
Arga pun tidak menjawab perkataan dari Naura, Iya hanya mengangguk dan mengikuti Naura keluar dari rumah. Setelah sampai di depan rumah, Arga pun segera menghidupkan mesin motornya. Dan mereka pun segera pergi menuju sekolah, karena mereka takut untuk terlambat, mereka pun mengendarai motor dengan kecepatan tinggi.
Tidak butuh waktu lama mereka pun tiba di sekolah, dan benar saja setelah mereka memasuki gerbang sekolah. Gerbang itu pun langsung ditutup, dan mereka sangat bersyukur karena sudah berhasil masuk.
" Syukurlah kita masih bisa masuk." ucap Naura dan Arga hanya mengganggu.
" Ya udah ayo masuk." ucapnya dengan merangkul Naura.
" Eh tunggu, kak Arga mau ke mana?" tanya Naura.
" Ya mau antar Lo lah, memang mau ke mana lagi." ucapnya dengan tersenyum.
" eit nggak usah, mending Kak Arga masuk kelas aja. Nanti Kak Arga dihukum loh karena terlambat." ucap Naura dengan mencoba melepaskan rangkulan Arga.
" Terlambat apanya, lagian cuma sebentar." ucapnya masih dengan merangkul.
" Sebentar gimana, kelas kita beda arah loh. Kalau Kakak sampai terlambat dan dihukum gimana, kakak baru sehat loh." ucapnya dengan nada cemas.
" Ya udah kalau itu kemauan Lo, gue akan masuk ke kelas." ucapnya dengan mengelus-ngelus kepala Naura kemudian pergi menuju kelasnya.
" Kak Arga ini kebiasaan." ucapnya dengan melangkahkan kaki menuju kelasnya.
Setibanya di kelas, ia pun melihat wajah Tania yang sedang bersemi. Wajahnya yang tak lepas dari senyuman yang indah, dan bahkan membuat seisi ruangan menjadi heran. Karena hal yang dilakukan Tania sangat aneh, dan belum pernah terjadi sebelumnya.
" Tata." ucapnya dengan menepuk pundak Tania.
" Ara, lo buat kaget aja." ucapnya dengan menatap Naura.
" Habis kau senyum-senyum sendiri." ucapnya.
" Lo ini ganggu orang lagi happy aja." ucapnya dengan tatapan yang sangat tajam.
" Sorry, tapi kau lagi ngelamunin apa sih?" tanya Naura yang penasaran.
" Masih perlu di tanya, lo kan tau kalau tadi pagi gue di jemput sama Leo." ucapnya dengan tersenyum.
" Ya ampun, habis di apain kau sama kak Leo." ucap Naura yang penasaran.
" Ada deh." ucapnya kemudian pergi meninggalkan Naura, dan Naura hanya geleng-geleng kepala saja.
Tiba-tiba saja guru pun datang, kini mereka semua pun segera duduk di kursinya masing-masing. Pandangan guru itu terus tertuju pada Naura dan juga Tania, ia menyadari keanehan di wajah Tania dan langsung menanyakannya. Guru itu sangat penasaran dengan senyuman yang terukir di wajah Tania.
" Tania, tampaknya kau sedang bahagia sekali ya. Ibu dengar ayah dan bunda mu baru kembali, pasti kau sangat bahagia." ucap guru itu, dan di jawab dengan anggukan oleh Tania.
" Oh, pantas saja dia sangat bahagia. Ternyata dan ternyata karena orang tuanya baru balik, kalau gue jadi Tania gue pasti juga begitu." ucap salah satu di antara mereka.
" Mereka nggak tau aja, alasan kebahagiaan Tata sebenarnya bukan itu." batin Naura dengan mengelengkan kepalanya.
" Tata, kasih tau aku. Sebenarnya apa si yang dilakukan sama kak Leo?" tanyanya dengan berbisik.
" Ada deh, Lo nggak usa aneh-aneh. Jangan sampai mereka semua tau alasan yang sebenarnya, kalau sampai mereka tau berarti Lo nggak sayang sama gue." jawab Tania juga dengan berbisik.
" Iya, Lo ini kebiasaan tau. Dikit-dikit ngancem, nggak bosen apa." ucapnya.
" Suka-suka gue, yang penting happy." ucapnya dengan menunjukkan senyuman lebar.
" Yauda deh terserah mu." ucapnya yang sudah malas berbasa-basi.
" Baik anak-anak, kita mulai pembelajaran kita." ucap gue itu.
Pembelajaran pun berjalan dengan lancar, tidak ada kendala sedikitpun. Semua siswa tertip dalam belajar, dan semuanya berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan dadakan yang di berikan oleh Bu guru. Guru itu sangat bahagia, setelah bel berbunyi ia pun langsung pergi meninggalkan kelas.
" Ara, gue nggak salah lihat kan?" tanya Tania.
" Nggak Tata, aku juga melihatnya." ucap Naura.
" Kira-kira kesambet apa ya dia?" tanya Tania.
" Kau nanya aku, terus aku nanya siapa." ucap Naura.
Tiba-tiba saja Arga dan teman-temannya datang, ketiganya merasa heran dengan tingkah Naura dan juga Tania. Akhirnya mereka mengagetin keduanya.
" Dor, hehehe." ucap mereka dengan serentak dan tertawa.
" Nggak lucu tau." ucap Tania yang kesal.
" Maaf, habis kalian lucu tau." ucap Dion.
" Iya bener, kalian lagi mikirin apa sih?" tanya Ryan.
" Tuh, lihat aja sebelah sana." ucap Tania dengan menunjuk ke arah Zia.
" Itu Zia kan, terus ada apa sama dia?" tanya Dion yang penasaran.
" Coba kakak lihat dengan benar, ada apa dengannya." ucap Tania dan membuat ketiganya pun melihat ke arah Zia, tiba-tiba saja Zia menoleh dan ia pun tersenyum ke arah ketiganya. Sontak saja ketiganya kaget.
" Gue nggak salah lihat kan?" ucap Dion.
" Nah itu dia yang membuat kami kaget tadi." ucap Tania.
" Sepertinya harus di curigai." ucap Arga yang menatap dengan sinis.
" Iya bener itu, kita harus cari motif dibalik semua ini." ucapnya.
Ketiganya kemudian pun pergi meninggalkan kantin, dan mereka langsung berkumpul di tempat biasanya mereka membicarakan hal penting.
" Mereka sangat aneh." ucap Tania.
" Udalah, aku kapar ni. Mending kita pesan makan." ucap Naura dengan menarik tangan Tania.
" Yauda la, tapi tunggu. Bukannya kau nggak lapar ya tadi." ucap Tania.
" Setelah melihat kejadian tadi, aku jadi lapar." ucapannya.
" Iya juga, yauda ayuk." ucapnya dengan langsung pergi untuk memesan makanan.
...----------------...
Arga dan teman-temannya sudah sampai di tempat rahasia mereka, dan mereka pun mulai membicarakan tentang sikap Zia yang sangat aneh menurut mereka.
" We, menurut kalian Zia tadi sangat aneh kan?" tanya Ryan.
" Iya bener banget, gue jadi penasaran." Ucap Dion yang juga tidak percaya.
" Kalau gitu, kita harus selidiki. Sebenarnya ada apa dengan Zia." ucap Arga dengan semangat, dan semuanya pun mengangguk.
Mereka pun mulai menyusun rencana, untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Zia. Dan mereka tidak ingin Naura dan Tania kenapa-kenapa, karena itu mereka berusaha dengan sangat keras.
Sepulang sekolah, mereka pun segera pergi mengikuti Zia. Dan alangkah kagetnya mereka, ketika melihat Zia di jemput oleh seorang pemuda. Dan keduanya tampak sangat serasi, dan dalam seketika Arga mengingat sebuah nama.
Siapa ya kira-kira pemuda itu?