Naura Abiyasya

Naura Abiyasya
Nau 9



Arga akhirnya tersadar dari lamunannya, ia kemudian menarik tangan Naura menuju ruang kepala sekolah. Naura yang masih heran, dan bingung. ia tidak mengatakan apapun, ia hanya mengamati sekitar.


Mata Naura akhirnya melihat sosok yang pernah memujinya. Ya ia adalah kepala sekolah. Naura pun memberikan senyuman pada kepala sekolah.


" Kalian sudah sampai, silakan duduk!" ucap kepala sekolah dan memandang Naura dan Arga secara bergantian.


Naura masih tampak bingung, dan bertanya-tanya mengapa Arga membawanya ke dalam ruangan kepala sekolah. Namun, ia enggan untuk bertanya kepada Arga apalagi di depan kepala sekolah.


Mereka berdua pun menduduki kursi yang berada di depan meja kepala sekolah.


" Arga, Naura. Bapak tau seharusnya ini tidak seperti ini. Tapi bapak sudah tidak tau harus meminta bantuan kepada siapa lagi, untuk kamu Naura bapak tau kamu adalah siswa baru di sini. Namun, ketika melihat prestasimu bapak yakin kamu pasti bisa." jelas kepala sekolah untuk menetralkan suasana di dalam ruangan tersebut.


Namun, dengan penjelasan kepala sekolah bukannya Naura semakin tenang Naura justru semakin kebingungan apa sebenarnya niat ia dipanggil ke ruang kepala sekolah.


" Maaf pak sebelumnya, sebenarnya tujuan saya dipanggil ke sini itu apa ya pak?" tanya Naura yang merasa kebingungan, dan ia menatap ke arah Arga.


" Sebenarnya tujuan saya memanggil kamu Naura adalah agar kamu mau mewakili sekolah kita untuk olimpiade." jelas pak kepala sekolah, dan membuat Naura kaget.


Naura terdiam mendengar perkataan pak kepala sekolah, dan kembali menatap Arga.


" Sebenarnya, kalau bukan karena Arga. Saya tidak ingin meminta Naura, bukan karena apa. Tetapi karena Naura adalah anak baru di sekolah ini." batinnya dengan memandang Naura dan Arga secara bergantian.


" Tapi kan saya masih anak baru pak, apa tidak apa-apa pak?" tanya Naura yang masih ragu dengan keputusan kepala sekolah yang menunjuknya untuk mewakili sekolah.


" Tidak, bapak yakin kalau kamu bisa Naura." ucapnya meyakinkan Naura. Dan ia juga takut kalau Arga tidak akan mau mewakili sekolah, kalau bukan karena Naura ikut.


Naura menatap Arga untuk meminta jawaban, karena ia masih takut kalau suatu hari ia akan di sidang oleh banyak siswa.


Naura masuk dalam lamunannya, ia membayangkan kalau ia sampai di sidang oleh para siswa di sekolah itu.


Arga menepuk pundak Naura. " Aku yakin kalau kamu bisa Naura." ujarnya meyakinkan. " Kamu jangan takut, aku akan membantumu menghadapi semuanya." ia tersenyum dan menatap Naura.


Melihat wajah Arga, Naura akhirnya mengangguk pertanda ia setuju dengan keputusan kepala sekolah yang ingin mengirimnya ke olimpiade.


Mereka berdua pun pergi keluar ruangan kepala sekolah, dan pergi menuju kantin. Naura yakin kalau Tiara pasti menunggunya di kantin.


Setibanya mereka di kantin, semua mata memandang ke arah mereka berdua. Dan mata mereka seperti meminta jawaban tentang status hubungan Arga dan Naura.


Arga memasang wajah cuek seperti biasa. Namun, Naura tersenyum dan begitu ia melihat Tiara. Ia langsung berlari untuk memeluk Tiara.


Wajah Tiara tampak berbinar, dan pikirannya sudah mulai hanyut dan berlayar enta kemana. Karena mengingat kejadian yang ia lihat sebelumnya.


Dion dan Ryan juga sudah memasang wajah penasarannya, dan mulai mengedipkan matanya untuk meminta jawaban dari Arga, tentang hubungannya dengan Naura.


" Apa kalian pandang-pandang?" jawabnya ketus.


Karena tidak mendapat jawaban dari Arga, mereka mulai memandang Naura. Melihat tingkah ke-tiga orang itu, Naura merasa takut. Dan ia ingin melarikan diri. Namun, tiba-tiba perutnya berbunyi, yang menandakan kalau dia lapar.


Tiara dan Naura tertawa mendengar suara perut Naura.


" Lapar ya Nau, sini kau duduk biar aku pesankan makanan."


" Ok." jawabnya dengan mengodekan dengan jari.


Tiara langsung pergi ke meja kasir untuk memesankan makannya. Tidak perlu waktu lama akhirnya makanan yang di pesan untuk Naura akhirnya tiba.


Naura menyantap dengan sangat lahap. Ia tidak memperdulikan pandangan keempat orang di meja itu. Tiara dan Arga hanya tertawa tertawa melihat cara makan Naura.


Dion dan Ryan kaget, karena seingat mereka di jam pertama tadi Naura sudah makan. Mereka pun memutuskan untuk bertanya.


" Naura, bukannya tadi waktu jam pertama kau sudah makan ya?" tanya Dion yang sangat penasaran.


" Aku baru menghadapi rintangan yang membutuhkan tenaga besar, jadi ya begitulah... hehehe." ucapnya sambil tertawa.


" Naura, jawab yang benar. Mereka ini otaknya cetek." jelas Arga yang membuat Dion dan Ryan marah.


" Arga..." Teriak Dion.


" Apa" jawabnya datar.


Melihat wajah Arga, Dion pun menciut dan mengurungkan niatnya untuk marah. Tiara dan Naura hanya tertawa melihat tingkah mereka.


Tak terasa waktu pulang pun tiba, Naura berdiri di depan sekolah. Ia menunggu sang kakak Leo menjemputnya.


" Nau, mau ku antar?" tanya Arga yang tiba-tiba muncul dari belakang.


" Nggak usa kak, aku lagi nunggu jemputan." jawab Naura.


Tiba-tiba terdengar suara telakson mobil, dan ternyata itu adalah Leo.


" Dek ayo." panggil Leo


Arga kaget melihat siapa yang menjemput Naura. " itu kan kak Leo." ucapnya. Arga pun menghampiri mobil milik Leo.


" Kak Leo." panggil Arga


" Eh Arga, belum pulang?" tanya Leo


" Kakak kenal, sama kak Arga?" tanya Naura yang penasaran.


" Kenal dek, kan kakak lulusan sekolah ini." jelasnya dan Naura hanya mengangguk.


" Naura ini Adek kakak Leo?" tanya Arga yang penasaran.


" Iya, dia adek aku." jawab Leo, Arga semangkin kebingungan yang pikirannya melalangbuana memikirkan perkataan Leo.


" Kenapa, bingung ya?" tanya lagi.


Arga hanya terdiam dan mengangguk. Leo pun berniat menceritakannya. Namun, tiba-tiba telponnya berbunyi dan ternyata itu adalah ayahnya.


" Leo, kau dimana? sudah kau jemput Naura?" tanya sang ayah dari sebrang telepon.


" Iya ayah, ini Leo sudah di sekolah." jawab Leo.


" Ya sudah, cepat segera pulang!" perintah sang ayah yang tampak panik. Kemudian mematikan telepon.


Leo yang panik karena mendengar suara sang ayah yang panik pun berniat langsung menuju rumahnya. Ia sampai melupakan Arga yang masih menunggu jawaban.


" Arga, maaf kami harus segera pulang. Nanti lain kali kakak cerita. Tapi intinya kakak titip Naura ya! kakak tau Lo pasti bisa jaga Naura." jelas Leo yang kemudian melakukan mobilnya secepat mungkin karena sangat panik.


" Kak Leo aneh, tapi gpp yang penting aku bisa bebas dekat dengan Naura. Karena tadi kak Leo sudah memberikan peringatan untuk menjaganya." batinnya sambil tersenyum.


Tiba-tiba saja Dion dan Ryan muncul dan mengagetkan Arga. Arga sampai memegang jantungnya agar tidak lepas.


hai guys, sedikit pengenalan.



Nama : Ryan Wijaya


Status : Kakak kelas Naura dan Sahab Arga (anggota DRA).


Sifat : Kocak, dan cuek


hobby : basket