneh sang ayah kepada Naura. Jujur mereka penasaran, dan ingin memastikan apakah semua itu berkaitan.


Pak Bagas dan pria itu langsung menuju ke mobil, mobil itu melaju dengan sangat cepat. Dan mereka bertiga tidak sanggup untuk mengejar mobil itu, untungnya mereka sudah tau akan pergi kemana pak Bagas dan pria itu.


Pak Bagas pun tiba di rumah, ia langsung membawa masuk pria itu. Ia pun memperkenalkan pria itu dengan sang istri.


'' Mami, kenalin ini teman ayah. Namanya Sandy.'' ucap sang ayah.


'' Sandy Bu.'' ucap pria itu memperkenalkan diri, kemudian ibu Febri menjabat tangannya.


'' Saya Febri.'' ucapnya dengan tersenyum.


'' Orang ini ganteng banget.'' ucapnya dalam hati.


'' Oh iya aku juga mau kenalin kamu sama anak aku.'' ucapan Bagas dan mendapat anggukan dari Pak Sandy.


'' Sandra, Vino kemari.'' panggil Pak Bagas dan kedua anak pun langsung turun.


'' Ya iyalah mirip Namanya juga anak aku, kalau mirip tetangga, anak tetangga dong. hehehe.'' ucapnya dengan tertawa.


Pak Sandy yang mendengar candaan Pak Bagas Ia pun tertawa dengan sangat lebar, Jujur saja ia sudah lama tidak tertawa bersama dengan Pak Bagas. Bukan karena ia kuliah di luar negeri tapi karena perpisahan antara Pak Bagas dan juga adik kembarnya.


Karena itu kini ia berniat untuk membawa keponakannya, sesuatu yang berharga yang dimiliki oleh kembarannya. Tetapi ia tidak ingin memaksa keponakannya itu untuk ikut tinggal bersamanya, karena baginya keponakannya sudah bisa menentukan pilihan yang terbaik bagi hidupnya.


Bahkan jika keponakannya menolak, dan itu semua disebabkan atas dasar seorang pria. Sandy pun bersedia menerima itu, karena bagi Sandy yang terutama adalah kebahagiaan keponakan semata wayangnya itu. Bagi dirinya tidak ada yang lebih berharga selain Naura, bahkan walaupun Naura di sini, ia masih tetap bisa mengawasi Naura. karena Putri sulungnya juga telah menikah dan tinggal di Jakarta, dan selama ini dia juga selalu mendapat informasi dari putrinya itu.


Tidak lama terdengar suara pintu, semuanya pun melihat ke arah pintu. Dan ternyata yang di pintu adalah Naura, Naura yang baru saja pulang dari Bogor bersama dengan Arga. ketikan ia melihat sosok yang begitu ia rindukan, ia langsung berlari dan meninggalkan Arga.


Naura langsung memeluk pria itu, Arga yang melihat interaksi Naura ia merasa kaget. Iya juga sangat penasaran, siapa pria yang ada di hadapannya dan kini tengah memeluk Naura. Arga yang merasa kesal menarik dengan Naura, ia tidak terima kalau Naura berpelukan dengan pria itu.


Naura pun menjadi kesal dengan Arga, karena Arga melepas pelukannya dengan sang paman. Naura langsung menatap kearah mata Arga, harga yang melihat sorot mata Naura menjadi ketakutan. Arga pun merasa heran siapa sebenarnya pria itu, dan mengapa Naura begitu marah ketika ia melepas pelukan mereka.


'' Cie Ara, ayang ya?'' ucap Sandy dengan menggoda Naura.


'' Teman Ara paman, paman ini sikit-sikit ayang. Nanti Ara beneran punya ayang paman kaget.'' ucap Naura dan Arga yang memperhatikan merasa tambah penasaran tentang status pria yang ada di hadapannya.


'' Nggak sayang, paman malah senang kalau kamu uda punya ayang. Alhamdulillah ada yang bantu jagain beban. hehehe.'' ucap sang Paman dengan tertawa.


'' Ih Paman nyebelin banget deh.'' ucapnya dengan memanyunkan bibir.


Arga yang melihat tingkah Naura, ia merasa kalau Naura sangat imut. Dan rasanya ia ingin mencubit pipi Naura, tetapi dia masih merasa canggung. Karena saat ini dia sedang berada di hadapan keluarga Naura, dan jika ia salah bertindak. Maka semuanya akan bahaya.


'' Ini tu namanya kak Arga, dia senior Ara di sekolah. Dan dia itu anaknya tante Lani.'' jelas Naura kepada pamannya itu.


'' Oh jadi kamu anaknya Lani, gimana kabar mama mu?'' tanya Sandy.


'' Eh, om ini kenal dengan mama, siapa dia sebenarnya?'' batin Arga.


'' Kak Arga, di tanya sama paman aku tu. Kok nggak jawab si, lagi mikirin apa coba?'' ucap Naura yang sedang kesal.


'' Eh maaf, gue. Eh maksudnya aku, aku cuma bingung aja.'' ucapnya dengan terbata.


'' Bingung kenapa?'' tanya Sandy.


'' Om kenapa bisa kenal sama mama aku.'' ucapnya dengan ragu.


'' Ya kenal la, mama kamu itu sahabatnya Tiara. Dan aku itu saudara kembar Tiara, intinya aku itu pamannya Naura.'' jelas paman, dan mendapatkan anggukan dari Arga.


'' Oh jadi gitu, maaf ya paman. Tadi aku nggak sopan.'' ucapnya dengan menundukkan wajah.


'' Gak apa, namanya juga anak muda. Pasti lagi cemburu kan. hehehe.'' goda Sandy sambil tertawa.